Rekan-rekan semuanya,
Ijinkanlah saya memberi pandangan mengenai topik yg dibahas, baik mengenai Bhikkhu Sudhammacaro, Bp. Andrie Wongso atau siapapun yg berkaitan. Saya tidak memposisikan diri dipihak manapun, tidak mengkritik, tidak menghakimi dan tidak memberi penilaian apapun. Tulisan ini semata-mata hanya pendapat pribadi saya yg bertujuan untuk mengajak rekan-rekan melihat dari sisi yg lain.
Positif vs Negatif
Tidak ada gading yg tak retak, itulah pepatah klasik yg sering kita dengar. Setiap org pasti pernah melakukan salah. Atau tergelincir dalam kekeliruan. Tidak ada satu org pun yang luput dari perbuatan salah sebelum mencapai kesucian. Siapapun itu, apakah
kecil atau besar, tua atau muda, pintar atau bodoh, terpelajar atau tidak, rohaniawan atau awam dsb. Semuanya pernah.
Disisi lain, ukuran benar dan salah juga sangat relatif. Salah menurut yg satu, pasti benar menurut yg lain. Benar pada saat ini, belum tentu diterima sebagai kebenaran disaat lainnya. Begitu juga yg tercantik dalam suatu kelompok, bisa jadi yg terjelek pada saat berada dikelompok lainnya. Mengapa demikian ? Itulah relativitas. Dan itulah kerja pikiran manusia. Menilai dan membanding-bandingkan dan kemudian membuat kesimpulan menurut pemahamannya, latar belakang, pengetahuan, pendidikan, lingkungan, keyakinan, ketertarikan/kecenderungan, kepentingan diri dsb. Dan karena kesimpulan oleh pikiran-pikiran itulah, terjadilah konflik.
Konflik
Kalau boleh saya menganalogikannya, konflik dalam kasus ini (Bhikku Suddhammacara) ibarat pertengkaran antara papa dan mama kita. Papa menuduh mama yg salah, begitu juga mama. Sementara papa membacakan dakwaannya, mama juga menguraikan detail kesalahan papa. Papa tidak menerima tuduhan mama, mama juga tidak mengakui kelalaiannya. Papa tidak melihat kekurangannya, mama juga tidak menyadari kekeliruannya. Mengapa mereka berdua tidak mampu melihat kebenaran dipihak yg lainnya? Karena papa dan mama sama-sama terlalu gelap ditutupi asap kemarahan yg dihasilkan api kepentingan diri/pihak. Sikap ini bukanlah contoh yg baik.
Bagi anak-anak mereka, anak-anak mencintai papa, tapi juga sangat sayang kepada mama. Anak-anak tak mampu memilih papa atau mama,
tapi justru berharap org tua mereka baikan. Anak-anak bersedih dan tidak ingin kebahagiaan yang dulu mereka alami menjadi kenangan dan hanya menjadi cerita masa lalu. Mengapa anak-anak tidak mampu memilih ? Karena satu alasan yaitu : Cinta. Dan karena alasan ini, anak-anak tidak menginginkan perceraian org tuanya. Anak-anak tetap bisa menerima org tuanya meskipun papa sangat egois, atau mama yg arogan.
Anicca & Hukum Karma
Kalau kita percaya ttg anicca, bahwa apapun didunia ini, semuanya berproses dan berubah. Tidak terkecuali dengan pemahaman, keyakinan, sikap dan karakter seseorang. Hari ini suatu paham disebut salah, mungkin besok justru menjadi populer. Ada org yg dulu berkeyakinan A, sekarang berkeyakinan B. Sekarang mempertahankan dan menikmati sikap tetapi besok
menjadi malu karena sikap itu. Demikian juga dengan karakter, suatu kali menjadi kebiasaan, dilain kali berubah kebiasaan. Org baik bisa sekali waktu bisa berbuat keliru, demikian juga org yg dicap jahat tidaklah seumur hidup tidak pernah berbuat kebajikan.
Semua makhluk bisa terlahir sebagai manusia karena tumpukan karma baik dan kebajikan yg pernah dilakukan. Seberapa jahatpun label untuk seorang manusia, dia tetap adalah makhluk yg dulunya pernah berbuat karma baik. Bisa jadi mereka yg kita sebut "jahat" ini adalah teman baik kita, keluarga kita, anak kita atau bahkan org tua kita pada kehidupan yg lampau.
Pendapat
pribadi saya
Karena hal-hal diatas, bahwa org selalu terombang-ambing dalam dua ekstrim. Kadang benar, kadang salah, kadang terpuji dan kadang tercela, maka sebaiknya setiap permasalahan cukup disikapi secara proposional, bijaksana dan fair.
Mengumumkan kesalahan org, ibarat "menelanjangi" dan mempermalukan org ditempat umum. Akibatnya, org yg dipermalukan mungkin akan membela diri dan berusaha mencari kesalahan lawannya. Dan pertengkaran pun tidak berakhir.
Menyikapi masalah dengan cara membuka aib dan kesalahan pihak lawan, lebih cenderung menciptakan konflik dan masalah baru daripada menyelesaikan masalah. Sikap ini lebih dikuasai
oleh kemarahan daripada perasaan cinta.
Meskipun demikian terkadang memang bisa berakibat sebaliknya, yg dikritik menjadi malu atau sadar dan tidak berbuat lagi. Tetapi ironisnya, pada kondisi ini sering pengkritik menjadi lupa karena "keberhasilannya". Lupa untuk mengumumkan kembali kebaikan dan tindakan terpuji yg telah dilakukan oleh org / pihak yg dulu dikritiknya. Atau dengan kata lain, lupa memulihkan kembali nama baik org tersebut yg sebenarnya secara otomatis menjadi tanggung jawab moral pengkritik yg berjiwa besar. Pengkritik yg memang menginginkan kebaikan bagi semua pihak.
Ibarat org tua yg menghukum anak, org tua yg baik akan menjelaskan kesalahan anak secara baik-baik, bukan mempermalukannya didepan umum, menjelaskan bahwa org tua
juga ikut prihatin (bukan bergembira) karena anak mendapat hukuman. Kemudian org tua mengakhiri hukuman dengan memeluk dan meyakinkan anak bahwa mereka sama sekali tidak berkenginan menghukum, tetapi semata-mata demi kebaikan.
Daripada terbiasa fokus pada kejelekan dan punishment/cacian, lebih baik pada kebaikan dan reward/pujian, begitulah kata seorang pakar psikolog anak. Karena kebiasaan, didikan org tua dan lingkungan yg sering fokus pada kejelekan dan punishment, kita semua tumbuh menjadi pribadi yg senang sekali mengkonsumsi berita-berita negatif. Hal ini terbukti dengan banyaknya berita negatif dikoran, email dan televisi yg memiliki peminat dan rating yg tinggi sehingga lebih kormersil dan berita positif semakin sedikit karena tidak mendapatkan perhatian. Sungguh tidak adil apabila 1000
kebaikan seseorang terlupakan hanya karena beberapa kesalahan yg pernah diperbuatnya.
Saling instrospeksi diri, selesaikan semua hal dgn dasar cinta dan hanya demi satu hal yaitu kebaikan bersama.
Saling instrospeksi diri, selesaikan semua hal dgn dasar cinta dan hanya demi satu hal yaitu kebaikan bersama.
Saya akan mengakhiri pendapat saya dengan sebuah perenungan, sebuah kata bijak yg selalu saya ingat dari J.Krishnamurti yg kira-kira berbunyi : "Org-org berjuang untuk melawan kejahatan. Tetapi apa bedanya mereka dengan kejahatan itu sendiri ?". Kebenaran sejati tidak mempunyai lawan. Kebenaran yg diperoleh setelah mengalahkan kejahatan, bukan kebenaran sejati.
Salam,
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Lusiana Aryani
Sent: Monday, April 24, 2006 11:58 AM
To: [email protected]; MUBI; Dharmajala; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Dharmajala] Re: Klarifikasi, Kronologis pengunduran diri bhikkhu Sudhammacaro dari STI (+ Andrie Wongso)
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Lusiana Aryani
Sent: Monday, April 24, 2006 11:58 AM
To: [email protected]; MUBI; Dharmajala; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Dharmajala] Re: Klarifikasi, Kronologis pengunduran diri bhikkhu Sudhammacaro dari STI (+ Andrie Wongso)
Membaca surat pernyataan Bhikkhu Suddhamacaro di bawah ini, saya terkejut, merinding, kecewa, sedih, nelangsa, dan banyak perasaan lain bercampur aduk, susah dijelaskan. Tapi saya merasa lega juga karena kebenaran akhirnya terungkap juga ke masyarakat yang lebih luas. Kita semua sebagai umat awam dari vihara-vihara yang berbeda pasti akhir-akhir ini juga banyak mendengar konflik dan gossip mengenai bhikhhu-bhikkhu terutama yang senior. Ada yang
menggelapkan dana, bahkan hingga bhikkhu ketua vihara Dhammajaya yang selama ini dikenal sebagai upajaya, yang punya hubungan asmara dengan seorang janda. Oh tragis sungguh tragis.... Tak tahu lagi harus bagaimana dengan mereka yang berjubah itu tapi kelakuannya menyedihkan.....
Sebenarnya sih saya menulis surat ini karena terpancing oleh pujian Bhikkhu Suddhamacaro terhadap Andrie Wongso. Kesannya kok Andrie Wongso lebih baik daripada seorang Bhikkhu. Padahal setau saya kalau soal perempuan Andrie Wongso itu
mana ada bedanya dengan bhikkhu2 palsu itu.... Saya tahu Andrie Wongso hobi sekali
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
