Dear all,


--- In [email protected], Benny wu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Rekan2x sedhamma,
> 
> Sebenarnya saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh  Ajahn
Brahm.
> Kalau kita lihat dalam sila ke 3, "Sexual Misconduct" atau
"Pelaksanaan 
> sex yang tidak sesuai" itu harusnya dilihat dari sudut pandang 
> universal. Didalam Tipitaka sebenarnya tidak ada daftar 'apa yang 
> dilarang' yang dikategorikan dalam pelanggaran Sila ke 3. 

sudah sampai manakah bro mencari??????
yakin tidak ada? Saya lagi mencari beberapa literatur yang
berkaitan, semoga bisa saya terjemahkan, dan di posting di sini.
lagipula Tipitaka yg Bro maksud yg bagian mana coba? karena Tipitaka
sungguh-lah banyak, kecuali Bro udah telusuri dari A - Z Tipitakan,
dan tidak menemukan, tidak menemukan belum tentu tidak ada, karena
bisa saja silap kelewat :)


>Dalam 
> pelaksanaannya akan sangat tergantung pada individu, tempat dan
waktu 
> sehingga tidak bisa kita buat 'daftar' hitamnya.
> Organ2x tubuh manusia adalah hanya 'benda' yang netral. Yang
menyatakan 
> kegunaan organ2x tubuh itu  adalah manusia itu sendiri sehingga
kegunaan 
> ,contohnya, anus atau mulut tentu juga sangat bergantung pada 
> individunya sendiri. 

ini opini rada bahaya menurut saya, karena ini sejenis pembenaran,
kalau begitu secara personal anda memperbolehkan oral sex dan anal
sex?
pertanyaan singkat buat anda, apa fungsi anus? (tdk perlu saya
jawab)
apa fungsi mulut?
menyalah gunakan fungsi masing-masing alat itu untuk tujuan lain
(contoh seks) apakah termasuk melanggar sila?

apa fungsi mata? untuk melihat....
kalau melihat yang tidak baik, atau mengintip, melihat majalah porno
atau film porno, dll apakah ini termasuk masih mengunakan mata
sesuai dengan fungsinya? apakah dgn keadaan kita sekarang dgn
menonton film porno bisa mencapai kemajuan batin?
maaf kalau ada diantara anda ada yg bisa demikian, saya sendiri
tidak sanggup mengumbar nafsu dengan cara demikian, maaf lagi ya,
bukan 'sok suci', nonton film porno saya memang sudah pernah, tapi
sudah tidak jamannya lagi menonton film begitu, karena memang tidak
memberi kemajuan batin dan spiritual, cukup mengetahui saja, tidak
perlu sampai tergiur dan diulang-ulang terus.

ada teman yg tanya, pernahkah aku ke diskotek, tentu saja aku jawab
pernah, karena keingin tahuan, kemudian melihat-lihat kesana-kemari,
setelah tau, dan merasakan sendiri, tidak tertarik, yah sudah mari
kita pulang, karena memang tujuannya utk mengetahui doang, ga perlu
stay lama-lama di situ.


>Selama antara pasangan heteroseks atau homoseks 
> saling setuju dan tidak ada paksaan tentu tidak melanggar sila ke
3.
> Dalam lindungan orang tua juga bisa sangat bervariasi. Contohnya 
> keluarga di amerika, mereka menganggap anaknya yg sudah 17 tahun
sebagai 
> dewasa dan mereka bebas mengambil keputusan sendiri (termasuk
seks) 
> walaupun masih dalam lindungan orang tuanya.

dalam lindungan orang tua adalah maksudnya adalah masih di biayai,
hidup masih tergantung pada orang tua, kalau umur 20 masih
tergantung pada orang tua, masih belum bisa memutuskan segala
sesuatu untuk diri sendiri, harus selalu di dampingi orang tua, ini
baru disebut dalam lindungan orang tua.
ini memang bervariasi, namun secara umum memang begitu yang terjadi,
lagipula kita tidak bisa mencocokkan persis peristiwa jaman dulu dgn
sekarang, tidak bisa mencocokkan kematangan spiritual orang2 jaman
dulu dgn sekarang....

> 
> Saya rasa dalam menilai apa yang tidak boleh dilakukan karena
melanggar 
> sila tsb perlu di teliti dengan lebih jauh. Daftar2x yang
menyatakan apa 
> yang melanggar dan tidak boleh sebenarnya itu hanya sesuai pada 
> individu, waktu dan tempat tertentu, jadi jangan terlalu terpaku
dengan 
> daftar2x itu saja. Bisa saja hal2x yg tidak tercatat di daftar itu
tapi 
> melanggar sila bagi kita.


hati-hati kalau terjadi pementahan makna Sila, walaupun saya bukan
orang yg praktik sila sejati, karena betul2 tdk mudah untuk berlatih
sila dgn sempurna.

terus satu hal yg perlu diingat oleh saya sendiri juga, bahwa sila
dibuat karena terjadi pelanggaran di jaman Buddha, dan sampai saat
ini masih relevan, dan menurut pemahaman pribadi saya, ada sebagian
sila yg menjadi ambigu pada jaman sekarang, karena Sila tidak di
update sesuai dgn perkembangan jaman, saya tidak berani komentar hal
ini, cuman yg terjadi memang demikian, daftar2 itu masih dlm hal
wajar dan bisa diterima, coba bayangkan istri lagi haid atau hamil,
lantas anda memaksa utk berhubungan seksual (maaf tidak bermaksud
porno), contohnya dua orang pria (homoseksual) melakukan anal seks,
apa itu suatu hal yg bisa diterima? O well, anda boleh saja bilang
dunia barat sudah menjadi hal lumrah, namun tetap saja sudah terjadi
penyalah gunaan alat2 tubuh secara tidak tepat.

okeh sekian dulu, ini pandangan pribadi, semoga saya bisa menemukan
sumber2 yg bisa mendukung tulisan saya sebelumnya tentang daftar2
itu, terutama ada kaitan dgn sila dan tipitaka, atau ada yg bisa
bantu saya? sementara saya belum menemukan sumbernya, informsi itu
saya dapat dari ceramah seorang Guru dari perancis yg datang ke
indonesia

> 
> Semoga semua mahluk berbahagia,
> Sumedho Benny
> 






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke