Bro Dartono,
 
Harap anda tidak lalu melepaskan tanggung jawab begitu dong, kalau misalnya rumah anda itu dekat dengan sawah, dan sering banyak kambing datang. Misalnya anda suka dengan tanaman aglonema dan punya banyak pot aglonema di rumah bahkan yang harga duapuluh juta sepot pun anda punya. Lalu suatu hari pagar anda itu rusak dan gampang bagi si kambing untuk masuk dan memakan tanaman itu, apa lalu anda menyumpahi si kambing itu?
 
Kalau anda mencegah si kambing masuk dengan memperbaiki pagar itu, tentu tidak perlu terjadi hal makian atau umpatan itu dan lagi secara tidak langsung anda mengijinkan si kambing untuk makan aglonema anda.
 
Nah, tentang Buku Buddha Dhamma. Kalau kita melihat lagi, kenapa kita sampai perlu menaruh buku itu di hotel, apakah kita kekurangan umat? Apa kita mau memperkenalkan agama Buddha ke orang-orang? dst dst. Alasan sesungguhnya tentu ada di hati para pencetus dan pelaksana program itu, namun yang mesti kita ingat bahwa sebagian dari kita tahu bahwa penyebaran ajaran Buddha itu dilakukan (dulunya) dengan mission, namun sekedar menaruh buku itu mestilah dikaji dengan baik, kenapa, anda sendiri melihat bagaimana mudahnya orang untuk jadi salah pengertian akan tulisan para sahabat di milis buddhis yang notabene sama-sama umat Buddha, bagaimana lagi salah tafsir dengan umat lainnya? Belum lagi kalau buku itu seperti yang saya katakan dipergunakan sebagai lap ingus dan lap kotoran, apa tidak jadi sebuah penghinaan dan karma baik eh buruk bagi si  pelaku dan kita secara tidak langsung bertanggung jawab menjadi pemicu itu terjadi. Anda katakan niat anda baik, tapi kalau niat baik anda itu salah, apa anda tidak lalu ikut bertanggung jawab? Kalau anda berdana dan dana yang anda berika itu dipergunakan untuk main perempuan, beli ekstasi, dst dst, apa anda tidak ikut bertanggung jawab? kalau duit itu tidak ada, tentu tidak ada ekstasi, tidak ada pelacur, dst dst.
 
Sama halnya kenapa Sang Buddha melarang atau menganjurkan para muridnya, para umatnya untuk menghindari mata pencaharian yang tidak benar, anda tahu kan, alasannya.... atau anda lupa, baik saya ingatkan sedikit saja.
 
Hindari menjual senjata, agar anda tidak ikut serta menanggung akibat tidak langsung dari pembunuhan yang bisa dilakukan dengan senjata itu.
Hindari menjual minuman keras, obat terlarang, agar anda tidak ditangkap polisi dan ikut menjadi penyebab hancurnya kehidupan orang lain.
 
Dari dua contoh di atas, sebetulnya bisa kita lihat, bahwa ajaran (agama) Buddha itu sebetulnya diperuntukkan untuk orang yang telah dewasa atau pun matang batinnya, para pertapa yang telah matang, bukan untuk anak yang batin dan pikirannya secara umum masih teka, masih sd dan smp, mungkin sma masih bisalah, kenapa, semata-mata agar mau melihat lebih jauh, hidup bertanggung jawab kepada sesama manusia, kepada semua mahluk baik di darat, air dan di udara, terlihat maupun tidak.
 
Ajaran Buddha itu sangat demokratis, tapi sesungguhnya menuntut T A N G G U N G J A W A B penuh dari pelaku ajarannya, bukan dalam arti ada pengadilan, tapi anda sendiri musti tidak lupa kalau apa pun yang anda lakukan itu ada akibatnya, seberapa kecilpun itu, dan kadang yang kecil bagi anda itu akibatnya secara luas itu besar sekali.
 
Nah, kembali sedikit ke soal batin anak teka, sd dan smp serta sma. Sang Buddha itu dengan penuh kasihnya beliau itu mengajarkan metode meditasi yang bisa dilatih oleh orang dari yang paling (maaf) bodoh secara intelektual sekalipun sampai dengan professor yang kecepatan dan kemampuan berpikirnya sudah WAH!!!!! Tapi, itu mestilah anda lakukan sendiri, latihan itu mesti anda lakukan sendiri, itu disebut Ehipassiko. Dan itu dalam siklus Sila - Samadhi - Panna, artinya;
sila anda benar, samadhi anda benar, panna anda akan terbentuk pemahaman anda akan terbentuk (sila samadhi panna ini mohon dilihat dalam arti delapan jalan utama secara lengkap yang tergabung dalam tiga kelompok besar itu, bukan sekedar sila-samadhi-panna), lalu anda berproses lagi, tingkatan sila anda itu lebih halus, meditasi anda lebih mendalam dan panna anda lebih mendalam lagi karena anda akan memperoleh pemahaman-pemahaman baru yang menjadikan anda memahami isi dari Sutta-sutta dan uraian-uraian Sang Buddha.
 
Pada saatnya, kepekaan batin anda itu akan demikian berkembangnya sehingga anda bisa melhat sendiri, memahami sendiri akibat dari suatu perbuatan dalam kerangka patticasamupada dan lalu anda tidak mau lagi melakukan perbuatan itu semata-mata karena tidak mau melihat akibat itu muncul dari sebab yang anda tanamkan, dan pemahaman ini, pengertian ini seperti kilat munculnya dibatin anda, anda punya akses langsung pada data base Dhamma di dunia, barulah di tataran ini anda bicara tentang melihat dhamma di mana-mana, mungkin ini yang disebut sila-tanpa sila, dan istilah saya ini disebut sebagai beragama tingkat sarjana, master dan professor, tergantung seberapa jauh dan seberapa halus, cepat dan akurat pemahaman itu......
 
Mungin uraian saya terlalu teoritis bagi anda, atau terlalu dangkal karena anda mungkin sudah jadi arahat. Ndak tau juga :)
 
Jadi, kembali ke anda semua mau beragama dengan cara apa, belajar Buddha Dhamma dengan cara apa, saya cuma bisa menuliskan apa yang saya tahu dan pernah baca....... tapi setahu saya anda mesti bisa melihat sejauh itu, kalau tidak rasanya kok amit-amit jadi umat Buddha di Indonesia.....
 
salam
bclt
 
--- In [EMAIL PROTECTED], Dartono Limin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dear bro BCL_T
>
> kalau lap kelamin dan mulut dengan buku dharma bisa
> membawa kebahagian bagi semua mahkluk.....tidak apa
> lah...Just do it....
>
> salam,
> dartono
> --- bcl_t <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Mungkin kalau saya protes dikira saya tukang protes
> > atau semacamnya,
> > namun sering saya mendengar kalau umat Buddha dan
> > umat agama lainnya
> > itu terganggu dengan "serangan" agama K , agama ono
> > , itu singkat
> > nya terganggu dengan agresifitas agama lain dalam
> > menyebarkan ajaran
> > agamanya.
> >
> > Saya lupa apakah ada cerita yang menunjukkan kalau
> > buku Dhamma itu
> > salah ditaruh atau salah dipergunakan ada karmanya
> > atau tidak, mohon
> > dicari.
> >
> > Nah, kalau ada saja orang dihotel itu yang mengambil
> > buku dhamma itu
> > lalu membuatnya menjadi lap ingusnya, menjadikannya
> > (maaf) lap alat
> > kelaminnya, apa anda bisa bilang karmanya dia yang
> > tanggung? Anda
> > mungkin lupa, bahwa kerja sama anda yang indah itu
> > menjadikan itu
> > bisa terjadi, kalau buku itu tidak muncul di hotel,
> > apa lalu itu
> > terjadi?
> >
> > Membina umat ke dalam itu rasanya kok masih jauh
> > lebih penting dari
> > pada keluar melakukan ekspansi, dan apakah Sang
> > Buddha sendiri
> > menawar-nawarkan ajarannya kepada semua orang di
> > dunia ini? Coba
> > anda renungkan dan coba hitung, berapa banyak
> > manusia yang tidak
> > menjadi murid Sang Buddha dan apakah Sang Buddha
> > pernah memaksa
> > seseorang baik langsung maupun tidak langsung, halus
> > maupun kasar
> > untuk menjadi murid beliau?
> >
> > Memang beliau ada menggerakkan orang-orang tertentu
> > untuk menjadi
> > murid Beliau, tapi itu bukan karena tujuan
> > memperbanyak murid, namun
> > lebih karena ybs itu telah tiba saat nya untuk
> > "Bangun". Namun apa
> > lalu anda ingin menjadi Sang Buddha atau sekedar
> > gaya-gayaan saja?
> > Agar dikatakan umat Buddha yang baik?
> >
> > Maaf loh, saya tidak ingin mencela upaya anda, namun
> > coba bercermin
> > sendiri lah, apa itu upaya yang benar? Kalau
> > ternyata menurut anda
> > iya, ya, terserah andalah. Jangan lalu ketika
> > terjadi konflik
> > eksternal - dengan orang lain, contoh kecil di atas
> > misalnya yaitu
> > anda menemukan kotoran manusia di lembaran Buku
> > dhamma yang anda
> > taruh di hotel itu, lalu anda menhela nafas dan
> > mengatakan bahwa
> > orang itu yang salah. Lucu sekali anda hehehe, mohon
> > dicari lagi
> > deh. Sang Buddha itu apakah sembarangan mengajarkan
> > Dhamma?
> > Bukankah beliau mengajarkan Dhamma itu hanya pada
> > lahan yang benar,
> > yang tepat??
> >
> > Mungkin saya salah, eh salah saya salah dan bodoh,
> > bo ceng li pula,
> > wah runyam. Tapi biarlah saya demikian, paling jelek
> > saya masuk
> > neraka Avici, ndak papa, nanti saya sampaikan salam
> > anda ke
> > Devadatta.....
> >
> > Jakarta timur, senin duapuluh empat april duaribu
> > enam.
> > bclt
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED], "Ayung"
> > <sukhayung@> wrote:
> > >
> > > Terima kasih atas pujiannya , memang ini program
> > kerja sama antara
> > Majelis Buddhayana Indonesia, Karaniya, Ehipassiko.
> > > Semoga mereka yang night disana bisa mendapatkan
> > kesempatan untuk
> > mengetahui ajaran Buddha Dhamma.
> > > Semoga buku " Jadilah Pelita " ini bisa bermanfaat
> > bagi mereka yang
> > > membacanya.
> > > Jika anda berminat anda bisa menghubungi
> > sekretariat kita.
> > >
> > > Love
> > > Erny
> > >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: <Abin_Abin@>
> > > To: Dhammasabha Milis <dhammasabha@>; Buddha
> > Vacana
> > > <[EMAIL PROTECTED]>; Mabindo Milis
> > <[email protected]>;
> > > Mubi Milis <[EMAIL PROTECTED]>; Milis
> > SamaggiPhala
> > > <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Saturday, April 22, 2006 7:48 AM
> > > Subject: [samaggiphala] Buku Buddhis di Laci Kamar
> > Hotel
> > >
> > >
> > > > Tadi malam saya sempat spend a night di Hotel
> > Sheraton Surabaya.
> > > > Ketika saya membuka laci meja hotel, kali ini
> > saya tidak
> > menemukan kitab suci baik Al Qur'an maupun Alkitab,
> > tapi saya
> > menemukan sebuah buku yang cukup bagus terbitan
> > Ehipassiko
> > Foundation.
> > > >
> > > > Saya cukup senang dengan keberadaan buku ini
> > walau saya tidak
> > sempat
> > > > membacanya.
> > > > Bravo Ehipassiko!
> > > >
> > > > Salam,
> > > > Abin


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke