Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan
Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 6)
Hutang dan Persepsi Kemiskinan
Warga telah meminjam uang yang relatif besar jumlahnya untuk membayar biaya mereka yang membengkak. Hutang keluarga terus meningkat dan tekanan keuangan semakin menguat. Kebanyakan hutang dipegang oleh bank pertanian pemerintah yang pada akhir tahun 1994 bunganya adalah 12% per tahun. Beberapa warga telah mengambil pinjaman swasta dari beberapa individu untuk membayar bank pertanian. Hanya satu rumah tangga di Ban Tha Laad yang tidak terjerat hutang. Kurangi hutang mudah dikatakan, demikian jelas warga, tapi sangat sulit dilakukan. Warga melaporkan pinjaman diambil terutama untuk tujuan pertanian�untuk membeli varietas benih penghasil tinggi, pupuk kimia, mesin pertanian, dan memperbaiki sawah mereka. Tapi banyak juga yang
berhutang untuk membeli produk-produk rumah tangga. Dalam beberapa kasus, jika plafon pinjaman keluarga melampaui batas, mereka akan meminta saudara mereka berhutang untuk mereka sehingga terjadilah pelipatgandaan masalah bagi kedua keluarga itu. Sementara segelintir orang memandang hutang sebagai bagian yang diperlukan dalam proses menjadi modern, kebanyakan orang menyebutnya sebagai masalah penting. Seorang wanita berkata,
�Hutang semakin meningkat karena pembangunan telah datang ke Ban Tha Laad dan banyak orang butuh dan ingin menjadi konsumen yang lebih besar. Ini tidak bagus.�
Yang lain menambahkan,
�Penyebab hutang adalah nafsu untuk barang-barang materi yang baru. Warga tidak cukup sabar untuk menunggu penghasilan dari padi mereka. Mereka menginginkannya sekarang juga. Beberapa tidak sanggup membayar pinjaman dan harus menjual ternak mereka.�
Warga merasa lebih miskin sekarang. Saat ini, mereka melihat diri mereka kurang banyak hal. Satu generasi lalu, sedikit sekali kebutuhan akan uang. Sekarang, para sesepuh melaporkan bahwa kebutuhan ini mengendalikan banyak aspek kehidupan desa. Banyak dari mereka mengatakan bahwa kendati kehidupan secara materi jauh lebih baik hari ini, tapi warga tidak sebahagia dulu.
Dua orang memberikan komentar yang mencerminkan perasaan kebanyakan rekan mereka:
�Orang sekarang tergila-gila sama uang dan benda-benda materi dan menganggapnya sebagai kebahagiaan. Warga melupakan kebahagiaan hidup bersama dan kebahagiaan keluarga.�
�Hubungan sosial berubah begitu banyak�Kebudayaan modern datang dan menggoda anak-anak muda. Saya sangat khawatir. Kami punya semakin banyak barang materi tapi hubungan menjadi semakin lemah�Ini adalah awal lenyapnya segala sesuatu.�
Seorang wanita yang keluarganya punya samlor bermotor, sepeda motor, lahan pertanian yang cukup luas (di atas 80 rai), ternak, rumah kayu yang besar, perhiasan emas, TV, radio, tape player, mesin jahit, kipas angin, kuali listrik, dan banyak lagi barang rumah tangga lainnya, berkata,
�Saya bilang sama putra saya bahwa kami sangat miskin dan mendorong dia pergi ke Bangkok bersama seorang temannya.�
Seorang wanita tua yang dianggap miskin oleh banyak warga, menanggapi,
�Sekarang anak-anak muda pergi ke kota untuk bekerja karena mereka merasa punya lebih banyak kebutuhan.�
Migrasi
Drastisnya peningkatan hutang rumah tangga mengakibatkan eksodus massal anak muda untuk mencari kerja. Warga mengatakan tidak ada cukup pekerjaan bergaji di desa dan ladang pun sedang mengalami kesulitan finansial. Banyak anak muda telah bermigrasi ke kota�kebanyakan ke Bangkok. Phra Khru Supajarawat menyatakan, �Hanya setengah dari warga yang resmi terdaftar di sini yang tinggal di sini.� Orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka mencari kerja ke kota sebagai buruh bangunan, pedagang kaki lima, buruh pabrik, pelayan, pencuci piring, pembantu, pengojek motor dan supir taksi, penjahit wanita, tukang kebun, dan �karyawan perusahaan.�
Ada juga beberapa laporan tentang anak-anak yang mengirimkan jumlah uang yang cukup besar ke keluarga mereka. Umumnya ini terjadi di tahun-tahun awal mereka meninggalkan rumah. Mudik ke rumah juga masih lebih sering dilakukan pada tahun-tahun awal. Begitu tinggal di Bangkok, terutama jika mereka menikah dan membangun keluarga di sana, mereka ada komitmen yang lebih besar di kota dan seringkali tidak bisa mudik atau mengirimkan uang ke desa.
Faktor lain yang menyumbang pada tingginya tingkat migrasi adalah daya tarik kota bagi banyak anak muda. Sementara mereka yang telah meninggalkan desa sering mengatakan rindu kehidupan desa, warga yang tidak pergi melihat rekan mereka pulang dengan baju baru, jam, walkman, dan penampilan yang lebih canggih. Saat mudik anak-anak muda disambut seperti pahlawan dan mereka dipuji-puji telah membantu menyokong keluarga mereka.
Sementara mereka yang bekerja di Bangkok melaporkan merasa kehilangan arah dan rindu kampung halaman saat mereka pertama kali tiba, warga di Ban Tha Laad mencatat banyak anak muda yang pergi menjadi lebih �orang kota.� Mereka menjadi �boros� dan �lebih mewah� dan ingin terus mencari uang. Mereka memakai pakaian yang lebih bagus dan terlihat �lebih bersih� dan �lebih rapi.� Para orang tua mencemaskan anak-anak mereka lebih kesepian di kota ; terputus dari keluarga dan komunitas. Beberapa warga sudah setahun lebih
belum bertemu lagi dengan anak-anak mereka. Sementara warga melaporkan bahwa kebanyakan anak muda masih tetap menunjukkan rasa hormat kepada para sesepuh mereka dan menikmati kebudayaan desa saat mereka mudik, beberapa anak muda mengalami kesulitan besar di kota , jatuh ke dalam penyalahgunaan narkoba atau prostitusi, dan banyak sekali berubah.
Beberapa orang belajar keterampilan baru (seperti membuat baju, membuat
furnitur, dan berbahasa Inggris) melalui pekerjaan mereka di kota ; tapi, kebanyakan dipekerjakan sebagai buruh yang tidak berketerampilan.
Migrasi berdampak dahsyat sekali terhadap kehidupan desa. Anak muda pergi, hanya manula dan anak-anak yang tinggal untuk bertani dan mengembangkan desa. Ini mewakili hilangnya tenaga kerja dan otak. Seorang petani menyatakan pandangan berikut,
�Migrasi tidak bagus karena orang yang pergi tidak kembali untuk memperbaiki desa mereka. Banyak anak muda ke Bangkok dan tidak ingin tinggal di desa. Banyak yang ingin pergi. Ini adalah satu masalah karena tidak ada
orang yang tersisa untuk membantu bertani dan mengerjakan pembangunan.�
Absennya anak muda juga menciptakan jurang transmisi kultural. Seorang wanita berkomentar bahwa anak muda akan dapat mempertahankan lebih banyak budaya mereka jika mereka bisa tinggal di desa. Generasi tua ini, kata dia, �menjaga tradisi dan cerita
rakyat.� Dia bertanya-tanya akankah ada orang yang dapat mereka wariskan hal-hal tersebut dan berkata, �Saya tdak pasti apakah kebudayaan kami akan semakin kuat atau malah lenyap.�
Sementara migrasi menghambat mengalirnya nilai-nilai kultural dari generasi yang lebih tua ke yang muda, ia
juga membawa nilai-nilai baru yang lebih konsumeris ke desa saat anak muda mudik dari kota dengan �pakaian baru, barang elektronik, ransel, dsbnya�� Bahkan mereka yang mengaku rindu kampung halaman saat di Bangkok, setelah di desa cenderung mengalami kejutan budaya yang terbalik, integrasi kembali ke komunitas lebih sulit dari yang mereka harapkan.
Kendati ada banyak kesulitan yang disebabkan migrasi anak muda yang besar-besaran, banyak orang dalam komunitas melihat migrasi sebagai kebutuhan. Sudah semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarga melalui pertanian dan hutang juga tinggi. Warga melaporkan tidak ada pekerjaan di desa dan sulit sekali untuk memulai usaha kecil-kecilan di lingkungan tersebut. Jarang sekali ada alternatif dari migrasi. (Bersambung)
Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta.
Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail Beta shows you when there are new messages. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
