Kompas, Kamis, 22 Juni 2006
 
Musibah Lagi yang Tiba
Bukan maksud kita untuk setiap kali hanya bisa mengeluh. Namun itulah faktanya, bencana datang silih berganti dan musibah itu kembali meminta korban.
Banjir bandang yang terjadi hari Senin malam di Sulawesi Selatan itu meminta korban yang tidak sedikit. Hingga kemarin sudah lebih dari 120 orang dilaporkan meninggal akibat bencana alam itu.
Mengapa bencana itu tidak kunjung henti. Belum lagi bencana tsunami Aceh selesai ditangani, sudah terjadi bencana Gunung Merapi. Belum bencana Gunung Merapi selesai terjadi, gempa bumi dahsyat terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menyusul lagi bencana lumpur panas di Sidoarjo. Kini kita dihadapkan lagi dengan bencana banjir bandang di Sulsel.
Terngiang lalu pertanyaan Wu Wei Wu, seorang "guru" asal China yang mengajak kita untuk melakukan refleksi, mengapa kita, manusia, selalu hidup dalam ketidakbahagiaan? Ternyata jawabnya karena 99 persen dari apa yang kita pikirkan dan kita lakukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, kepentingan manusia semata.
Ketika kita kekurangan pangan, yang kita pikirkan hanyalah bagaimana lalu meningkatkan produksi. Ketika kita dihadapkan pada kesulitan ekonomi, yang kita pikirkan dan lakukan hanyalah bagaimana lalu mendorong pertumbuhan.
Untuk memenuhi semua keinginan itu, kita lalu mengeksploitasi alam. Untuk meningkatkan produksi pertanian, kita beri pupuk yang lebih banyak. Kita tidak peduli pemberian pupuk secara berlebihan bisa merusak alam, pokoknya kebutuhan hidup manusia terpenuhi.
Tidak cukup dengan itu, kita tidak ragu menebang pohon, menggunduli hutan, demi untuk membuka lahan, memenuhi target produksi dan pertumbuhan ekonomi. Rusaknya keseimbangan ekosistem tidak menjadi soal sepanjang bisa memuaskan kebutuhan manusia.
Kita, kepuasan kita, menjadi segala-galanya. Kita lupa bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa dieksploitasi sesuka kita. Ilmuwan Jepang, Masaru Emoto, sudah membuktikan dalam penelitiannya bahwa air ternyata memberikan reaksi yang berbeda dalam struktur kristalnya terhadap setiap perlakuan yang kita berikan.
Karena itu, berbagai bencana yang nyaris tiada henti kita hadapi akhirnya tidak bisa dilepaskan dari perilaku kita, baik sebagai manusia maupun sebagai bangsa. Ada kekeliruan yang harus kita perbaiki, khususnya dalam berkomunikasi dengan alam, dalam berhubungan dengan semesta alam sebagai sebuah kesatuan.
Kita dituntut untuk bisa merasakan. Dengan penuh empati dan ketulusan, kita dituntut untuk sungguh-sungguh mau berbagi. Bukan hanya basa-basi dan kemudian melakukan sekadar sebagai sebuah charity.
Jujur kita belum menyentuh esensi paling pokok dari berbagai bencana yang kita alami. Paling tidak itu bisa terlihat dari tidak tertanganinya secara benar saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana.
Bukanlah saatnya sekarang ini bagi kita untuk berubah diri? Ataukah kita memang ingin terus hidup dari bencana ke bencana? Ini bukanlah persoalan spiritual biasa, tetapi soal kemauan kita untuk berubah diri.


Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke