Rekan-rekan Dharmajala yth,
 
Point-point yang dibicarakan dalam diskusi dibawah ini sangat menarik. Bagaimana menyelesaikan konflik dalam kehidupan ini kita bersama perlu saling berbagi. Buku "Small is Beautiful"-nya Schumaker secara tidak langsung mencoba memecahkan masalah ini secara bersistim. Tulisan dalam millist ini yang diterjemahkan pak Jimmy :"Menemukan jalan Tengah antara yang Modern dan Tradisionil" rasanya juga ingin memecahkan masalah ini. Mungkin masih banyak penulis-penulis lain yang telah berkontribusi untuk memecahkan masalah ini secara bersistim.
 
Satu hal yang perlu kita perhatikan yaitu berapa prosentase orang yang telah mempraktekkan suatu teori tertentu berhasil membawa dirinya bersaing dalam masyarakat ini dan berhasil survive kemudian dapat memperlebar sayap perusahaannya, terutama orang-orang yang dari awalnya adalah di lapisan bawah. Inilah nantinya ujian bagi teori-teori perubahan sosial semacam diatas, mudah-mudahan kita berhasil menemukannya, kalau tidak tak terbayangkan penderitaan umat manusia ini nantinya.
 
Semoga bermanfaat.
 
Kreshna
26-6-2006
 

Hudoyo Hupudio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dari: "Merkurius Adhi Purwono" <[EMAIL PROTECTED]>

Re: THE BOOK OF LIFE (06/02): Dualitas Menciptakan Konflik

>DUALITAS MENCIPTAKAN KONFLIK
>
>Konflik apa pun--fisikal, psikologis, intelektual--adalah pemborosan
>energi. Mohon disimak, adalah luar biasa sulit untuk memahami dan
>bebas dari ini oleh karena kebanyakan dari kita dibesarkan untuk
>berjuang, berupaya. Ketika kita bersekolah, itulah yang pertama kali
>diajarkan kepada kita--berupaya. Dan perjuangan itu, upaya itu dibawa
>sepanjang hidup--yakni, untuk menjadi baik Anda harus berjuang, Anda
>harus melawan kejahatan, Anda harus menentang, mengendalikan. Jadi,
>secara edukasional, secara sosiologis, secara religius, manusia
>diajar berjuang. Anda diajar, bahwa untuk menemukan Tuhan Anda harus
>bekerja, mendisiplinkan, berlatih, memelintir dan menyiksa jiwa Anda,
>batin Anda, tubuh Anda, mengingkari, menekan; Anda tidak boleh
>memandang; Anda berkelahi terus-menerus di tingkat yang dinamakan
>tingkat spiritual--yang sama sekali bukan tingkat spiritual. Lalu,
>secara sosial, setiap orang harus bekerja untuk diri sendiri, dan
>untuk keluarganya.
>
>... Jadi, di mana-mana, kita membuang-buang energi. Dan pembuangan
>energi itu pada dasarnya adalah konflik: konflik antara "saya harus"
>dan "saya tidak boleh". Setelah menciptakan dualitas, konflik tak
>dapat dihindarkan. Jadi kita harus memahami seluruh proses dualitas
>ini--bukan berarti tidak ada laki-laki dan perempuan, hijau dan
>merah, terang dan gelap, tinggi dan rendah; semua itu fakta. Tetapi
>di dalam upaya yang dikerahkan dalam pemisahan antara fakta dan
>gagasan, terdapat pemborosan energi.
-------------

Jadi gimana cara berupaya tapi tanpa memboroskan energi? Kalau hal ini
benar2 bisa dicapai apakah itu berarti dapat dinamakan sukses tanpa
usaha? Mohon pencerahannya.

Salam
Adhi Purwono.

===========================================
HUDOYO:

THE BOOK OF LIFE (06/14): Tidak Ada Tempat yang di Situ Orang "Sampai"

TIDAK ADA TEMPAT YANG DI SITU ORANG "SAMPAI"

Dapatkah kerendahan hati dilatih? Jelas, sadar bahwa Anda rendah hati
bukanlah rendah hati. Anda ingin tahu, apakah Anda sudah "sampai".
Ini menunjukkan bahwa Anda menyimak untuk mencapai suatu keadaan
tertentu, bukan?--tempat yang di situ Anda tidak akan terganggu lagi,
yang di situ Anda memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi, kenikmatan
permanen. Tetapi seperti saya katakan tadi, tidak ada "sampai", yang
ada hanyalah gerak belajar--dan itulah indahnya kehidupan. Jika Anda
sudah "sampai", tidak ada apa-apa lagi. Dan Anda semua telah
"sampai", atau Anda ingin "sampai", bukan hanya dalam bisnis Anda,
tetapi juga dalam segala sesuatu yang Anda lakukan. Jadi Anda tidak
puas, mengalami frustrasi, murung. Bapak-bapak, tidak ada tempat yang
di situ orang "sampai", yang ada hanyalah gerak belajar ini, yang
menyakitkan hanya apabila terdapat penumpukan. Batin yang menyimak
dengan perhatian penuh tidak pernah mencari hasil, karena ia
terus-menerus mekar. Seperti sebatang sungai, ia selalu bergerak.
Batin seperti itu sama sekali tak sadar akan kegiatannya sendiri,
dalam arti tidak ada pelestarian suatu diri, sang 'aku', yang
berupaya untuk mencapai suatu tujuan. [jk]

HUDOYO:

Kata-kata JK ini menjawab apa yang ditanyakan oleh rekan Adhi Purwono.
Jelas meditasi adalah 'kebalikan' dari kegiatan sehari-hari. Tidak
ada tujuan, tidak ada usaha, tidak ada sukses atau gagal. Tidak ada
masa depan (dan masa lampau), tidak ada aku. Yang ada hanyalah saat
kini terus-menerus!

Salam,
Hudoyo
============================================
ADHI PURWONO:

Terimakasih Pak Hudoyo... saya dapat lebih mengerti sekarang. Hanya
saja ada yang ingin saya tanyakan lagi. Dalam meditasi mungkin kita
bisa melakukan dengan 'tanpa usaha'. Namun dalam kehidupan sehari-
hari terlebih lagi dalam dunia bisnis yang penuh dengan target dan
persaingan, saya akan merasa kesulitan dalam berkerjasama dengan
orang lain bila melaksanakan 'konsep' tanpa usaha ini. Yang biasanya
terjadi, kedamaian yang saya dapat dari bermeditasi sangat mudah
luruh dalam dunia bisnis. Apakah Pak Hudoyo bisa memberikan saran
kepada saya bagaimana cara menerapkannya ke dalam kehidupan
bermasyarakat yang sangat majemuk pandangan hidupnya.

Salam,

Adhi Purwono.
=============================================
HUDOYO:

Rekan Adhi yg baik,

Ada dua posisi bagi mereka yang mencari nafkah di dunia bisnis:

(1) Orang bisa bekerja untuk orang lain di sebuah perusahaan --
dengan kata lain, ia masuk menjadi sebuah sekrup dari suatu mesin
bisnis yang besar;
(2) Orang bisa bekerja untuk dirinya sendiri -- dengan kata lain, ia
menjadi wiraswasta.

Dalam hal #1, mau tidak mau Anda harus menyesuaikan diri. Kalau mau
jujur harus diakui bahwa dunia korporasi--apalagi korporasi
multinasional--bertumpu pada satu prinsip, yakni keserakahan,
berupaya memperoleh untung dan pertumbuhan sebesar-besarnya. Kalau
Anda menduduki posisi yang mengharuskan Anda untuk sedikit banyak
ikut menentukan policy perusahaan, maka Anda mau tidak mau harus
mengedepankan keserakahan Anda. Tetapi hal itu tidak begitu terasa
bila Anda menempati posisi yang tidak ikut menentukan policy,
misalnya posisi profesional atau posisi teknis.

Dulu ketika saya bekerja di perusahaan farmasi ___ (multinasional)
sebagai Medical Manager, saya tidak perlu mengedepankan keserakahan
saya; namun setiap hari saya melihat keserakahan di kanan kiri saya,
di dalam diri GM, Marketing & Sales Manager dsb. Namun tetap saja
saya tidak luput dari berbagai tekanan untuk mengingkari
keprofesionalan saya, yakni dalam hal informasi yang boleh atau tidak
boleh saya sampaikan secara resmi atas nama perusahaan kepada para
dokter konsumen produk perusahaan kami.

Dalam hal #2, Anda berwenang sepenuhnya untuk menentukan policy dari
usaha Anda -- dengan kata lain, Andalah yang menentukan apakah Anda
akan 100% serakah, 50% serakah, atau 10% serakah dalam usaha Anda.

Namun, di dalam dunia usaha yang seperti sekarang sifatnya, sekalipun
Anda bekerja sebagai wiraswasta, mau tidak mau Anda akan terlibat
dalam persaingan. Untuk itu Anda harus berusaha agar usaha Anda tetap
tumbuh; kalau tidak, Anda akan tenggelam. Jadi, mau tidak mau Anda
harus sedikit atau banyak serakah juga.

BTW, dunia korporasi secara mendasar adalah penyebab atau akar dari
segala keserakahan, kebencian, dan kekerasan manusia di abad ke-19
sampai sekarang. Perang Irak dsb pada dasarnya adalah perbenturan
kepentingan ekonomis. Begitu pula pencemaran lingkungan dalam segala
seginya, yang semakin hari semakin meningkat, tidak lain sebabnya
adalah keserakahan manusia.

Daya dukung bumi tidak akan mampu mengakomodir keserakahan manusia
terus-menerus. Pada suatu saat yang tidak terlalu lama lagi--menurut
para pakar mungkin hanya 2-3 generasi lagi--bumi ini tidak akan dapat
didiami manusia lagi, bila tren ekonomi tetap seperti sekarang, yakni
mengejar pertumbuhan ekonomis sebesar mungkin.

***

Saya tidak mempunyai nasehat yang manjur untuk Anda. Anda bisa tetap
berkecimpung di dunia usaha, dengan mengingat berbagai kemungkinan
seperti di atas. Atau Anda bisa mencari nafkah di bidang lain;
apalagi kalau Anda mempunyai profesi yang dibutuhkan di banyak
bidang. Anda bisa bekerja di berbagai lembaga nirlaba, LSM, dsb,
sekalipun di sana Anda juga akan melihat keserakahan, kebencian, dan
kegelapan batin.

Dalam banyak hal, dalam kondisi masyarakat dan dunia usaha seperti
sekarang ini, mungkin Anda harus tetap menerapkan dua kepribadian:
kepribadian untuk survive di masyarakat yang didominasi oleh
keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, dan kepribadian yang
[mulai] berupaya untuk mengenali si aku yang menjadi akar dari
keserakahan, kebencian dan kegelapan batin itu. Usahakan agar
kepribadian yang pertama menjadi semakin berkurang, dan kepribadian
yang kedua semakin bertambah.

Salam,
Hudoyo

PS: Yang di atas adalah pandangan pribadi saya, yang tidak pernah
berkecimpung di dunia usaha sepenuhnya. Namun saya mempunyai seorang
sahabat yang pengusaha dan sekaligus mendalami ajaran Krishnamurti
dan Buddhisme. Saya mohon Rekan Michael Lim bersedia menampilkan
pandangan Anda mengenai soal ini di forum ini. Pandangan Anda jauh
lebih berharga daripada pandangan saya, karena berangkat dari situasi
nyata dari kedua "dunia" yang Anda hadapi. Terima kasih banyak.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke