Dari: Anton Siura <[EMAIL PROTECTED]>
Pak Hud,
Bisa kita lihat dari artikel yang saya lampirkan diatas dikatakan JK
menerima Vipassana yang diajarkan oleh Goenka.
Krishnamurti seringkali menolak metode meditasi seperti mengamati
napas masuk-keluar, namun di sisi lain, kita mengetahui
'teknik'/'metode' vipassana adalah MEDIA yang dapat membawa orang
pada taraf 'hilangnya aku'.Bagaimana tanggapan anda khususnya
mengenai kaitan Vipassana dan pernyataan JK yang menolak metode dalam meditasi.
Salam,
Anton Siura
***
Meeting Between Shri S N Goenka and K
(S. N. Goenka met K at KFI Rajghat in early 1970's.)
Question for Shri S. N. Goenka about his meeting with J Krishnamurti (K)
Location: Pune, India.
Date: 17 October 2000.
Occasion: public Q/A session after a public talk by Shri S N Goenka
on Vipassana meditation.
Q. Krishnamurty did not believe in a technique or gurus. I believe
you met him, did you discuss this?
Answer by S. N. Goenka:
Certainly, I met him. He was a very saintly person, and I very much
understood why he is against technique and why he is against gurus.
Because he observed the situation all over the country where gurus
just exploit the people saying "Look I am your guru and you are my
disciple, you are so weak, how can you liberate yourself ? Just
surrender to me and I will liberate you. I will liberate you."
This is exploitation by gurus, this is against Dhamma and when
you talk of technique that means you have got one object and you are
just working with one object. It does not take you to the final goal.
Things are changing from moment to moment you are observing,
you are observing. (This is Vipassana, this is not a technique,
Vipassana is not a technique, it is a process of observation.)
So I discussed with him "Well in age you are an elderly person
and in experience also you are an elderly person." It was 30 years
ago when we met. "You are elderly so let me know if I am making any
mistake. I am teaching Vipassana because I got benefit from it and I
want to share my benefit with others. That is the only reason. If I
am making any mistake please tell me''. then he (K) asked me "First
day what you teach?''. (I replied and he said)
''Oh! This is not a technique''...second day... (K said) ''This
is not a technique''. ....all the ten days I explained (and K said)
"This is not a technique, you are observing the truth. The truth from
moment to moment. Perfectly all right !''.
And guru? (I said) "I never say that I will liberate you, you
have to work out your own liberation. A guru can only show the path
then only sadguru. Otherwise if he tries to exploit then he is not a
guru, he is harmful to the country." He said, "no this is not
gurudom." He accepted both.
Sumber:
The Buddha-Vipassana-J.Krishnamurti Research Study
http://www.buddhanet.net/bvk_study/bvk21e.htm
====================================
HUDOYO:
Yang kita baca di atas adalah laporan/narasi Goenka terhadap jawaban
K. Kita tidak punya veifikasi dari sumber lain mengenai isi
pembicaraan Goenka dengan K itu.
Alasan K menolak metode meditasi dan guru meditasi bukan karena
banyak guru-guru palsu di India.
Alih-alih, karena setiap gagasan tentang 'metode' menyiratkan pula
gagasan tentang 'tujuan', 'waktu' dan 'si pelaku'. Yang melekat pada
'tujuan', 'waktu' (masa depan) dan 'teknik meditasi' itu adalah
'aku'. Ketiga gagasan itu perlu disadari/elingi SEJAK AWAL orang
melakukan vipassana yang sebenarnya.
Tentang "teknik/metode vipassana", manakah "teknik vipassana" yang
benar-benar berasal dari Sang Buddha?
Jelas teknik Mahasi Sayadaw (mengawasi naik-turunnya dinding perut)
tidak tercantum dalam Sutta Pitaka, demikian juga teknik Goenka
(mengamati vedana secara sistematik dari atas ke bawah & sebaliknya).
Teknik-teknik itu berasal dari pengalaman batin pengajarnya.
Dalam Tipitaka Pali ada tiga sutta yang secara popouler diterima
sebagai acuan bagi meditasi vipassana, yakni: Satipatthana-sutta,
Mahasatipatthana-sutta, dan Anapanasati-sutta. Masing-masing sutta
itu mengajarkan suatu teknik meditasi vipassana. Bahkan dalam kedua
Satipatthana-sutta terdapat kumpulan teknik-tenik meditasi-samatha
juga di samping "teknik" meditasi-vipassana.
Tapi dalam Tipitaka Pali ada juga satu sutta pendek yang merupakan
ajaran Sang Buddha tentang vipassana; di situ tidak ada "teknik
vipassana" apa pun, selain menyadari/eling secara pasif segala
sesuatu yang muncul dalam kesadaran. Sutta itu adalah Bahiya-sutta.
Sutta itu adalah acuan saya dalam mengajarkan MMD. Dan isi sutta itu
identik dengan ajaran Krishnamurti, atau sebaliknya, ajaran K identik
dengan isi sutta itu.
Dapatkah suatu 'teknik meditasi' yang disebut "teknik vipassana"
mengantarkan orang pada 'lenyapnya aku'?
Jawab saya: tidak.
Selama seorang pemeditasi vipassana masih sibuk dengan suatu teknik
tertentu, ia tidak ber-vipassana! Alih-alih ia sibuk dengan
'teknik'-nya, sibuk dengan cita-citanya dan sibuk dengan akunya,
sekalipun tidak disadarinya. Vipassana adalah ketika semua teknik
meditasi apa pun berakhir, ketika tujuan meditasi berakhir, ketika
waktu (masa lampau dan masa depan) berakhir, dan di situ aku
berakhir. Dan keadaan itu akan/harus dialami sekarang; kalau
diletakkan di masa depan, yang memandang ke masa depan itu pikiran/aku lagi.
Dalam vipassana, langkah pertama haruslah menjadi langkah terakhir,
tidak ada kesenjangan di antaranya, artinya 'tujuan' dan
'cara/metode' tidak berbeda, tidak ada 'teknik', tidak ada 'waktu',
tidak ada 'tujuan'. Kalau masih ada kesenjangan antara langkah
pertama dan langkah terakhir, berarti orang belum melangkah sama
sekali di dalam vipassana (belum menyadari/eling akan akunya).
Si aku ini sangat licin seperti belut; ketika hendak diamati
gerak-geriknya, ia menciptakan "teknik vipassana", menciptakan
"tujuan vipassana", dan bersembunyi di dalam "tujuan & teknik
vipassana" itu, tanpa disadari oleh si pemeditasi.
(Catatan: Dalam teori "perjalanan" vipassana, dikenal vipassana-nyana
ke-13 yang disebut 'gotrabhu-nyana'. Nyana ini berlangsung selama
SATU MOMEN-KESADARAN, kemudian diikuti oleh SATU momen-kesadaran
nyana ke-14 ("Magga"), SATU momen-kesadaran nyana ke-15 ("Phala"),
dan BEBERAPA momen-kesadaran nyana ke-16 ("Paccavekkhana" -
"mengingat kembali apa yang baru saja terjadi"). Gotrabhu-nyana itu
sangat penting; artinya harfiahnya "berpindah keturunan", dari
'keturunan orang biasa (puthujjana)' ke 'keturunan para suci
(ariya)'. Artinya, pada nyana itu kesadaran orang biasa--yang
terbelenggu oleh aku/atta dan hukum karma--lenyap, digantikan oleh
kesadaran ariya, yang TIDAK BERKAITAN LAGI dengan rangkaian kesadaran
sebelumnya, yang BUKAN HASIL (VIPAKA) dari cetana (niat) & perbuatan
sebelumnya.)
Salam,
Hudoyo
[PS: Rekan Anton Siura adalah mahasiswa arsitektur tingkat terakhir
di Yogya, dan pemeditasi lama MMD.]
*****
BAHIYA SUTTA (Udana I.10)
Pada suatu ketika, Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi, di Hutan Jeta,
vihara Anathapindika. Pada saat itu, petapa Bahiya berpakaian kulit kayu
tinggal di Supparaka di tepi laut. Ia dihormati dan didukung oleh penduduk
di sekitarnya. Ketika ia tengah berada sendirian, terpikir olehnya: "Apakah
saya ini telah menjadi arahat?"
Kemudian seorang dewata, yang dulu pernah menjadi sanak saudara Bahiya,
yang mengetahui pikiran Bahiya, menaruh belas kasihan kepadanya dan pergi
mendapatkannya. Katanya, "Bahiya, Anda bukan arahat dan juga belum masuk ke
jalan menuju ke-arahat-an. Anda bahkan belum berlatih untuk masuk ke jalan
itu."
"Tetapi, siapa di dunia ini yang telah menjadi arahat?"
"Bahiya, di negeri sebelah utara, di Savatthi, Sang Bhagava, arahat,
tercerahkan sendiri, sekarang tinggal. Ia seorang arahat, dan ia
mengajarkan Dhamma yang membawa kepada ke-arahat-an."
Maka, Bahiya yang tersadarkan oleh kata-kata dewata itu, langsung
meninggalkan Supparaka, dan dalam waktu satu hari satu malam saja, pergi ke
tempat di mana Sang Bhagava tinggal. Pada waktu itu, sejumlah besar bhikkhu
tengah bermeditasi-jalan di udara terbuka. Ia mendapatkan mereka, dan
bertanya: "Para Bhante, apakah Sang Bhagava tinggal di sini? Kami ingin
bertemu dengan beliau."
"Beliau telah pergi ke kota mengumpulkan makanan."
Maka dengan segera Bahiya meninggalkan Hutan Jeta dan masuk ke kota
Savatthi. Ia melihat Sang Bhagava tengah menerima makanan dengan tenang,
dengan batin hening, damai dan seimbang, terlatih, awas, indera terkendali,
seorang Besar. Bahiya mendekati beliau, bersujud di kaki beliau dan
berkata: "Ajarkanlah Dhamma kepada saya, Sang Bhagava! Ajarkanlah Dhamma
demi kesejahteraan dan kebahagiaan saya jauh ke depan."
Sang Bhagava menjawab: "Ini bukan saatnya, Bahiya. Kami tengah mengumpulkan
makanan."
Untuk kedua kali Bahiya mengajukan permohonan dengan berkata: "Tetapi sukar
diketahui bahaya apa yang mengancam kehidupan Sang Bhagava, atau bahaya apa
yang mengancam kehidupan saya. Ajarkanlah Dhamma kepada saya ..."
Untuk kedua kali Sang Bhagava menolak dengan alasan yang sama.
Untuk ketiga kali Bahiya mengajukan permohonan yang sama. Lalu Sang
Bhagava bersabda:
"Bahiya, berlatihlah seperti ini: di dalam apa yang terlihat, hanya ada
apa yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada apa yang
terdengar; di dalam apa yang tercerap oleh indra, hanya ada apa yang
tercerap oleh indra; di dalam apa yang dikenal [oleh pikiran], hanya ada
apa yang dikenal. Demikian hendaknya engkau berlatih. Jika bagimu di dalam
apa yang terlihat hanya ada yang terlihat ... <dst> ..., maka tidak ada
engkau dalam kaitan dengan itu. Jika tidak ada engkau dalam kaitan dengan
itu, tidak ada engkau di situ. Jika tidak ada engkau di situ, engkau tidak
ada di sini, tidak ada di sana dan tidak ada di antaranya. Inilah, dan
hanya inilah, akhir dari dukkha."
Dengan mendengar penjelasan singkat tentang Dhamma dari Sang Bhagava, batin
petapa Bahiya berpakaian kulit kayu pada saat itu juga terbebaskan dari
arus [yang membawa pada kelahiran] dengan berakhirnya kelekatan/dukungan.
Setelah memberikan penjelasan Dhamma yang pendek itu, Sang Bhagava pun pergi.
[Catatan: Bahiya adalah seorang petapa, bukan bhikkhu siswa Sang
Buddha; dan Sang Buddha tidak mengajarkan Empat Kebenaran Suci, Jalan
Suci Berunsur Delapan kepadanya. Ajaran Sang Buddha kepada Bahiya
adalah langsung vipassana murni; demikianlah Pembebasan pun dapat
tercapai di luar kerangka formal doktrin Buddhisme./hudoyo]
Tidak lama setelah Sang Bhagava pergi, Bahiya diserang oleh seekor sapi
betina dengan anaknya hingga tewas. Sang Bhagava, sekembali dari
mengumpulkan makanan diiringkan oleh sejumlah besar bhikkhu, melihat bahwa
Bahiya telah meninggal. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:
"Angkatlah jenazah Bahiya, perabukanlah, dan dirikanlah tugu peringatan.
Sejawat kalian dalam kehidupan suci telah tiada."
Setelah melaksanakan perintah Sang Bhagava, para bhikkhu datang mendapatkan
Sang Bhagava dan bertanya kepada beliau: "Jenazah Bahiya telah diperabukan,
dan telah didirikan tugu peringatan. Bagaimanakah masa depannya, Bhante?"
"Para bhikkhu, Bahiya petapa berpakaian kulit kayu adalah seorang arif. Ia
berlatih Dhamma sesuai dengan Dhamma dan tidak mengganggu saya dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma. Bahiya telah bebas sepenuhnya."
Menyadari pentingnya peristiwa itu, Sang Bhagava bersabda:
"Di mana air, tanah, api dan udara tak punya lagi tempat berpijak,
di situ bintang-bintang tidak bersinar,
matahari tak terlihat,
rembulan tidak muncul,
kegelapan tak terdapat.
Dan ketika seorang suci,
seorang brahmana berkat kearifan,
mengetahui ini bagi dirinya,
maka dari wujud dan tanpa-wujud,
dari kenikmatan/kebahagiaan dan kesakitan,
ia terbebaskan."
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/iDk17A/hOaOAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/