>
> Dear all..
> Para calon Buddha..
>
> Menarik juga topik satu ini..
> Jadi kepingin ikut nimbrung..
>
> Ini ada dua topik menarik,
>
> Pertama soal menerima hasil kejahatan..
> Seberapa jauh defenisi kejahatan itu.. batasannya seperti apa..??
> Apakah cuma merampok saja..??
> Apakah korupsi masuk di sini..??
> Apakah judi masuk di sini..??
> Apakah eksploitasi rakyat miskin juga masuk..??
> Apakah itu juga termasuk sumbangan2 dari konglomerat2
> yang besar kemungkinan berasal dari KKN, penipuan, dan eksploitasi..??
>
> Kaloo iya, wah bisa gawat juga kita semua..
> Hampir sebagian besar wihara, kalo mau jujur menerima sumbangan dana dari orang2 seperti itu..
> Kecuali mungkin sebagian kecil wihara2.. yang swadaya dari umatnya..??
> Itupun siapa yang tahu umatnya ada yang curi2 apa gak..??
kejahatan tentu saja melalui cara yang tidak jujur, kalau merampok, korupsi, judi, eksploitasi rakyat miskin tentu saja sudah jelas banyak melalui cara tidak jujur.
kalau konglomerat kan tidak semuanya berlaku curang, jadi hasil uangnya pasti kombinasi antar kejujuran dan juga cara2 tidak jujur.
Saya sendiri poisisinya kuli perusahaan, tentu saja berusaha semaksimal utk menghindari ketidakjujuran. namun saya tetap tidak terlepas dari ketidakjujuran, contoh saja kalau urusan pajak dan data, saya melanggar sila...dan tuntutan kerja jaman modern seperti ini, jujur 90% aja susah, apalagi 100% :)
barangkali kita perlu mengingat kembali 3 pintu (pikiran, ucapan, dan perbuatan), dengan hanya berpikir mencuri saja, kita telah mengakumulasikan karma buruk melalui pikiran, apabila sampai muncul kata-kata "aku mau mencuri" dan kemudian mencari cara utk mencuri, dan berhasil mendapatkan barangnya, dgn dasar tamak, dan puas setelah mendapat barang curian, maka lengkaplah perbuatan mencuri itu.
kemudian, kalau urusan terima-menerima dana dari seseorang ke sebuah institusi (wihara kek, masjid kek, dll), saya masih pikir2 lagi, karena effek akan kena kepada sang penerima (person, bukan institusi). namun istitusi juga diwakilkan oleh person atau sekelompok orang (contohnya pengurus wihara), dan ini akan coba saya renungkan dan cari bahan yang berkaitan, untuk sementara saya tidak tahu persisnya.
tapi kalau seorang anggota sangha (contoh), menerima dana dari umat yang jelas2 ia ketahui dari hasil pencurian, maka anggota sangha berhak untuk menolak dengan halus pemberian dana itu. kalau mau terima juga yang, silakan juga...ia harus siap menanggung resiko masing-masing.
kalau pengurus merasa tidak yakin dengan sumbangan dari pak Harto (eks Presiden Indo), tentu saja boleh di tolak, ini yang bisa kita lakukan. ingat bro, kita masih dalam samsara, kita berusaha semaksimal utk menjauhkan 'direct chain' dari karma buruk. agar karma buruk tidak lengkap, contoh saya harus berbohong atas urusan pajak, tapi itu tidak totally lengkap akumulasi karma buruk, karena ada komponen yang tidak lengkap, ini meringankan effek karma buruk. kecuali saya bersitegas utk tetap mempertahankan kemurnian kejujuran, dan akibatnya mungkin bisa di pecat, ya...pilihan masing-masing lah. tapi kerja di manapun, tetap sulit utk menghindari urusan beginian.
>
> Kalo di komunitas tetangga kita yang mayoritas, katanya uang haram itu gak boleh diterima..
> Bisa bikin sakit perut kalo makan dari uang haram, dsb..
> Tapi saya juga sangsi apakah masjid2 yang mewah itu bukan sumbangan dari hasil KKN dsb.
> Salah satunya yang dari Yayasan milik babe Harto yang banyak sekali bangun masjid..??
> Nah di Buddhis nich.. Perlu digali kebenarannya.. Literatur akademiknya..
> Tolong teman2 yang lebih ngelotok literatur buddhisnya, bantu2 kita..
> Tapi jangan cuma pake karma yach.. (kalo bisa..)
>
> Kalo isyu (yang benar isyu atau isu) kedua, soal vegetarian..
> Wah ini isyu/isu yang gak bakalan selesai..
> dari jaman dulu ampe kita mati-hidup-mati lagi berkali2..
> Entah kita yang jadi ayam, sapi, dll yang dipotong
> atau kita yang tukang potong or suruh orang potong..
> Jadi gak usah dibahas kali yach..
> Soalnya yang satu ini udah sering banget dibahas dan gak pernah kelar..
>
> Saya pribadi pendukung berat vegetarian..
> So Go Vegetarian..!! Maju terus pantang mundur..!!
> Biar dibilang orang muna, dll.. masa bodoh, yang penting tujuan kita mulia..
> Yang jauh lebih penting kita suarakan sebagai orang yang vegetarian adalah bahwa
> pola makan vegetarian akan sangat berperan bagi pelestarian lingkungan hidup..
> wow.. sombong sekali..
> memang kita harus sombong.. sekali-sekali..
> hehe..
kalau vege tidak vege masing2 punya strong point, namun yang paling penting adalah vegetarian maupun tidak vegetarian harus tidak muncul sebuah kemelekatan jenis baru dari tindakan itu, dan terbebas dari 8 angin duniawi, contohnya vegetarian dengan niat biar dibilang nih orang suci, vegetarian agar dipuji oleh orang lain, vegetarian demi utk dpt kehormatan, sanjungan, dll.
oyah, untuk mengurangi direct chain akibat karma, kita jgn pesan makan berdaging yg khusus di bunuh utk kita, karena akibatnya sangat buruk, contoh, ikan gurame yang masih hidup, kita suruh pelayan restoran utk membunuhnya, terus dibuatkan hidangan makanan utk kita.
kalau ikan gurame-nya sudah dibunuh, dan kita datang kemudian baru melihat, oh ini gurame udah di bunuh sebelumnya dan di freezer, kita pesan hidangan makanan gurame juga kena karma buruk, tapi efeknya tidak sebesar contoh pertama (tetap menerima karma buruk). karena semakin jauh dari direct effect-nya.
akhirnya tetap harus ada kaitan dgn karma bro hendry, gpp lah
yang paling tepat adalah menurut saya adalah,
bagi yang vegetarian, ketika tidak bisa vegetarian; yah sudah makan aja daging yang ada, tidak perlu repot2 cari sayur yg murni tanpa daging, tanpa bawang, tanpa telor.
bagi yang tidak vegetarian, kalau tidak ada daging, ya sudah makan saja sayur yg ada, tanpa harus mencari-cari daging demi pemuasan nafsu keinginan atas daging.
indahkan dunia ini?
personal opinion
>
> Ada yang tidak setuju..
> Kita diskusi topik ini dengan judul yang lain..
>
> Thanks,
> henry
>
>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Bro Benny,
>
> Sungguh sangat tragis apabila kita membiarkan orang lain untuk terus
> melakukan pelanggaran sila, dengan dalih bahwa kita sebagai penerima
> (bukan yang merampok atau yang membunuh) tidak melakukan kamma buruk dan
> tidak akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri (orang lain yang akan
> menerima kammanya karena perbuatan salahnya).
>
> Itu artinya kita "Membenarkan" perbuatan salah yang dilakukan oleh orang
> lain, dan ini menimbulkan perbuatan itu terjadi berulang-ulang tanpa ada
> yang bisa mengurangi atau menghentikannya (pembunuhan mahluk hidup tetap
> akan terjadi dan semakin banyak karena permintaan akan daging semakin
> tinggi seiring bertambahnya penduduk dunia).
> Dan lebih mengerikan lagi jika sebuah Vihara mengetahui dan "menerima"
> dana hasil rampokan, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Vihara
> tersebut dan anggapan umat lain terhadap agama Buddha.
>
> Selama kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita,
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih baik, maka seharusnya
> kita berusaha untuk melakukannya.
> Sebaliknya jika kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita,
> lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih buruk, maka seharusnya
> kita berusaha untuk menghindarinya.
>
> Saya pikir Kalama sutta cukup relevan dengan diskusi kita kali ini,
> berikut saya kutipkan.
> "Oleh karena itu, warga Suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita
> yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan
> tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja
> apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang dikatakan
> sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya telah
> direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan
> pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi
> gurumu.
>
> Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu
> mengetahui, âHal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak
> dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan
> mengakibatkan kerugian dan penderitaan,â maka sudah selayaknya kamu
> menolak hal-hal tersebut."
>
>
> With Metta,
>
> Mulyadi
>
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
