Topik ini sempat kita angkat pada pertemuan KPD pertama angkatan VIII,
sewaktu membahas mengenai makanan. Saya hanya tergelitik, mengingat
ada yang mengatakan bahwa, "Tidak apa-apa membunuh hewan, kalau itu
untuk dijadikan obat, karena karma buruknya adalah kecil, dibandingkan
dengan kita membunuh dengan didasari moha,lobha,dan dosa." Disatu
sisi, saya melihat bahwa apa yang dikatakan ada benarnya, bahwa
(mungkin) karma buruknya lebih kecil, tapi disatu sisi lagi, saya
lihat bahwa ini lebih merupakan pembenaran diri.
Mungkin kita perlu terlebih dahulu untuk bertanya pada diri kita
sendiri. Apakah kita menganggap hewan tersebut sebagai "makhluk hidup"
atau "binatang". Apabila kita telah me-label-i dalam pikiran kita, itu
"binatang", berbagai persepsi kita seperti "pantas mati toh cuma
binatang", "makhluk bodoh", "memang diciptakan untuk kita makan",
"derajatnya lebih rendah", dan lain sebagainya, dan lain sebagainya,
mungkin masih ada yang lain. Tetapi apabila benar, bahwa kita
menganggap itu sebagai "makhluk hidup", maka kita melihatnya sebagai
makhluk yang punya hak hidup yang sama dengan manusia, yang juga
mempunyai pikiran, mempunyai rasa takut, mempunyai kasih sayang.
Contohnya, ada yang dari kita mungkin tahu bagaimana laba-laba
mengorbankan dirinya untuk dimakan setelah melahirkan anak-anaknya,
dan masih banyak contoh lainnya. Ada juga salah satu anggota yang
sharing kepada saya sewaktu berdiskusi, dia begitu tersentuh, melihat
sekelompok kambing, dimana salah satu anak kambing terpisah dari
kelompoknya, kemudian begitu sang induk melihat ada anaknya yang
terpisah kemudian mengeluarkan suara "Mbek..." seperti memanggil
anaknya, dan anaknya itupun menatap induknya dan kembali dalam
kelompok. Mungkin pertanyaan ini bukan untuk dijawab atau
diperdebatkan, tetapi lebih untuk membuat kita memeriksa batin kita,
apakah kita seorang Buddhis, apakah kita telah benar-benar menganggap
dan melaksanakan apa yang disebut sabbe satta bhavantu sukkhittata?
Beberapa waktu lalu, bro Gun, ada bertanya, kira-kira apa yang membuat
kita menjadi seorang buddhis, sebenarnya itu juga ada pertanyaan
perenungan, bagi kita semua, apakah kita bener-bener telah menjadi
seorang Buddhis, apakah layak kita diseut sebagai murid dari Buddha?
Kembali pada masalah makhluk hidup, ada cerita yang cukup
menginspirasi dari buku Mencintai Kehidupan sbb:
Seratus Nyawa (dari buku Mencintai Kehidupan, penerbit Dian Dharma)
"Apakah kamu merasa lebih baik hari ini?" tanya Fan kepada istrinya.
Dia tahu istrinya menderita penyakit TBC yang tidak mudah untuk
disembuhkan. Dan dia selalu menjaganyaengan lembut dan sepenuh hati.
"Terima...kasih...atas...perhatianmu," isterinya berkata dengan
terengah-engah karena kesakitan.
Fan telah meminta dokter terbaik di Ching-k'ou, ch'en Shihying untuk
mengobati istrinya. Dan dokter Ch'en memeriksa perempuan itu dengan
hati-hati dan menyuruh Fan untuk menunggu.
"Karena dia cukup parah, satu-satunya cara untuk mengobatinya, " kata
dokter tersebut, "Ambillah seratus kepala burung pipit, dan buat
mereka menjadi obat sesuai resep ini. Kemudian pada hari ketiga, dan
ketujuh otak burung-burung pipit tersebut dimakan. Itulah caranya. Ini
merupakan resep rahasia turun-temurun dari nenek moyangku, dan resep
ini tidak pernah gagal. Ingat, kamu harus mempunyai seratus burung
pipit. Kamu bahkan tidak boleh kekurangan satu pun."
Fan ingin sekali menolong istrinya, sehingga dia langsung pergi
membeli seratus burung pipit. Burung-burung itu berdesakan dalam satu
sangkar yang besar. Mereka menciap-ciap dengan sedih sebab sangkar itu
terlalu sempit bagi mereka untuk menempatkan diri mereka sendiri.
Bahkan mungkin mereka tahu bahwa mereka akan dibunuh.
"Apa yang akan kau lakukan terhadap burung-burung tersebut?" tanya
Nyonya Fan.
"Ini resep spesial dari dokter Ch'en!Kita akan membuat mereka menjadi
obat dan kamu akan segera sembuh," suaminya menjawab dengan gembira.
"Tidak jangan lakukan itu!" seru Nyonya Fan yang duduk diatas
ranjangnya. "Kamu tidak boleh mengambil seratus nyawa untuk
menyelamatkan satu nyawa! Lebih baik aku mati daripada membiarkan kamu
membunuh semua burung pipit itu untukku!"
Fan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Jika kamu benar-benar mencintai aku," Nyonya Fan melanjutkan,
"Lakukan sesuai dengan permintaanku. Bukalah sangkarnya dan biarkan
semua burung pipit itu pergi. Jika kau lakukan hal itu aku akan mati
dengan tentram."
Maka Fan mengambil sangkar itu dan membawanya ke hutan, kemudian dia
membebaskan sertaus ekor burung pipit itu. Mereka terbang ke
semak-semak dan pohon-pohon dan bernyanyi serta menciap-ciap. Mereka
tampak begitu senang menikmati kebebasan.
Beberapa hari kemudian Nyonya Fan dapat bangun dari ranjang walaupun
dia tidak minum obat apa pun. Teman-teman dan saudara-saudaranya
berdatangan untuk mengucapkan selamat kepadanya atas kesembuhannya
yang cepat dari penyakit tersebut. Dan semuanya sangat senang.
Tahun berikutnya keluarga Fan mendapatkan bayi laki-laki. Dia amat
sehat dan lucu, dan anehnya disetiap lengannya terdapat tanda lahir
seperti burung pipit.
<Selesai>
Kalaupun setelah itu Nyonya Fan tidaklah sembuh, tetapi dia telah
memberikan manfaat yang besar bagi berlangsungnya kehidupan 100 ekor
burung pipit lainnya.
Tentu saja, saya akan mengatakan diri saya munafik apabila bisa
seperti Nyonya Fan, saya mungkin tetap akan mengorbankan 100 ekor
burung pipit tersebut, dan "Ego" kami akan berdalih dengan mengatakan,
jadi saya masih bisa tetap hidup, untuk bisa membahagiakan orang tua
saya, saya masih bisa melakukan 100 perbuatan baik lainnya untuk
kemudian dipersembahkan kepada 100 ekor burung pipit yang telah
berkorban untuk saya. Tetapi saya juga akan menjadi munafik apabila
saya mengatakan bahwa kedepannya saya akan benar-benar melakukan 100
perbuatan bajik tersebut dan mempersembahkannya kepada 100 ekor burung
pipit tersebut. Pada akhirnya ini hanya menjadi teori belaka, setelah
melihat secara mendalam, dan benar-benar dikupas secara mendalam,
ternyata alasannya hanya satu, yaitu sang ego mengatakan SAYA masih
ingin hidup dan tidak begitu ambil pusing apakah makhluk lain juga
ingin hidup atau tidak, dan masih tetap berpegang pada hukum rimba
bahwa yang lebih kuat lah yang menang dan bisa bertahan hidup.
Terlepas dari semua itu, saya ingin menjadi manusia yang lebih baik,
minimal saya bisa seperti Nyonya Fan, itulah sebabnya saya melirik
pada latihan hidup berkesadaran, bagaimana dengan anda?
Tulisan-tulisan saya bisa diartikan secara harafiah sebagaimana
adanya, bisa juga secara simbolis, dimana kita demi sang ego sering
mengorbankan dan menjatuhkan pihak lain untuk kepentingan pribadi
kita. Kita juga sering mengorbankan sisi spirtiual kita demi
kenikmatan-kenikmatan indriya, padahal kalau dalam berteori, kita
tahu, bahwa kebahagian itu letaknya didalam, bukan diluar, kita juga
mungkin bisa bercerita dengan begitu hebat dan mungkin menyentuhnya,
bagaimana seekor anjing yang mencoba meraih ekornya (kebahagian),
tetapi anjing yang lain yang lebih bijak tetap jalan kedepan, dan
dengan sendirinya ekornya (kebahagian) telah mengikutinya, tapi apakah
benar hal tersebut telah benar-benar kita praktekkan dalam kehidupan
kita? Kalau saya pribadi, setelah melihat secara mendalam, ternyata
dalam pikiran saya telah dilabeli satu mantra ajaib, "Om money, come
to my home", ini adalah mantra contekan dari ko Jimmy, dimana kita
terlalu sering mengejar sesuatu yang bersifat material, bentuk yang
indah, warna yang indah, sesuatu yang tangible, dan menganggapnya
sebagai sesuatu yang harus kita miliki untuk bisa bahagia, dan pada
akhirnya saya malah bukan hanya tidak menikmati prosesnya yang ada
saat ini, tetapi juga saya telah mengorbankan sifat ke-Buddha-an
dengan menggantinya dengan ketamakan, kesombongan, dan lain sebagainya.
Akhir kata, Bawalah ajaran yang begitu indah ini dalam kehidupan anda,
bukan hanya jadi "obrolan panas (hot gossip)" di kepala. Marilah kita
menjadi Nyonya Fan bagi semua makhluk, juga bagi kehidupan spiritual
kita sendiri.
Meminjam sebuah slogan iklan (dan dirubah sedikit): "Sudahkah anda
bahagia hari ini?"
Regards,
Kate - Tim KPD Angkatan VIII
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
