Dalam majalah Dhammacakka, edisi Visakha Puja, no.42/XII/Mei-Juli
2006, terdapat artikel berjudul "Apa Kabar Agama Buddha di Tanah Air"
(halaman 42 - 49). Sebuah paragraf dalam artikel itu, di bawah
subjudul "Semaraknya Kursus Meditasi", berbunyi:

"Setelah memahami demikian, seseorang yang ingin berlatih meditasi
seyogyanya memilih praktik pengembangan batin yang menuju Tujuan
Tertinggi yakni Vipassana Bhavana, yang tentunya hanya dapat dilatih
dengan didukung praktik latihan Sila (moralitas) dan Samadhi
(pengendalian pikiran) yang baik pula sebagai pondasi dasarnya. Perlu
digarisbawahi bahwa setiap metode meditasi yang menyandang label
Vipassana Bhavana harus mengacu pada Mahasatipatthana Sutta. Tidak
ada kompromi untuk ini."

    Yang ingin saya tanggapi adalah dua kalimat terakhir dari
paragraf tersebut, yang dirasa perlu oleh penulisnya untuk
digarisbawahi. Kedua kalimat itu saya anggap tidak lebih dari opini
subyektif penulisnya. Saya sendiri mempunyai opini pribadi lain.

    Memang 'mainstream' guru-guru meditasi vipassana Theravada
berpegang pada dua sutta dari Digha-Nikaya (Maha-satipatthana-sutta,
DN 22) dan Majjhima-Nikaya (Satipatthana-sutta, MN 10) itu sebagai
"acuan" dalam mengajarkan meditasi vipassana. Namun, kata-kata "Tidak
ada kompromi untuk ini" menunjukkan sikap eksklusif penulisnya, suatu
sikap yang sama sekali asing bagi para pemeditasi vipassana itu sendiri.

    Tidak semua guru meditasi vipassana mengacu kepada kedua sutta
terkenal itu. Antara lain, YM Buddhadasa Mahathera almarhum, guru
vipassana bertaraf internasional di abad ke-20 M dari Vihara Suan
Mokkh di Selatan Thailand. Dalam mengajar vipassana, beliau tidak
mengacu pada kedua Satipatthana sutta itu, melainkan mengacu
sepenuhnya pada Anapanasati-sutta dari Majjhima-Nikaya. (Lihat
"Mindfulness with Breathing, A Manual for Serious Beginners", yang
baru-baru ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan
oleh Penerbit Suvarna Dwipa, Palembang; beberapa paragraf yang
relevan dari buku itu saya terjemahkan dan lampirkan di bawah ini.)

    Di lain pihak, YM Buddhadasa melihat kedua Satipatthana-sutta di
atas sebagai "tidak lebih dari suatu daftar panjang istilah-istilah,
suatu katalog bertele-tele tentang himpunan-himpunan fenomena.
Sekalipun tercantum kelompok-kelompok fenomena secara lengkap, namun
tidak diberikan atau dijelaskan suatu metode untuk dilatih."
("nothing more than a long list of names, a lengthy catalog of sets
of dhammas. Although there are whole groups of dhammas, no method of
practice is given or explained.").

***

Suatu metode vipassana yang terkenal luas di dunia adalah metode SN
Goenka. (Dalam majalah Dhammacakka di atas terdapat pula artikel
panjang lebar tentang metode itu di halaman 33 - 36.) Para pemula
sistem vipassana SN Goenka diwajibkan untuk mengikuti retret selama
10 hari. Dalam retret ini masih belum dilatih pengamatan terhadap
empat kelompok fenomena (tubuh, perasaan, batin dan fenomena lain)
sebagaimana tercantum dalam kedua Satipatthana-sutta.

    Selama 3 hari pertama, pemeditasi melatih konsentrasi dan
kepekaan terhadap sentuhan napas pada daerah sekitar lubang hidung
(anapanasati). Selama 7 hari berikutnya, pemeditasi melatih
pengamatan terhadap rasa tubuh (vedana) secara sistematik mulai dari
puncak kepala sampai ke ujung kaki, bolak-balik. Jelas bahwa dalam
retret 10 hari itu metode vipassana SN Goenka tidak mengacu secara
lengkap kepada Satipatthana-sutta, melainkan kepada pengalaman
meditasi dari garis keturunan guru-gurunya, yakni U Ba Khin dan
lain-lainnya. (Dalam sistem vipassana SN Goenka, retret Satipatthana
yang sesungguhnya selama 8 hari baru boleh diikuti setelah pemeditasi
menyelesaikan dua kali retret 10 hari.)

***

Saya sendiri mengajarkan meditasi vipassana versi MMD (Meditasi
Mengenal Diri) tanpa mengacu pada kedua Satipatthana-sutta maupun
pada Anapanasati-sutta. Saya "mengacu" kepada pengalaman batin saya
sendiri berdasarkan pencerahan yang berkembang setelah membaca
pengalaman J. Krishnamurti. Namun saya tidak pernah menggunakan
ajaran Krishnamurti sebagai "acuan", apalagi acuan verbatim
(harfiah); saya tidak mengharuskan pemeditasi MMD untuk menerima
ajaran Krishnamurti sebagai "acuan tanpa kompromi". Saya bahkan tidak
pernah menyebut-nyebut nama Krishnamurti dalam setiap retret MMD yang
saya adakan.

     Pendekatan ini saya gunakan oleh karena saya mengajarkan
vipassana tidak terbatas kepada umat Buddhis saja. Seorang pemeditasi
MMD tidak perlu mempelajari lebih dulu buku acuan mana pun, entah itu
sutta-sutta Buddhis, entah ajaran Krishnamurti. Untuk mampu mengamati
badan & batin sendiri sampai tercapai pembebasan terakhir tidak
dibutuhkan acuan eksternal apa pun. Malah acuan eksternal seperti itu
tanpa disadari justru hanya akan merintangi pengamatan terhadap
gerak-gerik pikiran sendiri, hanya akan menimbulkan pemilahan dan
pembandingan intelektual semata-mata yang tidak bebas dari dualitas,
sehingga tidak bisa melihat badan & batin seperti apa adanya, dan
dengan demikian tidak bisa melihat kelekatan batin kepada
pengetahuannya sendiri, yang pada hakekatnya adalah kelekatan kepada
aku (ego, atta).

    Pengalaman mengajar MMD selama beberapa tahun menunjukkan kepada
saya, bahwa dalam banyak kasus, justru pemeditasi MMD yang
non-Buddhis--yang dengan demikian di satu pihak tidak dijejali dengan
teori-teori dan konsep-konsep Buddhisme, dan di lain pihak secara
mental sudah siap untuk melepaskan konsep-konsep agamanya sendiri
ketika memutuskan untuk mengikuti retret MMD--justru relatif jauh
lebih cepat menangkap hakekat dan kiat vipassana yang sesungguhnya
dibandingkan dengan para pemeditasi MMD yang Buddhis, yang dalam
diskusi-diskusi intelektual tampak amat menguasai konsep-konsep Buddhisme.

    Demikianlah, untuk dapat menjalankan vipassana secara efektif dan
tuntas, kelekatan kepada ajaran-ajaran agama sendiri, termasuk kepada
ajaran Buddha (Satipatthana-sutta) maupun ajaran Krishnamurti,
merupakan penghalang TERBESAR bagi munculnya pencerahan dan
pembebasan. Apalagi kalau ditambah dengan "tanpa kompromi", yang
hanya menunjukkan eksklusivisme, yang justru menghalangi pencerahan
dan pembebasan.

Salam,
Hudoyo


SATIPATTHANA ADALAH ANAPANASATI

Oleh: Bhikkhu Santikaro (murid dan penerjemah YM Buddhadasa Mahathera alm.)

Bahkan teori 'anapanasati' dapat digunakan di dalam meditasi dalam
kehidupan sehari-hari. Setelah kita meluangkan waktu untuk
mempelajari dan memahami keenambelas langkah (yang mungkin
membutuhkan bacaan tambahan), kita tidak perlu membatasi penerapannya
pada napas saja. Ajahn Buddhadasa menunjukkan bahwa kedua versi
Satipatthana-sutta tidak memiliki metode latihan yang terumuskan
dengan jelas, sedangkan Anapanasati-sutta memiliki garis besar suatu
sistem latihan yang progresif dan lengkap. [Menurut Ajahn Buddhadasa]:

"Suatu masalah yang umum terdapat ialah bahwa sementara orang terlalu
banyak melekat dan terpaku pada kata 'satipatthana' (landasan
perhatian-penuh). Beberapa di antara mereka malah mengira bahwa
'anapanasati' tidak ada kaitannya dengan 'keempat landasan
perhatian-penuh'. Beberapa malah menolak 'anapanasati' sama sekali.
Di beberapa tempat orang sungguh-sungguh bergantung pada kata
'satipatthana'. Mereka melekat pada 'satipatthana' dari Digha-Nikaya,
yang tidak lebih daripada daftar panjang istilah-istilah, katalog
bertele-tele dari himpunan-himpunan fenomena. Sekalipun tercantum
kelompok-kelompok fenomena secara lengkap, namun tidak diberikan atau
dijelaskan suatu metode untuk dilatih. Inilah yang biasanya dianggap
sebagai 'satipatthana'. Lalu itu disesuaikan dan disusun kembali
menjadi praktek-praktek yang berbeda, yang menjadi sistem-sistem baru
yang disebut latihan atau meditasi 'satipatthana'.

      "Lalu, para pengikut teknik-teknik seperti itu mengingkari,
atau bahkan membenci, pendekatan 'anapanasati', dengan mengemukakan
bahwa itu bukan 'satipatthana'. Sesungguhnya, 'anapanasati' adalah
intisari dari 'satipatthana', intisari dari 'keempat landasan
perhatian-penuh'. Keenambelas langkah [dalam Anapanasati-sutta]
adalah latihan yang jelas dan gamblang, bukan sekadar daftar istilah
atau fenomena seperti di dalam Mahasatipatthana-sutta (Digha-Nikaya
22). Oleh karena itu, janganlah kita salah sangka bahwa 'anapanasati'
bukanlah 'satipatthana'; kalau tidak, kita mungkin kehilangan minat
terhadapnya, karena mengira itu salah. Sayang sekali, kesalahpahaman
ini umum terdapat. Marilah kita nyatakan kembali bahwa 'anapanasati'
adalah intisari dari 'keempat landasan perhatian-penuh' dalam bentuk
yang langsung dapat dipraktekkan.

      "Kita telah meluangkan waktu untuk membahas istilah
'satipatthana' dan 'anapanasati' untuk mengakhiri kesalahpahaman yang
mungkin menghasilkan kekurangpahaman yang sempit akan apa yang
dilakukan oleh orang lain. Jadi, mohon pahami dengan benar, entah
yang kita namakan 'satipatthana' entah 'anapanasati', hanya ada empat
hal yang penting: 'kaya' (tubuh), 'vedana' (perasaan), 'citta'
(batin), dan 'dhamma' (fenomena). Namun, di dalam
Mahasatipatthana-sutta tidak ada penjelasan bagaimana harus melatih
keempat hal ini. Sutta itu hanya memberikan dan membahas secara
meluas nama dari fenomena-fenomena itu. Misalnya, fenomena 'kaya'
(tubuh) diperluas menjadi meditasi terhadap mayat, 'sati-sampajanna'
dalam kegiatan sehari-hari, posisi tubuh, dan hal-hal lain, lebih
banyak daripada yang dapat diingat. Sutta ini hanya memuat daftar
kelompok-kelompok fenomena di bawah keempat bidang kajian.

      "Di lain pihak, Anapanasati-sutta menunjukkan bagaimana harus
melatih keempat landasan itu secara progresif dan sistematik, yang
berakhir pada pembebasan dari semua 'dukkha'. Keenambelas langkah
bekerja melalui keempat landasan, masing-masing langkah berkembang di
atas langkah sebelumnya, dan mendukung langkah berikutnya. Jika Anda
melatih keenambelas langkah itu secara lengkap, intisari
'satipatthana' muncul secara sempurna. Singkatnya, kedua sutta
'satipatthana' hanyalah sekadar daftar istilah-istilah; sedangkan
Anapanasati-sutta menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya
melatih keempat landasan itu tanpa kelebihan apa pun, tanpa
menyebutkan hal-hal yang tidak berkaitan." (Dari sebuah khotbah oleh
Ajahn Buddhadasa dalam retret pada 5 April 1987.)

[Dalam paragraf-paragraf berikutnya, dalam judul "Versi
Dipersingkat", Bhikkhu Santikaro menjelaskan ajaran Ajahn Buddhadasa
bahwa, bagai pemeditasi yang tidak berminat untuk mengembangkan
keenambelas langkah dalam Anapanasati-sutta itu, mereka dapat
mempersingkat latihannya dengan hanya mengembangkan tetrad (kelompok
empat langkah) pertama dan tetrad keempat saja, dengan kata lain
memintasi tetrad kedua dan ketiga. Juga ditekankan bahwa pada akhir
tetrad pertama (pada langkah keempat) pemeditasi tidak perlu masuk ke
dalam 'jhana' sepenuhnya untuk dapat meneruskan kontemplasinya pada
tetrad kedua dan seterusnya, atau langsung melangkah kepada tetrad
keempat, sampai tercapainya pencerahan dan pembebasan sempurna
(nibbana)./hudoyo]





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke