SUARA PEMBARUAN DAILY

Neoliberalisme dan Pupusnya Solidaritas Sosial

Oleh Ahmad Fuad Fanani
Neoliberalisme adalah istilah yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan mayoritas warga dunia. Entah hal itu sebagai tanda kesetujuan maupun penolakan, kedua-duanya muncul secara semarak. Bahkan, saat konferensi WTO sebagai pengkukuhan neoliberalisme di Hongkong belum lama ini, banyak sekali aktivis sosial dari seluruh penjuru dunia datang, guna mengkritisi dan memprotes forum tersebut. Di Indonesia, neoliberalisme tampaknya sudah menjadi paradigma ekonomi pemerintah, terutama setelah ditahbiskan lewat kenaikan BBM dan pencabutan subsidi untuk rakyat miskin.
Istilah neoliberalisme, banyak dikaitkan dengan istilah globalisasi dan kapitalisme. Dan jika diurut ke belakang, ada kaitannya dengan kolonialisme, pembangunanisme, dan imperalisme. Kesemua istilah itu, menegaskan sebuah ideologi dunia yang berusaha dibangun dan disebarkan oleh sekolompok negara maju (Barat) kepada negara-negara berkembang. Tujuannya, tentu saja agar ideologi itu menjadi acuan seluruh dunia.
Neoliberalisme berakar pada gagasan liberal dari filsuf Inggris seperti Adam Smith (1723-1790), David Ricardo (1772-1823), dan Herbert Spencer (1820-1903). Smith adalah penemu citra tentang homo economicus - pandangan bahwa manusia terdiri dari individu-individu mandiri yang bertindak sesuai kepentingan ekonomi mereka. Dalam pandangan Smith, persoalan ekonomi dan politik sangat terpisah, dan ekonomi mempunyai status yang lebih superior karena ia dianggap paling baik jika berjalan tanpa intervensi pemerintah dalam sistem hukum alam yang harmonis. Pasar dianggap sebagai mekanisme otomatis (self-regulating) yang selalu mengarah pada keseimbangan antara permintaan dan penawaran, sehingga menjamin terbentuknya alokasi sumberdaya dengan cara paling efisien.
Dari pijakan seperti itu, tidak heran jika kredo inti neoliberalisme meliputi pertumbuhan ekonomi; pentingnya perdagangan bebas untuk merangsang pertumbuhan; pasar bebas yang tidak terbatas; pilihan individual; pemangkasan regulasi pemerintah; dan dukungan pada model pembangunan sosial yang evolusioner sesuai dengan pengalaman Barat yang diyakini dapat diterapkan pada seluruh dunia (Manfred B Steger, Globalisme: Bangkitnya Ideologi Pasar, 2005). Pada kredo itu, tampak bagaimana pasar bebas dijadikan acuan utama sebagai ajang persaingan kehidupan yang tanpa mengenal belas kasihan dan solidaritas sosial. Bahkan, peran pemerintah sebagai regulator pun dilucuti guna menjamin agar pasar netral dari intervensi pihak manapun.
Puncak pentahbisan neoliberalisme yang diklaim sebagai ideologi dunia dan akhir sejarah pergulatan manusia ini, terutama setelah tumbangnya rezim Komunisme di Eropa Timur dan Uni Soviet tahun 1990-an. Berkaitan dengan itu, Francis Fukuyama dalam karya terkenalnya The End History and the Last Man (1992), menyatakan berakhirnya Marxisme-Leninisme itu, menandakan demokrasi liberal-lah yang dipilih masyarakat sebagai acuan hidupnya.
Fukuyama juga menegaskan, kejayaan "gagasan Barat" dan budaya konsumerisme ke penjuru dunia tidak dapat dibendung lagi. Terlebih lagi, dengan didukung oleh perkembangan logis kekuatan pasar dan munculnya berbagai tekonologi baru, demokrasi kapitalis Barat akan hadir sebagai "bentuk final dari pemerintahan manusia".
Demokrasi kapitalis Barat yang berwujud pada neoliberalisme itu, pada intinya mengacu pada kebijakan dan proses oleh sekelompok kecil swasta yang saling terkait diizinkan untuk memonopoli sebanyak mungkin kehidupan ekonomi dan sosial dalam rangka menumpuk keuntungan mereka. Dan biasanya, antara pemerintah dan pemilik perusahaan transnasional pun bersekongkol untuk memuluskan kepentingan masing-masing. Tidak heran jika berbagai kebijakan pemerintah lebih banyak menguntungkan investor dan pekerja asing, daripada penduduk dan pengusaha pribumi. Bahkan, subsidi BBM untuk pendudukpun dengan mudah dihilangkan semata-mata guna mengikuti persaingan harga minyak dunia yang dikontrol untuk para pialang neoliberalisme. Dan setelah harga BBM melonjak tinggi dan rakyat kecil kembali menjadi korbannya, para investor asing kembali datang dengan investasi bisnis BBM dengan harga dunia.
Meskipun neoliberalisme diklaim sebagai sistem unggul yang nyaris tanpa cela dan masalah, namun di lapangan membuktikan lain. Berbagai kebijakan seperti penurunan pajak untuk orang kaya, pencabutan subsidi untuk orang miskin, UU lingkungan hidup yang dibuat secara serampangan, hingga penghapusan program pendidikan masyarakat dan kesejahteraan sosial, sangat bertentangan dengan hajat hidup rakyat kecil.
Menguatkan Perlawanan
Kehebatan neoliberalisme sebagai sistem ekonomi dan politik Barat yang baru adalah, mereka berhasil menumpangi dan mengisi konsep "globalisasi" dengan pengertian-pengertian neoliberal. Padahal, pada dasarnya muatan globalisasi sendiri masih mengandung perdebatan yang tidak selamanya negatif, karena ia juga merengkuh bidang yang lebih luas seperti ekonomi, politik, budaya, teknologi, dan ilmu pengetahuan.
Namun, karena sudah ditumpangi oleh muatan, nilai, dan tujuan neoliberal, akhirnya globalisasi dianggap sama dengan neoliberal itu sendiri, yaitu lebih bertujuan pada liberalisasi dan integrasi ekonomi pasar. Tidak aneh jika lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, World Bank, dan WTO akhirnya bagi sebagian orang dan negara menjelma menjadi "unholy trinity" yang dipuja dan dijunjung agar mendapatkan "rahmat dan berkah" dari ketiganya.
Hegemoni, monopoli, dan kerakusan neoliberalisme dalam mengatur kehidupan ekonomi dan sosial manusia itu, tentu sangat bertentangan dengan jati diri manusia sebagai makhluk sosial yang harus peduli dan solider dengan sesamanya. Selain itu, ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh kebijakan neoliberal, juga menghancurkan segala upaya untuk merealisasikan kesetaraan hukum dan menegakkan kredibiltas demokrasi.
Tawaran Noam Chomsky untuk menegakkan demokrasi partisipatif dan gerakan sosial di antara masyarakat sipil, adalah sesuatu yang bisa dijadikan pertimbangan. Menurutnya, demokrasi adalah pijakan yang mutlak diperlukan dan diperjuangkan bagi semua masyarakat pasca kapitalis. Tentu saja, model demokrasi di sini adalah demokrasi radikal yang menekankan pada perjuangan anti imperalisme, pembelaan rakyat kecil, penegakan hak-hak buruh, perlindungan lingkungan hidup, penyelamatan hak-hak anak jalanan dan perempuan, serta penciptaan redistribusi sosial (Profit Over People: Neoliberalism and Global Order, 2003).
Perjuangan semacam itu, bisa dilakukan dengan melakukan aliansi antara gerakan buruh, partai sosial demokrat, dan lembaga swadaya masyarakat seluruh dunia untuk membentuk the new social movement yang sesungguhnya. Dengan begitu, dalih dan kekuatan neoliberalisme yang hampir tanpa batas, dapat dilawan dan disaingi dengan kekuatan serupa. Untuk Indonesia, kita harus terus mendesak agar negara dan pemerintah jangan terus terlena dengan bujuk rayu neoliberalisme yang pada dasarnya melanggar jati diri, prinsip founding father, dan kedaulatan bangsa.
Penulis adalah Peneliti di International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), Ketua Program JIMM

Last modified: 26/6/06


Yahoo! Groups gets better. Check out the new email design. Plus there’s much more to come. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke