Dasar keledai
 
Ketika anda menunjukkan tempat yang penuh rumput muda yang segar dan bersih, dan danau kecil dengan air jernih dan segar kepada seekor keledai yang anda kasihi. Anda akan terkejut dan heran tatkala si keledai melengos dan meringkik dengan suara khas keledainya. Dan ketika anda lengah tak melihat, dia kan memakan habis seluruh rumput yang sedianya cukup tuk sebulan makan, menghabiskan air yang jernih itu dan mengotori sisanya dengan kakinya yang empat itu dan kemudian berlalu dengan riangnya, mungkin dengan sedikit tawa sarkastik khas keledai, seolah berkata,:Nah , loh!!! Gue habiskan rumput elo buat sebulan, dan elo nggak bisa minum, hehehehe!”
 
Dalam hidup ini, mungkin anda dan saya – kita - sering bertemu dengan para keledai semodel itu dan akhirnya yang bisa kita lakukan cuma menghela nafas dan berkata dalam hati,”Dasar keledai!”
 
Lalu, apa selesai sampai disitu?
Tentu tidak, kehidupan jalan terus dan sangat mungkin anda akan bertemu lagi dengan si keledai itu dan reaksi umum kita adalah , Marah! Wajar bukan, marah karena kerusakan yang dilakukan oleh si keledai itu atas ini dan itu, ….. Namun nanti dulu.
 
Mari coba kita lihat kembali dari awal. Rumput dan air yang nikmat itu, kita yang memperllihatkannya dan memberikan ijin kepada si keledai untuk dinikmatinya, nah kalaulah memang kemudian si keledai itu menghabiskan dan merusaknya tentu itu bagian dari ke keledaiannya dia yang semestinya kita sadari dari awal. Lalu kalau si keledai sekedar mengikuti naluri keledainya, tentu wajar juga bukan?
 
Dan kemudian jadilah kita keledai yang sesungguhnya.
 
Tentu saja dalam kehidupan ini bukanlah hal yang mudah untuk mengenali si keledai dan ke keledaiannya di dalam sana. Seringkali yang terjadi adalah kita menyangka si keledai itu sebagai kuda mustang hitam atau kuda perang arab yang gagah  perkasa, bersurai indah dan berotak cemerlang dan tahu diri, hanya ketika semua telah habis tiada sisa bagi kita, barulah kita menyadari bahwa si kuda yang kita sangka bisa mengendalikan diri dan mempergunakan rumput dan air bersih yang kita miliki atau pelilhara dengan baik dengan semena-mena dan dengan gaya khas keledainya, barulah kita menyadari bahwa kita telah mengundang keledai untuk mengkeledaikan diri kita…. terlambat sudah ….
 
Lalu, bagai mana kita bisa mengenali keledai – keledai itu?
 
Ya tentu saya tidak bisa menjawabnya dan mengenalkan mereka kepada anda sahabat. Anda sendiri lah yang mesti belajar mengenali mereka dan berlatih untuk bisa mengenali yang mana kuda perang sejati dan mana keledai sejati , uups, hehehee keledai saja saya kira, hehehe.
 
Pelajaran biologi khususnya anatomi keledai dan kuda? Apa itu yang kita butuhkan?
Bukan sahabat, kan kita tidak ingin menjadi pedagang keledai dan kuda, lalu apa?
 
Dibutuhkan kejernihan hati, ketenangan jiwa dan tentu saja pengalaman, sahabat.
 
Saya yakin anda tahu itu, hanya mungkin anda mengira butuh pelajaran anatomi keledai atau teori tentang kuda untuk bisa mengenali para keledai itu atau untuk menemukan para kuda perang sejati, hehehee ndak lah yao….
 
Lalu bagai mana bisa menjernih hati dan menenang jiwa?
Anda tanyalah ke guru hati dan guru jiwa anda, jangan tanya saya, saya bukan guru anda.
 
Dan bagai mana pula menemukan pengalaman?
Sahabat, anda carilah di jalan, mungkin ketemu beberapa, mungkin yang anda temukan itu bisa berguna. Kalau tidak ketemu, pasti anda salah jalan, cobalah lagi di jalan yang lain.
 
Bingung?
Ya, jangan tanya saya, pegangan saja atau minum obat pusing, ada paramex, biogesic, refagant dan panadol, hati-hati dengan yang terakhir ini karena anda bisa lupa termasuk lupa tujuan anda berjalan, apa lagi tujuan membaca tulisan ini, hehehehe.
 
Salam kedelai, eh keledai…….
Jakarta, 28 Des 2005
i


Blab-away for as little as 1¢/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke