Salam dalam Dhamma,
Memang kalau tahi tidak dapat menjadi emas.Dhamma tetap Dhamma.Siapa yang membodohi masyarakat?Saya hanya mengusulkan bersikap bijaksana menyikapi masalah ini dan tidak perlu sengaja disebar luaskan ke masyarakat luas seperti acara khusus gosip di TV.Serta berhati-hati kalau ada member milis yang punya niat tidak baik karena setahu saya ini milis terbuka.
Untuk bersikap sombong mana yang terbaik buat masyarakat saya belum mampu.Saya hanya mampu menghimbau bersikap bijaksana untuk menanggapi informasi ini melalui milis ini
Mnemosynian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau jelek ya jelek aja, itu fakta yang tidak bisa diubah.
Mau digembar-gemborkan spt apa, dhamma ya tetap dhamma, meskipun mungkin
3000 tahun lagi tidak ada lagi kata 'budha'.
Masyarakat itu tidak bodoh, dan tidak perlu dibodohi. Mereka yang
membodohi masyarakat akan tergilas.
Apakah kita demikian sombong menilai diri kita tahu mana yg terbaik buat
masyarakat?
hanry uttamo wrote:
> Namo Buddhaya,
> Saya kira member milis Buddhist harus benar2 wise menyikapi hal ini.
> Benar atau tidaknya masalah2 ini, hendaknya jangan digembar gemborkan
> dan menjadi sasaran empuk pihak lain yang hendak menjelekkan
> Buddhisme.Bgmanapun juga sosok figur yg jelek akan berdampak negatif
> di masyarakat. Tolong moderator pikirkan hal ini. Saya takut ada
> member milis yg berasal dr pihak luar...........
> regards
> beng
>
> */Lusiana Aryani <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
>
> Membaca surat pernyataan Bhikkhu Suddhamacaro di bawah ini, saya
> terkejut, merinding, kecewa, sedih, nelangsa, dan banyak perasaan
> lain bercampur aduk, susah dijelaskan. Tapi saya merasa lega juga
> karena kebenaran akhirnya terungkap juga ke masyarakat yang lebih
> luas. Kita semua sebagai umat awam dari vihara-vihara yang berbeda
> pasti akhir-akhir ini juga banyak mendengar konflik dan gossip
> mengenai bhikhhu-bhikkhu terutama yang senior. Ada yang
> menggelapkan dana, bahkan hingga bhikkhu ketua vihara Dhammajaya
> yang selama ini dikenal sebagai upajaya, yang punya hubungan
> asmara dengan seorang janda. Oh tragis sungguh tragis . Tak tahu
> lagi harus bagaimana dengan mereka yang berjubah itu tapi
> kelakuannya menyedihkan ..
> Sebenarnya sih saya menulis surat ini karena terpancing oleh
> pujian Bhikkhu Suddhamacaro terhadap Andrie Wongso. Kesannya kok
> Andrie Wongso lebih baik daripada seorang Bhikkhu. Padahal setau
> saya kalau soal perempuan Andrie Wongso itu mana ada bedanya
> dengan bhikkhu2 palsu itu . Saya tahu Andrie Wongso hobi sekali
> merayu2 dan menggoda perempuan terutama penggemar2nya. Bahkan saya
> pernah dengar khabar ada seorang wanita yang murka karena
> mengalami pelecehan seksual oleh Andrie Wongso. Saya jelas tidak
> heran dengan berita itu karena saya punya teman cewek (cukup
> akrab) yang juga menjalin hubungan gelap dengan Andrie Wongso
> beberapa lama, ia beragama Buddha juga. SAYA MELIHAT SENDIRI sms2
> yang dikirim oleh Andrie Wongso (karena ditunjuki oleh teman saya
> itu) yang bernada mesra, merayu2 hingga mengajak melakukan
> hubungan seks (cek-in) di sebuah hotel berbintang. Pokoknya
> sinting bin gila deeeeh !! Aneh tapi nyata !!! Dasar hidung
> belang ! Padahal Andrie Wongso punya anak perempuan kan ya, tapi
> kok kelakuannya seperti tidak kenal/takut pada hukum karma gitu
> sih. Saya pernah membujuk teman saya itu untuk melaporkan sms2
> kiriman Andrie Wongso (yang setau saya sampai sekarang masih dia
> simpan semua) ke bhikkhu2 senior STI karena teman saya itu merasa
> dirugikan akibat hubungan tersebut. Tapi kalo sekarang fakta sudah
> terungkap begini kan sama saja dengan melaporkan maling kepada
> maling . Ancur lah ini tokoh2 Buddhis kita ini. Lain kali saya
> akan menyarankan teman saya ini untuk lapor ke bu Lenny istri
> Andrie Wongso saja, pasti lebih ada manfaatnya. Well lets see......
> Nah sekarang bagaimana perasaan anda semua membaca surat saya?
> Bingung? Terkejut? Percaya? Tidak percaya? Pokoknya believe it or
> not, kejadian2 ini menggugah kesadaran kita semua bahwa ternyata
> organisasi agama Buddha hanya dipenuhi dengan tokoh2 yang tidak
> bersungguh2 punya tanggung jawab moral, baik yang bertitel bhikkhu
> maupun motivator. Semuanya hanya musang berbulu domba. Pada
> akhirnya kita umat awam biasa harus pandai-pandai memilah dan
> memilih, jangan sampai terjebak dan mendukung perbuatan2 tidak
> terpuji mereka tanpa kita sadari. Saya membayangkan setelah ini
> pasti bhikkhu2 yang tersindir akan membela diri mati2an di hadapan
> umat terutama yang biasa memberi sumbangan dana dalam jumlah
> besar. Sedangkan Andrie Wongso akan tetap pede tampil di depan
> umum, dan akan semakin bicara soal keharmonisan hubungan
> keluarga/suami istri, dsb. Wajarlah semua itu kan karena ingin
> mempertahankan sumber mata pencaharian. Tapi kita bisa melihat
> masalah ini sebagai fenomena Dhamma (meminjam istilah Bhikkhu
> Suddhamacaro), di mana perbuatan buruk itu tidak akan pernah dapat
> ditutupi selamanya. Sang Buddha juga pernah berkata hal yang sama.
> Akhir kata, mari kita berhati-hati sendiri dalam bertindak karena
> percayalah kita tidak lagi punya panutan selain sabda2 asli Sang
> Buddha. Dan semoga dengan terungkapnya fakta2 menyedihkan ini,
> semua orang yang mengaku mengenal/memahami Dhamma, mau dan mampu
> melaksanakannya dengan benar demi ketenteraman dan kebahagiaan
> semua mahluk, baik itu Bhikkhu2 STI, Bhikkhu Suddhamacaro sendiri,
> Andrie Wongso, umat2 sekalian dan juga saya. Karena karma kan
> tanggung jawab masing-masing penumpang .
> Namo Buddhaya,
> Lusi
>
>
> */sutedja tj <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
>
> --- Bhikkhu Sudhammacaro <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> > Date: Wed, 19 Apr 2006 19:28:24 -0700 (PDT)
> > From: Bhikkhu Sudhammacaro
> > <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: Klarifikasi, Kronologis pengunduran diri
> > bhikkhu Sudhammacaro dari STI
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > FENOMENA DHAMMA
> > (UNTUK KALANGAN SENDIRI)
> >
> >
> > Klarifikasi
> > Kronologis pengunduran diri bhikkhu Sudhammacaro
> > dari STI
> > ( Yang perlu diketahui oleh semua Umat Buddha)
> >
> > Aparihaniya Dhamma ada 7 macam :
> >
> > Berusahalah
> >
> > Sering atau banyak membuat perjumpaan (rapat)
> > Sanggha.
> > Dalam Rapat harus bersama sehati dan sepikiran
> > (setujuan) dalam memecahkan segala masalah/persoalan
> > dengan cara yang benar, adil dan bijak bukan
> > sebaliknya, berkumpul dan berpisah secara bersama.
> > Tidak menambah dan membuat Peraturan Baru yang
> > sudah ditentukan oleh Buddha (sebagai Guru
> > Junjungan), dan tidak Menguranginya, namun tetap
> > menjaga/melestarikan dan melaksanakan tugas yang
> > sudah digariskan oleh Buddha dalam Dhamma Winaya
> > (227.peraturan disiplin bhikkhu).
> > Selalu menghormati bhikkhu senior (Thera) yang
> > hidup sesuai dengan Dhamma Winaya, yang dianggap
> > sebagai orang tua bagi para bhikkhu yunior, mau
> > mende ngar petuahnya.
> > Tidak bertujuan untuk menguasai Tanha (nafsu
> > keinginan) yang akan membawa kelahiran kembali (ke
> > alam rendah dan menderita).
> > Masih memliki semangat untuk bertinggal di hutan
> > dalam menyepi.
> > Menjaga Sati (perhatian murni) dan berpikir
> > bagaimana untuk membuat kecintaan bagi para bhikkhu
> > yang disiplin, baik yang sudah bersama juga bagi
> > yang belum datang.
> >
> > Seorang bhikkhu yang hidup tidak sesuai
> > dengan Dhamma Winaya adalah Penipu terbesar dan
> > yang paling jahat di dunia ini, apalagi
> > membuat/menambah peraturan baru diluar Dhamma
> > Winaya.(tempatnya Neraka, Peta, Asura, Hewan,
> > setelah mati)
> >
> > Sabda Buddha Gotama.
> >
> >
> > Secara singkat saya tulis disini
> > Pada tanggal 13 Maret 2006, saya (Bhikkhu
> > Sudhammacaro) diundang rapim STI di Wihara
> > Dhammacakkajaya Jakarta Utara, saya belum tahu apa
> > tujuannya? Begitu masuk ruang serba guna Narada,
> > saya dipersilahkan duduk dibagian depan dalam rapim
> > STI, saya duduk dan mengeluarkan buku Paritta Mantra
> > & Nama Buddhis yang saya terbitkan (Sri Manggala)
> > karena saya telah punya firasat ada permasalahan
> > menyangkut buku itu.
> > Dibagian meja pimpinan rapim STI duduk sejajar 4
> > orang Bhikkhu senior.
> >
> > Rapim STI itu dibuka oleh Bhikkhu ke-1 tersebut
> > dengan menyampaikan permasalahan berkenaan dengan
> > penerbitan buku yang saya cetak penerbit Sri
> > Manggala, lalu disambung oleh Bhikkhu ke-2 yang
> > langsung menunjukkan buku-buku Dhamma terbitan Sri
> > Manggala khususnya buku Paritta Mantra & Nama
> > Buddhis itu, yang menurutnya banyak menimbulkan
> > keresahan dikalangan umat Buddha di Indonesia.
> > Antara lain terjemahannya tidak sama dengan isi
> > dari terbitan STI, padahal STI baru saja menerbitkan
> > buku Paritta Suci, juga ada Mantra bermacam corak
> > yang selama ini belum pernah ada, dan selain isi
> > terjemahan ada juga kata pengantar yang isinya
> > banyak menyinggung seorang bhikkhu dll.
> >
> > Selanjutnya pembicara: Bhikkhu ke-3 sambil membawa
> > catatan kecil membacakan tuntutan antara lain bahwa
> > isi buku Paritta Mantra & Nama Buddhis melanggar
> > Dhamma boleh disebut ADhamma yang akibatnya bisa
> > menyesatkan orang banyak, bisa berakibat masuk ke
> > alam neraka, sebab Mantra itu berbahaya, juga
> > mengatakan : Kamu ini belum belajar bahasa Pali
> > kenapa berani menerjemahkan buku Dhamma, maka isi
> > terjemahannya banyak yang salah, kamu (B.
> > Sudhammacaro) menulis, bahwa: Umat Buddha tidak
> > perlu bikin wihara, sekolah apalagi universitas,
> > kalau begitu kamu mau tinggal dimana? Apa kamu hanya
> > mau menerbitkan buku saja? Dengan kenyataan ini kamu
> > bertentangan dengan progam STI. (padahal Bhikkhu
> > ke-3 ini pacaran dengan janda kelapa gading
> > bertahun-tahun, umat Jakarta hampir semua tahu
> > sampai rebutan dengan pria lain, hal ini justru
> > contoh paling jahat, tapi tidak disebut ADhamma ?).
> >
> > Bhikkhu ke-2 dan Bhikkhu ke-3 menyatakan bahwa
> > Bhikkhu Sudhammacaro sudah tidak dapat diterima lagi
> > sebagai anggota STI, dengan demikian maka Bhikkhu
> > Sudhammacaro harus dikeluarkan dari STI, tapi untuk
> > menjaga nama, maka sebaiknya Bhikkhu Sudhammacaro
> > menyatakan Pengunduran Diri saja, mereka meminta
> > agar saya menulis surat pernyataan pengunduran diri
> > langsung dengan tulisan tangan, yang kemudian saya
> > jawab saya tidak berniat keluar dari STI, tapi jika
> > dipaksa maka saya minta waktu tiga bulan, dengan
> > pertimbangan bahwa, barangkali pada saat itu (rapim)
> > mereka STI dalam keadaan emosi, terhasut dan
> > dikompori oleh gerakan umat yang tidak suka/benci
> > kepada saya akibat tulisan saya di buku itu, yang
> > merasa terhalang ambisinya untuk membangun sekolah
> > dan universitas. Terutama bagi sekelompok bhikkhu
> > dan umat yang berambisi ingin membangun sekolah dan
> > universitas yang hanya dengan modal Dengkul, hal
> > ini sangat berbahaya juga bisa dikategorikan
> > Anantariya Kamma atau 5 garuka
> > kamma yakni: 1. Membunuh Ibu. 2. Membunuh Ayah. 3.
> > Membunuh Arahat. 4. Melukai Buddha. 5. Memecah belah
> > Sanggha. Sebab itu umat juga harus belajar Dhamma
> > dengan baik dan benar.
> >
> > Setelah saya meminta waktu tiga bulan tidak
> > diterima saya dengan hati pedih, rela menulis surat
> > yang isinya menyatakan Pengunduran Diri dari STI,
> > padahal saya memberi waktu tiga bulan itu untuk
> > memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpikir
> > secara jernih dan tenang dengan kepala dingin, bukan
> > dengan cara emosi dalam menyelesaikan segala
> > permasalahan, saya ingin sekali mendidik dan
> > mengajar atau membimbing mereka dalam kehidupan
> > bhikkhu yang benar harus sesuai dengan Dhamma
> > Winaya, agar hasilnya maksimal, membawa berkah bagi
> > umat dan membawa kemajuan batin bagi para
> > bhikkhunya, namun apa boleh buat.
> > Tapi rupanya ditanggapi salah pengertian, sungguh
> > kasihan sekali kelak akibatnya wah berat Saat ini
> > kammanya belum berbuah, tapi ingat! Kamma atau
> > perbuatan apapun tidak akan meleset terhadap si
> > pembuatnya, hanya tinggal tunggu waktu saja.
> >
> > Jawaban dari saya (bhikkhu Sudhammacaro)
> > Dalam Rapim tsb, saya diberi kesempatan untuk
> > menjawab, lalu yang pertama saya jawab ialah bahwa:
> > Isi kata pengantar dalam buku Paritta Mantra &
> > Nama Buddhis itu sebenarnya Cerita Basi artinya
> > peristiwa/kejadiannya itu sudah berlalu lama bahkan
> > bertahun-tahun dan semua tulisan itu ada buktinya,
> > saya hanya merangkum dan menuliskan dalam sebuah
> > buku hasil dari penelitian/riset dan survey saya ke
> > beberapa kota dan daerah di Indonesia dan luar
> > negri, yang tujuannya untuk mengingatkan semua pihak
> > yakni umat, bhikkhu, pandita, cendikiawan, tokoh,
> > pemuka Buddhis, bahwa kejadian seperti misalnya yang
> > ditulis tentang pembagian Dana Kathina itu harus
> > terbuka (transparant) pakai catatan, berapa
> > pendapatannya, lalu dibagi sesuai peraturan yang
> > telah diputuskan oleh STI, namun kenyataan telah
> > berulang kali setiap Kathina dana pembagiannya tidak
> > jelas, tidak teratur, tidak sama rata, karena tidak
> > menggunakan catatan secara terbuka dan benar, setiap
> > bhikkhu yang ikut hadir ada
> > yang diberi dana alakadarnya mereka tidak berani
> > menuntut, tapi dibelakang selalu
> > mengeluh/menggerutu.
> > Padahal pengelolanya adalah para bhikkhu senior
> > yang harus bertanggung jawab, seperti kepala dan
> > wakil wihara Dhammacakkajaya Jakarta itu, wihara
> > Ratana Graha Jakarta kepala wiharanya, juga wihara
> > Dhammadipa Arama batu Malang kepala wiharanya,
> > wihara Samaggi Jaya kepala wiharanya, wihara Buddha
> > Sasana desa Baro Buneng, Blitar kepala wiharanya,
> > wihara Dharma Jaya Surabaya, wihara Dhammadipa
> > Pandegiling-Surabaya, dan masih ada yang lainnya.
> >
> > Saya menerjemahkan buku Paritta Mantra & Nama
> > Buddhis dari bahasa Thailand dan bukan dari bahasa
> > Pali, sedangkan isi terjemahan itu secara bebas,
> > namun pokok dan intinya tetap sama, utuh, sebab
> > menerjemahkan buku dari bahasa asing terutama Pali
> > tidak mudah, saya sendiri tidak berani sebab merasa
> > belum belajar bahasa Pali, tapi saya menerjemahkan
> > dari bahasa Thailand, lagipula terjemahan secara
> > leterlek/kata perkata hasilnya kurang tepat dan
> > susah tidak dapat dimengerti oleh umat, bahkan oleh
> > orang pandai sekalipun, contohnya mengapa buku
> > Tipitaka terjemahannya ada Tika dan Matika atau
> > Komentar dan Sub Komentar? Hal ini untuk menguraikan
> > pokok-pokok inti Dhamma yang terkandung didalam
> > kata-kata itu (sabda Buddha yang sangat dalam,
> > halus, sulit).
> > : Jawaban saya membuktikan bahwa Bhikkhu ke-3
> > salah menuduh, dengan mengatakan bahwa Bhikkhu
> > Sudhammacaro belum belajar bahasa Pali tapi berani
> > menerjemahkan buku Dhamma bahasa Pali, hal ini pasti
> > membacanya karena dengan emosi atau iri-hati, sirik,
> > atau Arogansi tidak mau kalah, hanya berlagak suci
> > dan pinter merasa punya title M.A. padahal kosong
> > melompong bagaikan Tong Kosong tapi Nyaring
> > Bunyinya.
> > Karena sampai saat ini tidak punya hasil karya
> > buku yang ditulisnya, hanya bermulut besar bersilat
> > lidah dan hidung merah dan hanya pandai pacaran
> > dengan Janda (sudah mati stress mungkin karena tidak
> > dikawin dan sedang menunggunya), mengumpulkan uang
> > untuk jalan-jalan keluar Negri itulah karyanya.
> > Kalah dengan Andrie Wongso yang menyatakan
> > bahkan tidak Tamat S.D (TTSD), tapi hasil karyanya
> > melejit hingga bisa disebut sebagai Motivator no.1
> > di Indonesia, dan bukunya bagus digemari oleh banyak
> > orang sekaligus bermanfaat. Pikirkan!
> >
> > Di Thailand Negara Buddhis yang ketat saja di satu
> > wihara banyak buku Paritta tapi saling berbeda isi
> > terjemahannya, juga alunan suaranya tidak sama satu
> > wihara dengan yang lain, tapi tidak membuat para
> > bhikkhu jadi Arogan, sebab yang pentingnya adalah
> > bahasanya bisa dimengerti, semua umat tetap
> > menggunakan. Mereka sangat memahami bahwa hasil
> > terjemahan setiap orang pasti ada sedikit perbedaan
> > dalam penafsiran, namun pada pokok intinya tetap
> > sama, inilah yang belum disadari oleh para bhikkhu
> > STI karena kurangnya apa .? Atau saking ?
> > Buku Paritta Mantra & Nama Buddhis ini banyak
> > beredar di wihara-wihara di Thailand dan bercorak
> > ragam isinya bahkan ada ramalan nasib, hong shui,
> > perjodohan, cari nomor lotre/togel, shio, dst Bhante
> > Win Vijjano (Phra Rajwaracharn) bhikkhu Dhammaduta
> > Thailand bertinggal di wihara Buddha Metta Jakarta,
> > juga mencetak buku Paritta & Mantra bahasa Thailand
> > saya ada bukunya disimpan sebagai bukti.
> > Tapi saya seleksi dengan menyesuaikan sikon umat
> > Buddha di Indonesia, berdasarkan laporan dan
> > permohonan serta keluhan umat dalam menghadapi
> > segala macam kesulitan hidup dan mengharapkan bisa
> > ada bantuan dari cara agama Buddha, melalui apa saja
> > yang penting sesuai dengan Dhamma, inilah sebenarnya
> > latar belakang saya mengapa berani menerbitkan buku
> > Paritta Mantra & Nama Buddhis, dengan tujuan demi
> > kemajuan dan perkembangan agama Buddha, yang
> > sementara ini saya melihat dan menilai masih jauh
> > dari harapan saya, sungguh kasihan...
> >
> > Saya tidak melarang umat membangun wihara dan
> > sekolah tapi yang dimaksudkan ialah bahwa umat
> > Belum Waktunya membangun wihara megah, mewah,
> > mahal, dan membangun sekolah, apalagi universitas
> > karena SDM (tenaga pengajar dll belum siap,
> > contohnya banyak sekolah Buddhis yang sudah ada
> > setelah berjalan 2-5 th saja sudah dikuasai oleh
> > yang lain (Bukan Buddhis), umat Buddha hanya pandai
> > membangun sekolah dan wihara tapi belum cermat
> > mengelola).
> > Demikian pula wihara dibangun besar, mewah, megah
> > dengan biaya mahal tapi setelah selesai terjadi
> > konflik sebab ada peraturan yang dibuat/tambahan
> > oleh STI diluar Dhamma Winaya dan tidak mengikuti
> > Dhamma Winaya akhirnya muncul konflik lalu wihara
> > ditinggalkan terlantar contoh: Wihara di Gorontalo,
> > wihara di Menado, wihara Karuna dipa di Palu, wihara
> > di Paguyaman Sulteng, wihara Buddhagaya Watu Gong
> > Semarang, wihara Dhamma Jaya Surabaya dan ada 4
> > wihara besar, megah, tapi bhikkhu tertentu tidak
> > boleh tinggal, dilarang oleh Padesanayaka Jatim
> > (bhikkhu X), padahal Pengurusnya memohon dengan
=== message truncated ===
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
