DUALITAS MENCIPTAKAN KONFLIK

Konflik apa pun--fisikal, psikologis, intelektual--adalah pemborosan
energi. Mohon disimak, adalah luar biasa sulit untuk memahami dan
bebas dari ini oleh karena kebanyakan dari kita dibesarkan untuk
berjuang, berupaya. Ketika kita bersekolah, itulah yang pertama kali
diajarkan kepada kita--berupaya. Dan perjuangan itu, upaya itu dibawa
sepanjang hidup--yakni, untuk menjadi baik Anda harus berjuang, Anda
harus melawan kejahatan, Anda harus menentang, mengendalikan. Jadi,
secara edukasional, secara sosiologis, secara religius, manusia
diajar berjuang. Anda diajar, bahwa untuk menemukan Tuhan Anda harus
bekerja, mendisiplinkan, berlatih, memelintir dan menyiksa jiwa Anda,
batin Anda, tubuh Anda, mengingkari, menekan; Anda tidak boleh
memandang; Anda berkelahi terus-menerus di tingkat yang dinamakan
tingkat spiritual--yang sama sekali bukan tingkat spiritual. Lalu,
secara sosial, setiap orang harus bekerja untuk diri sendiri, dan
untuk keluarganya.

... Jadi, di mana-mana, kita membuang-buang energi. Dan pembuangan
energi itu pada dasarnya adalah konflik: konflik antara "saya harus"
dan "saya tidak boleh". Setelah menciptakan dualitas, konflik tak
dapat dihindarkan. Jadi kita harus memahami seluruh proses dualitas
ini--bukan berarti tidak ada laki-laki dan perempuan, hijau dan
merah, terang dan gelap, tinggi dan rendah; semua itu fakta. Tetapi
di dalam upaya yang dikerahkan dalam pemisahan antara fakta dan
gagasan, terdapat pemborosan energi.





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke