Minat Baca (2)
Ketika Masyarakat Lebih Peduli
Ketika Masyarakat Lebih Peduli
Senja pun bergulir. Pukul empat sore, gang di bilangan Pancoran Barat, Jakarta Selatan, semakin ramai. Warga yang hidup berdempetan di gang tersebut duduk-duduk di luar rumah mereka, sekadar menikmati senja yang telah terbebas dari sengatan matahari. Rumah berpagar hijau milik Iin mulai didatangi
bocah-bocah.
Mbak Iin... Mbak Iin," teriak mereka di pintu pagar.
"Ayo, masuk saja. Ambil bukunya atau minta dibaca-in sama mbak," balas Iin Safitri, sang pemilik rumah, akhir Mei lalu.
Bocah-bocah kecil itu tanpa sungkan masuk ke dalam rumah. Ada yang kemudian mengambil mainan susun balok atau buku-buku bergambar di rak sederhana milik Iin. Mereka yang bermain memilih duduk di teras. Salah satunya, Anisa (9), asyik melihat-lihat buku cerita bergambar dan duduk santai di lantai. Terkadang, kata Anisa, dia datang untuk mencari buku untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya di sekolah.
Rumah Iin Safitri sudah biasa menjadi persinggahan anak-anak di daerah tersebut. Mereka mengenalnya dengan
sebutan Taman Bacaan Keluarga Pelangi. Salah satu sisi ruang tamu rumah kontrakan Iin, dindingnya dipenuhi rak berisi beragam buku bacaan. Lantainya dilapisi matras karet warna-warni. Beberapa orang tenaga sukarelawan membantu anak-anak bermain atau membacakan dongeng, seminggu dua kali. Sebuah papan putih berisi tulisan daftar buku yang sedang dipinjam dibawa pulang ke rumah.
Iin bercerita, taman bacaan itu berawal ketika salah seorang adiknya hendak bersekolah di pesantren. "Adik saya saat itu memiliki sekitar 400 buku dan kami bingung hendak diapakan buku-buku itu. Buku-buku itu sudah pernah kami baca. Kemudian terbersit ide membuat Taman Bacaan Keluarga Pelangi. Harga buku masih mahal dan tidak semua orang sanggup membeli buku, sedangkan kami memiliki buku-buku dan ingin berbagi," kata perempuan berusia tiga puluhan tahun itu.
Taman
bacaan itu semula berlokasi di rumah orangtuanya yang juga masih terletak di kawasan Pancoran dan dikelola keluarga Iin. Ketika hendak menikah, Iin tetap bertekad membuka taman bacaan di rumah barunya. Terlebih lagi jumlah buku terus bertambah. Syarat itu pula yang diajukannya kepada calon suaminya dan kemudian dikabulkan. Rumah kontrakannya yang sempit itu pun disulap menjadi taman bacaan.
"Awalnya anak-anak takut dengan buku karena asosiasi mereka langsung kepada buku pelajaran sekolah, lengkap dengan pekerjaan rumahnya. Untuk mengenalkan buku, kami dan sukarelawan kemudian mengajak anak-anak terlebih dahulu bermain dengan mainan edukasi, lalu melihat-lihat buku bacaan bergambar. Buku-buku untuk anak juga dipilihkan yang sesuai, sampai kemudian anak-anak tertarik," kata Iin. Sekarang, warga sudah banyak yang mengetahui taman bacaan itu dan mulai memanfaatkannya.
Berawal dari kegemaran
Kesadaran akan arti penting membaca dan ingin menularkan kebiasaan tersebut kepada lingkungan tercermin pula dalam diri Kiswanti (60). Kiswanti dengan segala keterbatasannya berupaya agar warga di lingkungannya, tepatnya di kawasan Lebak Wangi, Bogor, mengenal dan menyukai buku atau bacaan.
Ruang tamu rumahnya yang sederhana di daerah Lebak Wangi sesak oleh mesin jahit, meja makan yang merangkap tempat belajar putra-putrinya, dan rak-rak buku. Buku anak, buku resep, buku pelajaran sampai majalah tua berjajar rapi di rak.
Tidak cuma itu. Berbagai jenis bacaan lain ada di teras, dalam keranjang-keranjang di pojokan rumah sampai di dalam sebuah kulkas tua karatan di belakang rumah. Kulkas itu sengaja
dibelinya murah dari seorang tukang loak khusus untuk menyimpan koran-koran tuanya.
Rumahnya itu pula yang kini menjadi taman bacaan. Siang itu anak-anak yang baru pulang sekolah berdatangan sekadar membaca atau mencari buku untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Satu-dua ibu kerap pula mampir hendak membaca buku resep. Yanti (27), tetangga Kiswanti, termasuk salah satu pengunjung taman bacaan Kiswanti. "Saya senang ada tempat membaca. Di sini juga suka ada kegiatan kreativitas anak seperti mewarnai gambar," kata Yanti yang suka melihat-lihat buku resep masakan.
Buku-buku tersebut sebagian besar dibeli sendiri oleh Kiswanti. Itu bukan perkara mudah bagi Kiswanti yang keluarganya mengandalkan hidup dari penghasilan Ngatmin, suaminya, sebagai buruh bangunan harian dan keuntungan warung kecil miliknya. "Saya mengumpulkan sedikit demi sedikit
uang lalu dibelikan buku," katanya.
Semua berawal dari kegemaran Kiswanti membaca dan kegemasannya terhadap terbatasnya akses terhadap buku. "Saya suka membaca sejak kecil. Kalau teman-teman pada Hari Raya beli baju baru, saya tidak. Dulu, di Yogya ada bacaan Gembira, kalau tidak salah. Itu yang pertama saya baca. Koran saya lihat dari tetangga yang jualan gorengan. Sebelum dipotong-potong saya baca-baca. Pas saya tinggal di sini, saya membiasakan anak- anak saya kalau libur sekolah hadiahnya bukan jajanan. Tapi saya ajak ke toko buku," ujar Kiswanti yang hanya mengantongi ijazah sederajat SMP.
Tidak heran kalau kemudian Kiswanti protes ketika buku perpustakaan di sekolah anaknya tidak boleh dibawa pulang atau dipinjam. Padahal, tidak semua orang mampu membeli buku yang harganya mahal, terutama di lingkungan tempat ia tinggal, yang
sebagian besar warganya menghidupi keluarga dengan menjadi buruh pabrik.
"Buat apa ada perpustakaan di sekolahan kalau sekadar untuk pajangan kalau penilik datang. Perpustakaan itu tidak dioptimalkan untuk anak karena anak tidak boleh pinjam buku untuk dibawa pulang. Sampai sekarang protes saya tidak ada tanggapan. Sampai anak pertama saya lulus dan anak saya paling kecil yang duduk di bangku kelas V di SD itu, dari awal tidak pernah bisa bawa pulang buku perpustakaan," katanya.
Kiswanti juga mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli sepeda. Dengan sepeda butut dan sebuah keranjang dia membawa buku berkeliling kampungnya. Ketika rumahnya belum menjadi taman bacaan seperti sekarang, biasanya Kiswanti beredar seminggu dua kali. Namun, sekarang jadwal kelilingnya sudah lebih jarang karena mereka yang ingin membaca atau meminjam
buku lebih senang ke rumahnya.
Bukan cerita baru
Minimnya akses pada buku dan fasilitas membaca, terutama untuk warga miskin, sesungguhnya bukan cerita baru. Enam puluh tahun negeri ini merdeka, buku masih menjadi barang mewah. Tanpa banyak bicara dan berslogan, masyarakat yang sadar dan mencintai buku secara mandiri membangun fasilitas membaca tersebut, seperti yang dilakukan Iin dan Kiswanti.
Dalam kapasitas lebih besar, Komunitas 1001buku bahkan membentuk jaringan relawan guna menggalang donasi buku bacaan dan menyalurkan kepada taman-taman bacaan. Anggotanya mulai dari karyawan, pengusaha, mahasiswa atau ibu rumah tangga. Yang mengikat mereka hanya satu, yakni peduli dengan literasi anak bangsa.
Secara berkala mereka mengumpulkan bahan bacaan dari relawan, kemudian menyortirnya. Buku-buku, khususnya untuk anak, betul-betul dipilih dan diseleksi agar tidak mengandung kekerasan atau pornografi. Berbagai kegiatan seperti Olimpiade Taman Bacaan dan "Book Drop Box" atau tempat pengumpulan donasi buku di tempat umum diadakan untuk membangun minat baca tersebut. "Buku-buku donasi itu lalu kami kirimkan ke perpustakaan-perpustakaan yang dibangun masyarakat," ujar Dwi Andayani, salah seorang aktivis komunitas tersebut.
Mereka meyakini bahwa minat baca tidak rendah. Adapun rendahnya budaya baca terkait erat dengan ketersediaan dan akses terhadap buku, terutama bagi anak miskin. Akses terbatas itu, antara lain, banyak dikeluhkan terkait dengan mahalnya harga buku. Akses terhadap bacaan yang baik itu yang justru perlu disediakan seluas-luasnya.
Lembaga swadaya masyarakat lain seperti Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) yang telah berkiprah selama hampir 20 tahun untuk menumbuhkan budaya membaca juga mempunyai cita-cita serupa. Lebih jauh lagi, lembaga yang dipimpin Murti Bunantapenulis buku anak ini menyadari begitu banyak faktor yang memengaruhi minat dan budaya membaca, terutama dalam membangun minat membaca sedari dini.
Salah satu yang menjadi sorotan kelompok ini ialah kualitas buku bacaan. Buku bacaan yang tidak baik dan tidak memerhatikan kemampuan membaca penggunanya akhirnya hanya tergeletak saja di rak buku. Untuk itu, Murti melakukan rangkaian riset mulai dari teks sampai ilustrasi buku bacaan anak dan kemudian menulis buku yang menarik. Buku-buku itu dicetak lalu dibagikan ke perpustakaan dan berbagai instansi. Dengan begitu diharapkan makin membuka mata masyarakat terhadap kenikmatan berpetualang
lewat bacaan yang baik.
Guna mendekatkan masyarakat terhadap buku, terutama kepada mereka yang masih asing terhadap buku, para sukarelawan KPBA mengadakan kegiatan mendongeng di berbagai tempat. Dongeng untuk anak- anak dibacakan sambil menggunakan boneka tangan sesuai tokoh dalam bacaan. Kegiatan itu terkadang dilengkapi aktivitas kreatif terkait bacaan. Seusai mendongeng, mereka terkadang mengajarkan warga membuat berbagai perlengkapan pendukung, seperti boneka tangan atau lembaran peraga agar mendongeng jadi lebih menarik.
Para penggerak cinta bacaan tersebut tentu berharap pemerintah menambah perannya dalam membudayakan membaca. Namun, harapan itu tidak lantas memperlambat langkah mereka. Bagi mereka, masalah jauhnya sebagian besar masyarakat dari kebudayaan membaca sudah sangat genting dan sudah saatnya semua ikut bergerak.
Ring'em or ping'em. Make PC-to-phone calls as low as 1¢/min with Yahoo! Messenger with Voice. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
