Bagus dan menyentuh sekali.

Dikantorku, org menganggap ini adalah hal yang biasa.
Ketika mereka tahu aku vege, mereka bertanya kenapa?
sambil melihatku dengan aneh. Aku tahu kira kira apa
yang ada dipikiran mereka.

krn berbeda prinsip, maka aku hanya bilang "Anggaplah
binatang tdk punya pikiran yang sebaik manusia,
anggaplah binatang (yg menurut ajaran lain) adalah
paling rendah derajatnya, terserah apa anggapan semua
manusia pada umumnya. TAPI AKU TAHU SATU HAL, BINATANG
PUNYA PERASAAN. TAHU RASANYA sakit bila ditendang,
SAKIT klo dipotong/ dibunuh.

Mereka bilang iya sih klo dipotong ya sakit sambil
senyum-senyum melecehkan dan pergi. AStaganaga. Tapi
mereka tidak pernah tanya lagi, kenapa aku v-ge?








--- Neir Kate <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Sekuntum Teratai untuk anda semua para calon Buddha
>
> Topik ini sempat kita angkat pada pertemuan KPD
> pertama angkatan VIII,
> sewaktu membahas mengenai makanan. Saya hanya
> tergelitik, mengingat
> ada yang mengatakan bahwa, "Tidak apa-apa membunuh
> hewan, kalau itu
> untuk dijadikan obat, karena karma buruknya adalah
> kecil, dibandingkan
> dengan kita membunuh dengan didasari moha,lobha,dan
> dosa." Disatu
> sisi, saya melihat bahwa apa yang dikatakan ada
> benarnya, bahwa
> (mungkin) karma buruknya lebih kecil, tapi disatu
> sisi lagi, saya
> lihat bahwa ini lebih merupakan pembenaran diri.
>
> Mungkin kita perlu terlebih dahulu untuk bertanya
> pada diri kita
> sendiri. Apakah kita menganggap hewan tersebut
> sebagai "makhluk hidup"
> atau "binatang". Apabila kita telah me-label-i dalam
> pikiran kita, itu
> "binatang", berbagai persepsi kita seperti "pantas
> mati toh cuma
> binatang", "makhluk bodoh", "memang diciptakan untuk
> kita makan",
> "derajatnya lebih rendah", dan lain sebagainya, dan
> lain sebagainya,
> mungkin masih ada yang lain. Tetapi apabila benar,
> bahwa kita
> menganggap itu sebagai "makhluk hidup", maka kita
> melihatnya sebagai
> makhluk yang punya hak hidup yang sama dengan
> manusia, yang juga
> mempunyai pikiran, mempunyai rasa takut, mempunyai
> kasih sayang.
> Contohnya, ada yang dari kita mungkin tahu bagaimana
> laba-laba
> mengorbankan dirinya untuk dimakan setelah
> melahirkan anak-anaknya,
> dan masih banyak contoh lainnya. Ada juga salah satu
> anggota yang
> sharing kepada saya sewaktu berdiskusi, dia begitu
> tersentuh, melihat
> sekelompok kambing, dimana salah satu anak kambing
> terpisah dari
> kelompoknya, kemudian begitu sang induk melihat ada
> anaknya yang
> terpisah kemudian mengeluarkan suara "Mbek..."
> seperti memanggil
> anaknya, dan anaknya itupun menatap induknya dan
> kembali dalam
> kelompok. Mungkin pertanyaan ini bukan untuk dijawab
> atau
> diperdebatkan, tetapi lebih untuk membuat kita
> memeriksa batin kita,
> apakah kita seorang Buddhis, apakah kita telah
> benar-benar menganggap
> dan melaksanakan apa yang disebut sabbe satta
> bhavantu sukkhittata?
> Beberapa waktu lalu, bro Gun, ada bertanya,
> kira-kira apa yang membuat
> kita menjadi seorang buddhis, sebenarnya itu juga
> ada pertanyaan
> perenungan, bagi kita semua, apakah kita bener-bener
> telah menjadi
> seorang Buddhis, apakah layak kita diseut sebagai
> murid dari Buddha?
>
> Kembali pada masalah makhluk hidup, ada cerita yang
> cukup
> menginspirasi dari buku Mencintai Kehidupan sbb:
>
> Seratus Nyawa (dari buku Mencintai Kehidupan,
> penerbit Dian Dharma)
>
> "Apakah kamu merasa lebih baik hari ini?" tanya Fan
> kepada istrinya.
> Dia tahu istrinya menderita penyakit TBC yang tidak
> mudah untuk
> disembuhkan. Dan dia selalu menjaganyaengan lembut
> dan sepenuh hati.
>
> "Terima...kasih...atas...perhatianmu," isterinya
> berkata dengan
> terengah-engah karena kesakitan.
>
> Fan telah meminta dokter terbaik di Ching-k'ou,
> ch'en Shihying untuk
> mengobati istrinya. Dan dokter Ch'en memeriksa
> perempuan itu dengan
> hati-hati dan menyuruh Fan untuk menunggu.
>
> "Karena dia cukup parah, satu-satunya cara untuk
> mengobatinya, " kata
> dokter tersebut, "Ambillah seratus kepala burung
> pipit, dan buat
> mereka menjadi obat sesuai resep ini. Kemudian pada
> hari ketiga, dan
> ketujuh otak burung-burung pipit tersebut dimakan.
> Itulah caranya. Ini
> merupakan resep rahasia turun-temurun dari nenek
> moyangku, dan resep
> ini tidak pernah gagal. Ingat, kamu harus mempunyai
> seratus burung
> pipit. Kamu bahkan tidak boleh kekurangan satu pun."
>
> Fan ingin sekali menolong istrinya, sehingga dia
> langsung pergi
> membeli seratus burung pipit. Burung-burung itu
> berdesakan dalam satu
> sangkar yang besar. Mereka menciap-ciap dengan sedih
> sebab sangkar itu
> terlalu sempit bagi mereka untuk menempatkan diri
> mereka sendiri.
> Bahkan mungkin mereka tahu bahwa mereka akan
> dibunuh.
>
> "Apa yang akan kau lakukan terhadap burung-burung
> tersebut?" tanya
> Nyonya Fan.
>
> "Ini resep spesial dari dokter Ch'en!Kita akan
> membuat mereka menjadi
> obat dan kamu akan segera sembuh," suaminya menjawab
> dengan gembira.
>
> "Tidak jangan lakukan itu!" seru Nyonya Fan yang
> duduk diatas
> ranjangnya. "Kamu tidak boleh mengambil seratus
> nyawa untuk
> menyelamatkan satu nyawa! Lebih baik aku mati
> daripada membiarkan kamu
> membunuh semua burung pipit itu untukku!"
>
> Fan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
>
> "Jika kamu benar-benar mencintai aku," Nyonya Fan
> melanjutkan,
> "Lakukan sesuai dengan permintaanku. Bukalah
> sangkarnya dan biarkan
> semua burung pipit itu pergi. Jika kau lakukan hal
> itu aku akan mati
> dengan tentram."
>
> Maka Fan mengambil sangkar itu dan membawanya ke
> hutan, kemudian dia
> membebaskan sertaus ekor burung pipit itu. Mereka
> terbang ke
> semak-semak dan pohon-pohon dan bernyanyi serta
> menciap-ciap. Mereka
> tampak begitu senang menikmati kebebasan.
>
> Beberapa hari kemudian Nyonya Fan dapat bangun dari
> ranjang walaupun
> dia tidak minum obat apa pun. Teman-teman dan
> saudara-saudaranya
> berdatangan untuk mengucapkan selamat kepadanya atas
> kesembuhannya
> yang cepat dari penyakit tersebut. Dan semuanya
> sangat senang.
>
> Tahun berikutnya keluarga Fan mendapatkan bayi
> laki-laki. Dia amat
> sehat dan lucu, dan anehnya disetiap lengannya
> terdapat tanda lahir
> seperti burung pipit.
>
> <Selesai>
>
> Kalaupun setelah itu Nyonya Fan tidaklah sembuh,
> tetapi dia telah
> memberikan manfaat yang besar bagi berlangsungnya
> kehidupan 100 ekor
> burung pipit lainnya.
>
> Tentu saja, saya akan mengatakan diri saya munafik
> apabila bisa
> seperti Nyonya Fan, saya mungkin tetap akan
> mengorbankan 100 ekor
> burung pipit tersebut, dan "Ego" kami akan berdalih
> dengan mengatakan,
> jadi saya masih bisa tetap hidup, untuk bisa
> membahagiakan orang tua
> saya, saya masih bisa melakukan 100 perbuatan baik
> lainnya untuk
> kemudian dipersembahkan kepada 100 ekor burung pipit
> yang telah
> berkorban untuk saya. Tetapi saya juga akan menjadi
> munafik apabila
> saya mengatakan bahwa kedepannya saya akan
> benar-benar melakukan 100
> perbuatan bajik tersebut dan mempersembahkannya
> kepada 100 ekor burung
> pipit tersebut. Pada akhirnya ini hanya menjadi
> teori belaka, setelah
> melihat secara mendalam, dan benar-benar dikupas
> secara mendalam,
> ternyata alasannya hanya satu, yaitu sang ego
> mengatakan
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke