Sahabat,
 
Ketika anda mengutip bagian dari Sutta/Sutra, hendaknya menyajikan apa adanya, kalaupun ada interpretasi anda, janganlah menaruh bagian itu dalam isi tulisan anda, tapi taruhlah sebagai kutipan, bukan lalu menjadi isi yang bisa jadi malah menjadikan makna dari Sutta/Sutra itu jauh dari yang sebetulnya ingin disampaikan.
 
Ketika anda mengutip definisi dari merah dari kitab suci bahasa indonesia yang bernama kamus besar bahasa Indonesia, taruhlah dibagian definisi, ketika anda berbicara merahnya darah anda dan merahnya bunga mawar merah, tentu anda bisa bercerita banyak.
 
Kalau anda menuliskan merahnya anda itu sebagai suatu referensi bisa jadi anda menjadikan definisi merah itu bias, demikian pula sutta/sutra, kutiplah dengan lengkap, lalu tuliskan interpretasi anda, lalu dengan itu kalaupun salah, bukan Sutta/Sutranya yang salah atau beda, tapi interpretasi anda yang beda.....
 
Ada seseorang yang mengirimkan email ke milis soal Anatta, tapi lalu ybs itu lupa bahwa Anatta itu mesti dibahas secara menyeluruh dan bersama-sama dengan Dukkha dan Annicca sebagai awalnya. Membahas sepenggal itu sama dengan kebodohan yang tidak tertawarkan alias fatalis idiot atau idiot yang tidak tertolong lagi.
 
Anatta itu semestinya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena seperti halnya kalimat "Keselamatan hanya ada dalam Kristus", Anatta itu bukanlah sebuah kata yang bisa diterjemahkan secara harafiah, melaikan merupakan suatu istilah untuk menunjukkan akumulasi dari uraian yang mendalam akan bagian esensi dari ajaran Sang Buddha, kalau minat ada sutta yang bernama Anattalakkhana Sutta, yang kalau bisa dipahami lalu barulah boleh mengaku memahami Anatta itu apa. Dan sesungguhnya Anatta inilah yang mesti dipahami setelah menjalani proses pelatihan diri meditasi Samatha-Vipassana, tanpanya lalu sekedar menjadi omongan tukang jual obat yang tidak bermutu.
 
Namun, kalau memang anda mau memaksa menerjemahkannya, mungkin kalimat yang sedikit masih bisa mewakili bagian darinya adalan "tanpa keakuan/tidak egoistik", bukan seperti yang banyak ditulis di berbagai buku sebagai "Tanpa Aku", yang lalu dengan gampang dijadikan lelucon oleh para fatalis idiot tadi.
 
Tapi kembali itu kalaulah anda masih mau maksa menerjemahkannya, bagi saya (pribadi - paling tidak), tidak etis menerjemahkan kata itu karena lalu maknya nya tidak akan berbunyi, seperti halnya kata Allah pada umat nasrani dan umat islam, sama halnya dengan kata Kristus atau Yahwe/Yehova pada umat nasrani dan yahudi.
 
Sedapat mungkin, hindarilah kebodohan dengan sibuk mengurusi (agama/ajaran spiritual) orang lain, uruslah diri sendiri, bercerminlah lebih sering, karena lalu anda akan tahu bahwa anda kok masih jelek juga.... nggak beda dengan saya dan yang lain.
 
semoga berguna
i
 
sindhu wahyudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: KALAU TIDAK ADA ROH KEKAL, YANG TERLAHIR KE ALAM LAIN ITU APANYA?

Semua agama menyebutkan adanya roh, kenapa hanya di theravada tidak menyebutkan roh kekal atau tidak ada roh?
 
Seperti di kaum nasrani jelas-jelas menyebut Roh Kudus ini menunjukkan adanya roh,
Di kaum muslim juga disebut Nur Ilahi artinya juga roh,
Di Mahayana disebut roh suci atau badan bodhi artinya juga roh,
Di Hindu juga menyebut roh agung, 
Di taoisme disebut tao ini menunjuk pada roh,
Kenapa hanya di theravada saja, tidak ada roh yang kekal padahal sama-sama satu guru yaitu buddha?
 
Kalau tidak ada roh yang kekal atau tidak ada roh, lalu yang tumimbal lahir ke alam lain itu apanya?, karena badan jasmaninya tentu mati / lenyap, lalu yang terlahir ke alam lain itu apanya kalau roh itu tidak ada?


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke