Teman-teman Sedharma,
 
Saya ingin berbagi cerita tentang kisah bayi Justin yang lahir dari pasangan muda Kusnadi-Lany. Mereka berdomisili di Bogor dan aktif di PMVBB (dahulu BSSB) di Vihara Buddhasena, Bogor. Bayi Justin lahir prematur dengan berat badan 1.58 kg dan tinggi 40 cm. Karena berat badan yang kecil, bayi Justin harus tetap tinggal di inkubator selama 3 minggu dengan bantuan oksigen dan lampu penghangat. Ini pun menghabiskan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp 3- 4 juta-an.
 
Setelah berusia 3 bulan, baru terdeteksi bahwa Justin menderita katarak dan oleh dokter anak dianjurkan untuk test darah. Dari hasilnya diketahui bahwa Justin terserang virus Rubella ketika berada di kandungan. Info dari Lany sendiri, ketika hamil, semua berjalan dengan lancar dan tidak mengalami komplikasi. Lany rajin kontrol ke dokter kandungan secara regular dan mengikuti semua anjuran dokter. 
 
Setelah diketahui terkena Rubella maka dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan bayi Justin yang baru berusia 10 bulan diketahui menderita: katarak, Cerebral Palsy, penyakit jantung bawaan (PDA & PS) dan gangguan pendengaran. Operasi katarak sudah dilaksanakan dengan menggunakan tabungan mereka.
 
Lany dan Kusnadi bekerja sebagai karyawan swasta. Seperti halnya pasangan muda mereka masih tinggal di rumah orang tua dan mulai menabung untuk masa depan. Tapi untuk saat ini, semua tabungan sudah dikerahkan untuk biaya operasi katarak Justin, biaya physiotherapy, biaya dokter dan lain-lain. Karena cerebral palsy yang diderita Justin, setiap minggu, Justin harus menjalani physiotherapy untuk perkembangan motorik. Untuk saat ini, mereka butuh dana untuk membeli alat bantu pendengaran untuk Justin karena bila tidak segera dipasang alat bantu dengar, untuk jangka panjang, Justin akan kehilangan kemampuan untuk mendengar. Hal ini dapat mengakibatkan kehilangan kemampuan untuk berbicara karena bayi belajar bicara dari suara yang didengar.  Alat bantu dengar yang disarankan adalah jenis digital karena bisa diadjust sesuai dengan kemampuannya menerima suara. Saat ini, pemasangan alat bantu dengar belum dilakukan karena terbentur masalah biaya yang besar.  Menurut ABDI (Alat Bantu Dengar Indonesia), alat bantu dengar digital berharga +/- Rp. 9.1 juta per buah.  Berarti bila sepasang maka totalnya adalah Rp. 18.2 juta.
 
Kita sedang mencoba untuk negosiasi dengan supplier ABDI untuk mendapatkan discount tetapi sampai hari ini belum mendapatkan jawaban yang pasti. Sementara bayi Justin perlu mendapatkan alat bantu dengar dengan segera mengingat usianya sudah 10 bulan, kalau terlambat dirangsang pendengarannya, ada kemungkinan kemampuan berbicara akan menjadi lamban.
So, saya mencoba mengumpulkan dana dari teman-teman saya dan sejauh ini sudah terkumpul sekitar 4 juta untuk bayi Justin. Sampai hari ini, kekurangannya sekitar 14.2 juta untuk sepasang alat bantu dengar digital.
 
Saya ingin mengetuk hati para dermawan untuk membantu bersama-sama menggalang dana untuk membeli alat bantu dengar agar bayi Justin dapat mendengar suara merdu papa-mamanya dan mendengar lagu-lagu indah disekelilingnya.
 
Lany dan Kusnadi sekarang masih bekerja dan mereka akan tetap menabung untuk penanganan penyakit-penyakit Justin yang lain. Yang membuat kagum saya, mereka adalah tipe orangtua yang pantang menyerah, mereka akan tetap berusaha yang terbaik untuk bayi Justin.
 
Bantuan bisa dikirim ke Dana Kemanusiaan Dharmajala di BCA, atas nama Ridawaty, rekening No. 697-009-1112. Di kolom berita, harap ditulis: U/ Bayi Justin. Bila sudah transfer, bisa email ke saya di [EMAIL PROTECTED]. Seperti biasa, dana yang masuk akan direkap dan diumumkan melalui milis [email protected]. Kusnadi bisa dihubungi di 0812-942-9353.
----------------------------------------------------------------------------------
Berikut adalah hasil pemeriksaan yang dijalani oleh bayi Justin yang dirangkum oleh Lany:
- Ultrasonografi: dr. Lumongga Simangunsong: Rumah Sakit Mata Prof. Dr. Isak Salim “AINI”, Tgl             : 26/01/06
Diagnosa    : katarak congenital
Saran        : operasi secepatnya karena bila tidak akan mengakibatkan hilang penglihatan
Penjelasan  : Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina.
Tindakan    : Sudah dilakukan operasi katarak pada tgl 13 April 2006 di Rumah Sakit Mata Prof. Dr. Isak Salim “AINI.”  Pemasangan lensa belum dilakukan karena selain masih menunggu masa penyembuhan juga lensa baru diukur (tgl 29/05/06) di Jakarta Eye Centre.  Diperkirakan lensa baru akan tersedia -/+ 3 minggu lagi.
- Neurodiagnostik
dr. Jimmy Passat
RSIB Hermina Bogor
Diagnosa    : mild celebral palsy (CP), development delay
Saran         : intensive fisioterapi, minum obat-obatan yg diresepkan
Tindakan    : Sudah dilakukan fisioterapi seminggu sekali di bagian Tumbuh Kembang RS Azra Bogor.  Fisioterapi yang dilakukan ada 2 macam yaitu untuk melatih motorik kasar.  Hal yang dilakukan antara lain melatih tengkurap dan mengangkat kepala (setelah sebulan fisioterapi mulai terlihat perkembangan yaitu Justin sudah bisa tengkurap sendiri dan mengangkat kepala cukup lama).  Yang sedang dilakukan sekarang adalah melatih kekuatan otot tulang belakang sehingga dia bisa menopang dirinya sendiri.  Selain itu secara bersamaan juga dilatih untuk mulai mengangkat badannya sendiri dan belajar duduk.  Selama ini Justin melakukan semua kegiatan sambil berbaring (posisi tidur) mulai dari makan, dll.  Fisioterapi yang lain adalah untuk melatih motorik halusnya.  Ia mulai diperkenalkan oleh warna-warna, melatih indera peraba (diperkenalkan dengan berbagai macam permukaan kasar maupun halus), melatih menggapai, respon terhadap benda, dll.  Diharapkan latihan-latihan ini dapat mengejar ketinggalan Justin dan juga berfungsi untuk melatih kemampuan Justin di masa yang akan datang sehingga diharapkan dia dapat berkembang seperti anak normal meski dengan CP.
 
- Ekokardiografi: dr. H. Mulyadi M. Djer SpAK, RSCM
Tgl             : 14/11/05 & 26/01/06
Diagnosa    : PS valvular berat, PDA (2 mm)   
Saran         : Jika PS bertambah ballon valvuloplasti, PDA ditutup dgn transkateter
 
- dr. Poppy S. Roebiono SpJP: RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita
Tgl             : 04/03/06
Diagnosa    : PDA (2.5 mm), PS mild – moderate
Saran         : menunggu hingga usia setahun.  Apabila tidak ada perkembangan maka harus dilakukan ballon (angioplasty) dan transkateter.
Penjelasan  : PDA (Patent Ductus Arteriosus): Ductus arteriosus adalah pembuluh yang menghubungkan antara aorta dgn arteri pulmonalis, normalnya menutup spontan pada minggu pertama setelah lahir. Karena suatu sebab, proses penutupan tidak terjadi, sehingga timbulah penyakit yang disebut PDA. Darah dari aorta akan mengalir melalui PDA ke arteri pulmonalis sehingga aliran darah paru akan meningkat.
 
PS: Adanya penyempitan (stenosis) pada bagian tertentu jantung. Penyempitan ini menimbulkan gangguan aliran darah dan membebani otot jantung. Efek yang terlihat selama ini adalah kondisi Justin yang mudah lelah, berkeringat banyak dan sulit menyusu (tidak kuat menghisap susu).  Di usia Justin sekarang ini (10 bulan) beratnya baru 5.7 kg dengan tinggi 62 cm.  Perhari ia hanya dapat minum susu sebanyak +/- 5-6 botol @ 30-60 ml. 
Tindakan    : Sesuai dengan hasil diagnosa terakhir maka masih menunggu hingga usia Justin setahun baru setelah itu melakukan pemeriksaan ulang.  Diharapkan sebelum setahun PDA dapat menutup secara spontan dan PS tidak bertambah besar.  Kemungkinan terburuk apabila masih terdapat PDA dan PS makan harus dilakukan pelebaran katup dengan balon dan untuk PDA ditutup dengan proses kateter.
 
- Tes BERA & OAE
dr. S. Faisa: A. Kasoem Cikini Hearing Centre
Tgl             : 26/01/06
 
Diagnosa    : telinga kanan dan kiri s/d 100 db tidak ada respon, hanya dapat mendengar suara yang keras sekali seperti petir
Saran         : menggunakan alat bantu dengar (ABD) secepatnya karena semakin dini Justin bisa mendengar suara maka akan berpengaruh banyak terhadap kemampuan bicaranya Menggunakan ABD digital untuk penggunaan yang lebih maksimal
Tindakan    : Belum melakukan pemasangan alat bantu dengar karena terbentur masalah biaya yang besar.  Menurut ABDI (Alat Bantu Dengar Indonesia), ABD digital berharga +/- Rp. 9.1 juta per buah.  Berarti bila sepasang maka totalnya adalah Rp. 18.2 juta

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke