Sampah Pun Persoalan!
Kita ikut bernapas lega ketika akhirnya Pemerintah Kota Bandung berhasil menemukan tempat untuk pembuangan sampah.
Berhari-hari lewat laporan dan tayangan, kita saksikan gundukan sampah "menghiasi"
Bandung, kota yang karena kebersihan dan keindahannya pernah digelari "Parisnya Jawa". Untuk menarik perhatian secara menyindir, pernah ironi itu ditayangkan lewat adegan putri cantik berdiri di depan gundukan sampah.
Terus terang, apa yang saat itu muncul dalam benak kita? Suatu sindiran diri secara ironis, hah, mengurus sampah saja kita tidak lagi becus? Sebab persoalan sampah di Bandung sudah lebih dulu muncul di berbagai kota, termasuk di ibu kota negara.
Pertanyaan bernada menggugat diri juga karena, toh, sampah barang yang tampak mata dan barang mati. Maka apa susahnya? Seperti ditunjukkan di Bandung, Jakarta, dan di kota lainnya, sulitnya ialah mencari tempat pembuangan akhir sampah kota.
Sulitnya juga karena belum semua warga kota disiplin dan teratur membuang
sampah dari rumah tangganya ke tempat yang disediakan. Namun, ironisnya, bukankah salah satu yang tampak mencolok di kota besar seperti ibu kota negara justru semakin banyaknya tukang sampah disertai gerobaknya. Suatu gejala yang ditafsirkan sebagai semakin susahnya hidup bagi rakyat banyak?
Mengapa diperoleh kesan, di masa lalu, soal sampah, khususnya soal pembuangan sampah, tidak merupakan masalah? Hampir tak pernah di masa lalu kita mendengar, membaca, dan menonton pembuangan sampah terangkat sebagai masalah.
Karena masa lalu dalam soal sampah lebih baik atau karena di masa lalu warga tidak mudah bergerak dan protes atas persoalan yang menyertai pembuangan sampah? Kini dalam masa reformasi prodemokrasi berikut hak-hak warga, kita cenderung lebih peka, angkat bicara, protes, dan menentang.
Partai politik tampaknya belum turun dan hadir di tengah masyarakat dalam urusan sampah, bahkan juga dalam urusan-urusan lain. Tetapi ada, sebutlah gantinya, kegiatan aktivis dalam konteks membangunkan dan membentuk kesadaran masyarakat madani.
Kini lokasi pembuangan sampah muncul sebagai persoalan. Menyangkut sewa, ganti rugi, bau, serta urusan lingkungan hidup lainnya. Menyelenggarakan pemerintahan dalam masa transisi dewasa ini lebih rumit, lebih peka.
Pemerintah pada semua tingkatan berikut birokrasi serta berbagai institusinya dihadapkan pada tugas dan pekerjaan yang lebih rumit. Dituntut benar-benar bersih, peduli, bebas pungli, dihadapkan pada masyarakat warga yang lebih kritis. Pada waktu yang sama, pemerintah diharapkan bekerja lebih efektif dan lebih efisien.
Namun, dengan memahami semua persoalan tersebut, kita harus tetap menggugat diri, jika kita mengurus sampah saja kedodoran, apalagi amat kedodoran.
Joni Sakti, Sampah, dan Energi
FX Puniman
Lautan sampah terjadi di Kota Bandung pekan terakhir ini. Sementara
itu, di Jakarta, sampah yang berjumlah ratusan truk tak bisa dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang karena operator alat berat di TPA tersebut mogok.
Hal itu membuat Joni P Sakti (50), doktor bidang rekayasa dan manajemen lingkungan dengan bidang minor kimia dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, lulusan tahun 1993 dengan predikat magna cum laude, sangat prihatin.
"Sedih dan prihatin. Masalah sampah tampaknya tidak kunjung tuntas teratasi. Padahal, sampah sebetulnya bisa kita konversi menjadi energi dan produk berharga lain bila kita mampu mengolah dan mengelolanya secara benar," ungkap Joni pertengahan Mei lalu.
Lelaki kelahiran Jepara, Jawa Tengah, tahun 1956 yang menyelesaikan sarjana teknik sipil di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
tahun 1982 dan kini tinggal di Bogor, itu memaparkan konsep mengolah sampah organik menjadi energi dan produk bernilai jual tinggi, berdasarkan hasil penelitiannya yang sudah dipublikasikan di beberapa jurnal di AS, antara lain Applied Biochemistry & Biotechnology, Anaerobic Digestion: A Waste Treatment Technology, dan Resources & Conservation.
Menurut Joni, pengolahan sampah menjadi energi (WTE) sudah dilakukan di luar negeri antara lain di Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, bahkan Singapura, dan menjadi populer belakangan ini karena harga minyak dan gas terus naik tajam.
"Sampai saat ini WTE belum diimplementasikan dalam skala industri oleh tenaga ahli Indonesia," kata Joni yang tujuh tahun bekerja di perusahaan konsultan bidang teknik dan manajemen lingkungan di AS.
Dia kemudian bekerja di Indonesia dan Singapura setelah pulang pada tahun 1994 atas saran dosennya, Prof Dr Paul Mac Berthouex, yang pernah menjadi konsultan teknik dan manajemen lingkungan Pemerintah Indonesia, untuk berkarya di Indonesia yang membutuhkan tenaga di bidang lingkungan.
"Sejak beberapa tahun lalu, terutama setelah kenaikan gila-gilaan harga bahan bakar minyak, saya mengembangkan konsep WTE yang menggunakan keuntungan kompetitif dan kacamata Indonesia. Teknologi ini berdasarkan riset saya di AS dikombinasi dengan kajian mendalam dari berbagai industri WTE di negara maju, misalnya RefCoM & Sebac (AS), Dranco (Belgia dan Jerman), Valorga (Perancis), dan Italba (Italia). Teknologi ini kemudian saya beri nama BioConvension of Organic Refuse to Energy with Total Recycling System (BioCORE TRS)," kata Joni.
BioCORE TRS
BioCORE, menurut Joni yang menikah dengan Sherley Chandra MBA, adalah proses di mana sampah organik, yaitu sampah yang mudah membusuk, seperti segala sayuran, buah, daging, ikan, telur, nasi, mi, rumput, dan daun, diubah menjadi energi, sedangkan produk berharga lainnya seperti biogas, listrik, bahan makanan ternak, pupuk organik plus, dan atau briket sampah organik. Metode yang dipakai adalah fermentasi anaerobik.
TRS sendiri adalah daur ulang menyeluruh. Semua sampah anorganik sisa sampah organik menjalani daur ulang semaksimal mungkin. Segala jenis sampah yang bisa didaur ulang, seperti kertas dan produk dari kertas, logam, kaca, tekstil, plastik, kayu, dan karet, dimanfaatkan lagi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, sampah yang tersisa adalah dari jenis keramik, abu, lumpur, debu, dan jenis lain yang
mempunyai karakteristik seperti tanah itu sendiri, bebas dari bahan kimia berbahaya.
"Sampah yang tersisa ini bisa digunakan untuk bahan timbunan sehingga materi yang benar-benar dibuang ke TPA volumenya berkurang sampai dengan 97 persen dari total volume sampah. Dengan begitu, lahan yang diperlukan sangat minimal," ujar Joni.
Bahan gratis
Bahan baku BioCORE adalah sampah yang diproduksi setiap hari, termasuk sumber energi yang terbarukan dan tersedia gratis di mana-mana.
"Dengan mengubah sampah menjadi energi, negara kita akan menjadi lebih bersih, nyaman, dan terbebas dari pencemaran udara, air, dan tanah yang disebabkan sampah, bahkan dapat membantu mencabut subsidi minyak tanah
tanpa membebani rakyat miskin, karena harga energinya bisa Rp 1.130, setara satu liter minyak tanah," papar Joni.
Selama studi di AS tahun 1983-1993, Joni hanya enam bulan pertama dibiayai orangtuanya. Selanjutnya, dia hidup mandiri dengan menjadi asisten dosen di tempatnya kuliah pascasarjana di Universitas Texas di El Paso, AS.
Joni optimistis industri BioCORE TRS dapat dikembangkan di Indonesia dengan sangat efisien, efektif, dan kompetitif.
Menurut Joni, selain dapat menjadi solusi optimal untuk mengatasi permasalahan kritis sampah dan energi, industri BioCORE TRS juga dapat menjadi bisnis yang sangat potensial di Indonesia. Sebagai ilustrasi, dengan retribusi sampah gratis, tingkat pengembalian modal bisa mencapai lebih dari 24 persen dengan potensi pendapatan
lebih dari 3 miliar dollar AS per tahun. Bahkan, kata Joni lagi, suatu ketika industri BioCORE dapat membeli sampah dengan harga layak. "Alangkah baiknya bila nama TPA diubah menjadi pusat pengolahan sampah menjadi energi dan daur ulang," ujarnya.
FX Puniman Wartawan, Tinggal di Bogor
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
