Bro ching ik,

Baiklah bro, saya akan mencoba menjawab pertanyaannya walaupun agak panjang. Semoga bisa menjawab rasa penasarannya.

Seorang penjahat yg dilanda penyesalan lalu memahami sebait saja ucapan
dhamma dari sebuah sutta yg sangat mulia dan mengerahkan segenap batinnya
untuk menjalankan bait sutta tersebut, tentu akan bermanfaat. Hal ini sangat sesuai
dengan hukum Kamma. Secara prinsip dosa2x/kamma buruk yg telah dilakukannya
tidak akan terhapus. Disinilah kuncinya perbedaan pemahaman kita yg ada. yaitu kata tidak pada terhapusnya dosa/kamma buruknya.
Semua kamma buruk yg telah dilakukan tidak akan hilang dan terhapuskan begitu saja walaupun seseorang itu seorang arahat ataupun Buddha.
Kamma buruk hanya akan terhapus apabila sudah parinibana. Contohnya Y.A. Mogalana yg terkenal
akan kesaktiannya sendiri tidak dapat lari dari berbuahnya kamma buruk yg dilakukan
pada kehidupan sebelumnya, sehingga diapun dibunuh dengan dipotong2x oleh sekelompok
penjahat karena pada kehidupan lampaunya beliau pernah memukul orangtuanya yang buta.
Maka itu kita disarankan utk banyak berbuat baik agar efek dari kamma buruk itu tidak terasa
teramat berat. Seperti analogi yang diberikan oleh Sang Buddha, jika kita menambahkan sesendok
garam ke segelas air tentu akan asin, apabila menambahkan ke sungai gangga tentu tidak akan terasa
asin. Contohnya kalau kita kerampokan misalnya, kalau kamma baiknya banyak yah bisa saja misalnya
lagi dapat rejeki, jadi kehilangan kita tidak terasa terlalu berat. Lainkata kalau kamma buruk lain yang
berbuah jadinya bertubi2x, malahan tambah berat.
Kalau misalnya dengan membaca sutta maka kamma buruknya akan dihapuskan tentu semua
orang akan berbuat buruk lalu membaca sutta tsb akan hilang langsung. Sungguh menyenangkan
sekali. Hal inilah yang saya maksud dengan tidak sesuai dengan hukum Kamma.

Sekarang kita lanjut kepada Vimalakirti Nirdesa sutra.
Pertama kali saya baca cuplikan yg bro berikan, respon pertama saya adalah "wah nga bener nih"
Kemudian saya croscek dan cari sumber referensi. Yang saya dapatkan adalah dalam bahasa Inggris
terjemahan dari Robert A.F. Thurman, The Pennylvania State University. Saya akan berikan cuplikan yg sama dengan yg bro berikan.

The Buddha then said to the venerable Upali, "Upali, go to the Licchavi Vimalakirti to inquire about his illness."

Upali replied, "Lord, I am indeed reluctant to go to that good man to inquire about his illness. Why? Lord, I remember that one day there were two monks who had committed some infraction and were too ashamed to appear before the Lord, so they came to me and said, 'Reverend Upali, we have both committed an infraction but are too ashamed to appear before the Buddha. Venerable Upali, kindly remove our anxieties by absolving us of these infractions.'

"Lord, while I was giving those two monks some religious discourse, the Licchavi Vimalakirti came there and said to me, 'Reverend Upali, do not aggravate further the sins of these two monks. Without perplexing them, relieve their remorse. Reverend Upali, sin is not to be apprehended within, or without, or between the two. Why? The Buddha has said, "Living beings are afflicted by the passions of thought, and they are purified by the purification of thought."

"'Reverend Upali, the mind is neither within nor without, nor is it to be apprehended between the two. Sin is just the same as the mind, and all things are just the same as sin. They do not escape this same reality.

"'Reverend Upali, this nature of the mind, by virtue of which your mind, reverend, is liberated - does it ever become afflicted?'

"'Never,' I replied.

"'Reverend Upali, the minds of all living beings have that very nature. Reverend Upali, passions consist of conceptualizations. The ultimate nonexistence of these conceptualizations and imaginary fabrications - that is the purity that is the intrinsic nature of the mind. Misapprehensions are passions. The ultimate absence of misapprehensions is the intrinsic nature of the mind. The presumption of self is passion. The absence of self is the intrinsic nature of the mind. Reverend Upali, all things are without production, destruction, and duration, like magical illusions, clouds, and lightning; all things are evanescent, not remaining even for an instant; all things are like dreams, hallucinations, and unreal visions; all things are like the reflection of the moon in water and like a mirror-image; they are born of mental construction. Those who know this are called the true upholders of the discipline, and those disciplined in that way are indeed well disciplined.'"


Saya akan tunjukan bagian kata yang saya respon "wah nga bener nih"

Ini dalam konteks Ven. Upali adalah sang penjaga Vinaya, sehingga pelanggaran Vinaya beliaulah yang menentukan apakah melanggar atau tidak.

pertama:
Ajarilah kami cara bertobat agar kami bisa menghapus dosa ini." 

yang versi bahasa Inggrisnya adalah

Venerable Upali, kindly remove our anxieties by absolving us of these infractions
yang berarti

Yang Mulia Upali, hilangkanlah kegelisahan kami dengan membebaskan kami dari pelanggaran tsb.

kedua:
Hai Upali, janganlah memberatkan dosa mereka yang harus engkau hapuskan segera tanpa mengganggu 
pikiran mereka
yang versi bahasa Inggrisnya adalah

'Reverend Upali, do not aggravate further the sins of these two monks. Without perplexing them, relieve their remorse.

yang artinya

Yang terhormat Upali, janganlah membuat kesalahan/dosa kedua bhikkhu tsb lebih jauh. Tanpa membingungkan mereka, bebaskan lah mereka dari penyesalannya.

Setelah saya baca versi bahasa Inggrisnya, saya baru manggut2x dan mengerti. Kalau saja kata dosa itu adalah "rasa berdosa" atau penyesalan tentu itu benar. tapi kalau dosa ? Tentu saja tidak.
Bro ching ik mengambil referensi darimana ? Sepertinya ada terjadi salah dalam pengartian sutra tersebut. Jika sang penerjemah sutra tersebut paham tentang hukum Kamma dengan baik, tentu kesalahan fatal seperti itu bisa dicegah. Karena kesalahan tsb bisa menyebabkan orang menjadi memiliki pandangan salah.

Berikut ini kutipan dari His Holiness Dalai Lama:
"It is very important to understand that the core teachings of the Theravada tradition
embodied in the Pali scriptures are the foundation of the Buddha's teachings.
Beginning with these teachings, one can then draw on the insights contained in the
detailed explanations of the Sanskrit Mahayana tradition. Finally, integrating
techniques and perspectives from the Vajrayana texts can further enhance one's
understanding. But without a foundation in the core teachings embodied in the Pali
tradition, simply proclaiming oneself a follower of the Mahayana is meaningless.

Yang artinya,

Sangat penting untuk mengerti bahwa inti ajaran tradisi Theravada yang berada pada
kitab Pali adalah dasar dari ajaran Sang Buddha. Dimulai dari ajaran tersebut, seseorang akan
dapat mengerti penjelasan terperinci dari kitab Sansekerta tradisi Mahayana. Akhirnya, dengan
menggabungkan tehnik dan perspektif dari tulisan Vajrayana akan lebih jauh mempertinggi
pemahaman seseorang. Tetapi tanpa sebuah dasar dari inti ajaran tradisi
dalam bahasa Pali, seseorang yang mengaku adalah seorang pengikut Mahayana akan menjadi tidak berarti.

Pengulangan sutra tentu akan bermanfaat. Bila pikiran murni maka tindak tanduk akan murni.
Tapi buah kamma lampau tetap dipetik. Demikian pula hal tersebut berlaku bagi Sang Buddha.
Selama masih belum parinibanna maka buah kamma akan terus berbuah.

Saya ada beberapa referensi tentang Hukum Kamma tetapi dalam bahasa Inggris, kalau bro tertarik nanti bisa saya berikan linknya. Bentuknya pdf.

Semoga penjelasan saya bisa dimengerti

with Metta
Sumedho Benny


ching ik/ djoni wrote:
Bro Benny, 
Saya jadi penasaran atas pendapatmu tentang hal tidak sesuai hukum 
kamma. Pemahaman tentang hukum kamma sangat dalam. Banyak hal yang 
tidak sanggup kita cerna berdasarkan keterbatasan daya nalar kita. 
BAiklah saya tidak ingin panjang lebar tentang prinsip prinsip 
seperti ini, tapi bagaimana pendapat anda, bila seorang penjahat 
besar yang dilanda penyesalan lalu memahami sebait saja ucapan 
dhamma dari sebuah sutta yang sangat mulia dan mengerahkan segenap 
batinnya untuk menjalankan bait Sutta tersebut, apakah manfaat yang 
diperoleh sang penjahat? Jika tidak bermanfaat, untuk apa lagi dia 
belajar dhamma? jika bermanfaat, berarti melanggar hukum kamma-kah? 
Jadi menurut saya ini bukan masalah tidak sesuai hukum kamma, hukum 
kamma memang tetap berlaku secara alami, tetapi pada saat dia 
mengulang bait dhamma itu, pada saat itulah manfaat yang diperoleh, 
sedangkan hukum kamma tidak selalu pasti berbuah pada kehidupan itu, 
bisa saja akan berbuah di kehidupan mendatang, tetapi berkat welas 
asih sang Buddha mengajarkan dhamma melalui sutra itu, maka dia 
memiliki kesempatan untuk memetik manfaatnya, dan ini akan menjadi 
benih bagi dia untuk menyelami dhamma. Secara prinsip, dosa2 dia 
memang terhapus, ingat, dosa2 yang terhapus itu memiliki pengertian 
yang luas, anda dapat membaca kitab Vimalakirti Nirdesa sutra 
tentang percakapan antara Vimalakirti dan Upali. Percakapan ini 
terjadi saat Hyang Buddha meminta Upali untuk menjenguk Vimalakirti. 
Upali menjawab, "Yang dijungungi, aku tidak pantas mengunjungi dan 
menjenguk Vimalakirti. Pernah sekali ada 2 orang bhiksu melanggar 
larangan dan karena malu atas dosanya mereka tidak berani bertemu 
dengan Hyang Buddha. Mereka datang dan bertanya padaku : "Upali,kami 
telah melanggar Sila dan merasa malu dengan dosa kami, jadi kami 
tidak berani bertanya kepada Hyang Buddha dan datang kepadamu. 
Ajarilah kami cara bertobat agar kami bisa menghapus dosa ini." 
Kemudian aku mengajari mereka aturan bertobat. Pada saat itu 
Vimalakirti muncul dan berkata, "Hai Upali, janganlah memberatkan 
dosa mereka yang harus engkau hapuskan segera tanpa mengganggu 
pikiran mereka. Mengapa? Karena sifatnya dosa adalah tidak di dalam 
maupun di luar; tidak pula diantaranya. Sebagaimana telah dikatakan 
oleh Hyang Buddha, makhluk hidup menjadi tidak-murni karena pikiran 
mereka yang tidak murni; jika pikiran mereka murni, mereka semuanya 
murni. Demikian pikirannya demikian pula dosanya. Demikian juga 
semua hal/benda tidak keluar dari kehakikiannya. Upali, bila 
pikiranmu sudah terbebaskan, apakah masih ada tersisa ketidak 
murnian? "Aku menjawab: "tidak ada lagi". Dia berkata : "demikian 
juga pikiran dari semua makhluk hidup itu bebas dari ketidak-
murnian.Upali, pikiran khayal adalah tidak murni dan tiadanya 
pikiran khayal adalah kemurnian. Pikiran menyimpang adalah tidak 
murni dan tiadanya pikiran menyimpang adalah kemurnian. Kemelekatan 
pada ego adalah ketidak murnian dan tidak melekat pada ego adalah 
kemurnian. Upali, semua fenomena timbul dan tenggelam tanpa bertahan 
sekejap bagaikan ilusi dan kilat. Semua fenomena tidak menunggu satu 
sama lain dan tidak bertahan sekejap pikiran. Semua fenomena itu 
berasal dari pandangan palsu dan bagaikan mimpi dan nyala api, bulan 
di atas air, dan image di dalam cermin karena terlahir dari cara 
berpikir yang salah. Dia yang mengerti ini disebut pemegang disiplin 
sejati dan dia yang mengetahuinya disebut interpreter mahir (tentang 
Sila)."

Jadi pengulangan sebait Sutra bagi seorang penjahat besar sekalipun 
akan bermanfaat baginya tergantung pada tingkatan pikirannya. Bila 
pikirannya murni maka semuanya menjadi murni. Bila segala fenomena 
menjadi murni di dalam batinnya maka dosa apalagi yang perlu 
dibicarakan, karma buruk apalagi yang perlu dipetik, seperti Sang 
buddha yang memetik buah karma sakit kepala, sesungguhnya tidak ada 
fenomena itu karena telah memurnikan pikirannya. Dan ini berlaku 
pada siapapun yang telah mantap pikirannya termasuk penjahat 
sekalipun.   
 
Mudah-mudahan penjelasan saya dapat dipahami. 

amitofo

Cg ik       






 




  


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke