Selasa, 11 Juli 2006
Profil Bintang
Selamat Jalan Zidane
Sindhunata
Manusia itu mudah pecah. Hidupnya dapat menjadi berantakan, dan berakhir dengan kehancuran tak terkira, yakni kematian. Kebahagiaan juga mudah pecah. Bahkan, cinta pun rawan terbelah. Itulah derita yang harus ditanggung manusia, seperti ia harus menanggung hidupnya.
Manusia itu mudah pecah berserpih-serpih. Setiap serpih pecahan adalah ingatan, yang menyadarkan bahwa tidak hanya kaca atau gelas, tetapi juga dirinya sendiri mudah pecah. Sebab, ia adalah insan, yang dapat bersalah, dan fana. Mau apa, manusia memang terbuat dari daging, mempunyai nafsu, ketakutan, kerinduan, dan cinta. Memang, ia tidak terbuat dari plastik yang liat atau baja yang kuat, karena itu ia mudah pecah.
Itulah realitas yang harus dihadapi setiap insan, seperti ditulis oleh pengarang Rudolf Walter dalam kumpulan renungannya tentang perlunya hati yang terbuka agar manusia menerima dirinya dan menjadi bahagia.
Dan realitas itulah yang dialami oleh Zinedine Zidane dalam perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2006 kemarin. Siapa menyangka dalam saat yang demikian menentukan Zidane diusir dengan kartu merah oleh wasit Horacio Elizondo?
Ia telah mencetak gol penalti ke gawang Gianluigi Buffon. Sampai perpanjangan waktu, dengan kepala dingin ia memimpin kawan-kawannya menggedor pertahanan Italia. Sampai saat itu, di kaki Zidane masih tersimpan harapan Perancis untuk menjadi juara dunia.
Dan sebelumnya, menjelang final, segala pujian dilantunkan kepada Zidane, sampai Raymond Domenech khawatir, jangan-jangan segala pujian itu justru akan menghancurkannya. Memang dengan gila-gilaan, suporter Perancis mengelu-elukan Zidane. Kata mereka, "Zidane harus menjadi presiden."
Bersama Lilian Thuram, Patrick Vieira, Fabien Barthez, dan Claude Makelele, Zidane disanjung sebagai "pahlawan yang berada di luar apa yang baik dan yang buruk". Pada Zidane sudah tak dapat dikenakan lagi norma baik dan buruk karena ia adalah Messias yang akan membebaskan Perancis. Itulah kemuliaan Zidane.
Terusir dengan nista
Namun, justru di puncak kemuliaannya, Zidane tersandung dan terhempas. Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan menyeruduk Marco Materazzi, padahal sedang tak ada bola di kaki Materazzi. Kontan wasit Elizondo mengusirnya dengan kartu merah. Zidane terhempas, padahal piala kemuliaan sedang berada di depan matanya. Maka ia pun terusir dengan nista sebagai orang yang terpidana.
Tak jelas, mengapa Zidane berbuat senekat itu. Mungkin ia terprovokasi Materazzi. Mungkin ia tercekik oleh sistem permainan selama ini. Sebab, kata Michel Platini, permainan bola selama Piala Dunia 2006 cenderung mendewa-dewakan pertahanan. Dalam sistem seperti ini, pemain seperti Zidane atau Ronaldinho dipaksa memperbudakkan diri bagi pertahanan. Tentu ini bisa membuat frustrasi pemain seofensif Zidane.
Itu pun belum bisa menerangkan mengapa Zidane menjadi gusar. Maklum, selama ini ia dikenal sebagai bapak keluarga yang pendiam dan rendah hati. Ia bukan popstar seperti David Beckham. Ia justru banyak menyumbangkan penghasilannya buat karya karitatif. Ia sangat menghormati ayahnya yang mengajarinya untuk rendah hati dan memberi respek kepada sesamanya.
Namun hidup Zidane ternyata juga mempunyai sisi gelap. Ia mengaku bisa tiba-tiba marah. Perasaan marah itu terpendam di lubuk hatinya, dan sewaktu-waktu bisa meluap keluar. Pada keadaan begini, Zidane bagaikan kucing jinak yang tiba-tiba menjadi binatang liar. Karena ledakan emosi itu, cukup banyak kartu merah dikantonginya.
"Saya memendam tumpukan agresi. Saya tak dapat mengatakannya dengan kata-kata apa sesungguhnya agresi itu. Tetapi suatu saat tiba-tiba, agresi itu keluar, dan saya meledak," katanya pada suatu kesempatan. Dan ia pun bercerita lagi, "Saya berasal dari lingkungan yang keras di pinggiran Marseille. Di sana saya tidak ingin berkelahi. Tetapi jika seseorang memprovokasi saya, saya tidak bisa tinggal diam. Saya bisa terjangkit untuk membalasnya. Itulah saya," cerita Zidane jujur.
Ternyata, dalam pertandingan yang demikian menentukan di Berlin, sekali lagi ia tak mampu membendung luapan emosinya. Maka bukan bola, tetapi Materazzi yang ditanduknya. Ia diusir, lalu dengan tertunduk dan gontai ia meninggalkan lapangan. Di kabin, mungkin ia berpikir, andaikan bukan David Trezeguet tetapi ia sendiri yang mengambil penalti, mungkin kans Perancis tetap terbuka untuk jadi juara. Tapi sesal kemudian tak ada gunanya.
Di luar, kembang api bertaburan. Domenech menengadah, terdiam seperti orang kehilangan akal. Lilian Thuram menangis. Hati Zidane kiranya juga sedih teriris-iris. Ia telah melengkapi takdirnya sebagai pemain bola, tetapi bukan dengan kesuksesan dan kegembiraan, melainkan dengan kegagalan dan kesedihan. Ia ternyata bukan dewa tetapi hanyalah manusia biasa yang mudah pecah.
Piala Dunia 2006 telah berakhir. Kita bergembira bersama Italia, dan bersedih bersama Perancis. Tetapi betapa pun, kita boleh bersyukur dengan kisah Zidane yang tragis. Sebab, meski dengan negatif, Zidane telah menjawab teka-teki kebijaksanaan hidup yang diberikan Roberto Baggio kepada Luca Toni, "Jika kamu mau menjadi pemain bola yang baik, kamu harus menjadi manusia yang baik."
Memang Zidane tak berhasil menjadi pemain bola yang baik karena ia tak dapat menahan amarahnya. Tetapi dengan demikian, ia mengantarkan kita untuk melihat diri kita yang sesungguhnya: Seperti dia, kita adalah manusia yang mudah pecah. Itulah serpih ingatan yang amat berharga untuk kita bawa pulang ke dunia harian kita yang nyata, setelah sebulan kita berpesta dengan Piala Dunia.


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke