| Bencana dan Kearifan Tradisional F Rahardi Data infografis korban gempa yang dihadirkan (Kompas, 29/5/2006) menarik disimak. Jumlah rumah yang roboh di satu desa tidak paralel dengan jumlah korban yang meninggal. Mungkin ini pertanda, kearifan tradisional tangguh menghadapi bencana.
Dalam infografis itu, di Desa Gantiwarno, Klaten, ada 10.617 rumah roboh, tetapi korban meninggal 273. Di Trucuk, 1.126 rumah roboh, korban meninggal 20. Karangdowo, 919 rumah roboh, meninggal delapan. Juwiring 894 rumah, meninggal dua. Sebaliknya di Wedi, rumah roboh 0, yang meninggal 188. Prambanan rumah roboh 0, meninggal 162. Jogonalan dan Jatinom, rumah roboh 0, meninggal 20. Jika data Kompas akurat, maka bisa disimpulkan, robohnya sebuah rumah, belum tentu mengakibatkan korban jiwa. Sebaliknya rumah yang tidak roboh, bisa mengakibatkan korban jiwa cukup banyak. Diduga, rumah yang roboh tanpa korban jiwa adalah bangunan sementara. Rumah ini berkerangka kayu, beratap genteng kualitas rendah, seng, asbes, atau rumbia, berdinding papan atau gedek (anyaman bambu). Meski rumah roboh, penghuni bisa selamat, paling banter luka-luka.
Rumah yang tidak roboh tetapi menimbulkan korban jiwa, kemungkinan bangunan permanen atau semipermanen. Rumah ini berdinding tembok batu bata atau batako, namun tidak disertai konstruksi yang benar, atau dengan bahan perekat berkualitas rendah. Hingga saat terjadi guncangan, terutama guncangan horizontal, dinding akan ambrol tetapi rumah tidak roboh. Ambrolnya dinding inilah yang diduga menelan korban jiwa. Jepang dan Majapahit Jepang adalah negeri gempa. Masyarakatnya amat sadar akan bahaya gempa. Rumah di Jepang umumnya berkerangka dan berdinding kayu. Pintu dan jendela menggunakan kertas, bukan kaca. Atap dan plafon rumah terbuat dari bahan ringan, tetapi kuat. Konstruksi bangunan diperhitungkan agar saat ada guncangan horizontal, vertikal, diagonal atau gabungan,
kerangka, dinding dan atap rumah tetap bisa melekat satu sama lain. Seandainya guncangan demikian hebat dan rumah roboh, kemungkinan besar penghuninya akan selamat. Sebab bahan bangunan yang menimpanya berupa kayu ringan. Kepulauan Nusantara, kecuali Kalimantan, juga merupakan kawasan gempa. Itulah sebabnya Istana Majapahit hanya menggunakan batu bata untuk tembok keliling, fondasi dan lantai. Istana sendiri berkerangka kayu, beratap ijuk, alang-alang atau rumbia dan berdinding gedek rangkap dua. Model arsitektur istana Majapahit mirip arsitektur pura, Bale Banjar atau rumah bangsawan Bali. Sambungan tiang dengan belandar dan pengeret, tidak menggunakan paku, tetapi dibentuk konstruksi hingga saling mengait. Kerangka bangunan juga masih dikuatkan dengan kerbil, kayu menyilang yang menopang sudut siku. Konstruksi ini diciptakan agar
bangunan tahan terhadap guncangan gempa. Seandainya guncangan berkekuatan besar hingga bangunan roboh, korban jiwa bisa diminimalkan. Tahun 1970-an, pernah terjadi gempa besar di Sukabumi-Jawa Barat. Rumah-rumah tradisional semipanggung, dengan umpak tinggi, banyak yang masih utuh. Sementara rumah tembok, terutama tembok batako banyak yang hancur. Tetapi rumah dengan kearifan tradisional ini, kini dianggap rumah orang amat miskin. Hingga masyarakat di seluruh Indonesia berlomba-lomba mengganti rumah gedek menjadi tembok, namun dengan konstruksi salah dan bahan kualitas rendah. Bambu permanen Dalam dunia teknik sipil, rumah berkerangka kayu, berdinding gedek dan beratap rumbia, dikategorikan sebagai bangunan sementara, atau bedeng darurat. Dalil ini
masih bisa diuji kebenarannya. Rumah permanen di Jepang banyak yang berbahan kayu dan bambu. Istana Majapahit dan Bale Banjar di Bali yang berkerangka kayu, berdinding bambu dan beratap alang-alang atau rumbia, juga bangunan permanen. Bukan semi permanen atau bedeng darurat. Di dataran tinggi Ijen, Jawa Timur, ada contoh menarik. Rumah administratur perkebunan kopi swasta Perancis, yang kini milik PT Perkebunan Nusantara XII, dibangun tahun 1920-an. Kerangka kayu, dinding dan lantainya anyaman bambu. Rumah itu hingga kini masih kokoh. Selain karena konstruksinya benar, kayu dan bambunya juga diberi perlakuan khusus agar tidak lapuk, dimangsa rayap dan bubuk. Pertama, penebangan bambu dilakukan setelah keluar rebung, hingga kadar pati dan gula pada batang turun. Kayu dan
bambu yang sudah diolah, juga harus direndam dalam lumpur, minimal tiga bulan, hingga seluruh pori-pori tertutup rapat. Kayu dan bambu yang sudah direndam akan tahan puluhan bahkan ratusan tahun, meski kayunya bukan kelas keawetan tinggi. Rumah dengan kearifan tradisional seperti ini, tidak bisa dikategorikan sebagai bangunan sementara. Sebaliknya, rumah tembok batako dengan konstruksi lemah dan bahan kualitas rendah, juga tidak bisa dikategorikan sebagai bangunan permanen. Namun, masyarakat sudah telanjur melecehkan bangunan dengan kearifan tradisional. Selain mendapat bambu berkualitas baik, rumbia, alang-alang terlebih ijuk, sudah sulit. Hingga harga gedek dan rumbia, bisa lebih tinggi dari kayu lapis dan genteng. Konstruksi tangguh Di kepulauan
Nusantara, banyak konstruksi tradisional yang kekuatannya luar biasa. Rumah- rumah lanting di Sumatera dan Kalimantan, tangguh menghadapi pasang surut sungai, rawa dan laut. Rumah adat di Sumba, Flores, Papua, dan Badui Dalam, juga memiliki fungsi amat tepat, dalam menghadapi kondisi alam mikro setempat. Orang kota suka mengkritik, kok tidak ada ventilasi, sinar tak bisa masuk dan lainnya. yang belum tentu benar dilihat dari kearifan lokal. Konstruksi rumah tradisional kita, ibarat perahu Phinisi atau cadik, sederhana tetapi mampu menahan guncangan ombak dan badai. Selain tangguh menghadapi bencana alam, kearifan tradisional juga tangguh menghadapi kapitalisme global. Kalau rumah berkerangka kayu dan berdinding gedek yang diikat tali, maka uang akan kembali berputar di lingkungan mikro setempat. Keuntungan akan dinikmati tetangga. Bukan konglomerat pabrik semen, besi beton, paku, kaca dan cat.
Seandainya rumah-rumah di Meulaboh dan Banda Aceh masih berkonstruksi panggung dengan tiang tinggi; seandainya hutan mangrove di lepas pantai dua kota itu tidak dibabat habis; mungkin korban tsunami tidak sebanyak itu. Misalkan, semua rumah di Bantul dan Klaten berkerangka kayu, berdinding bilik bambu, beratap alang-alang, rumbia atau daun tebu; mungkin korban gempa bisa lebih diminimalkan. Kearifan tradisional yang berkonotasi miskin dan bodoh, tetap lebih unggul dibanding kultur modern yang tanggung. F Rahardi Penyair, Wartawan |