"Sunari" <[EMAIL PROTECTED]>
Pak Akwang dan pak Hudoyo..
Dari uraian Bapak berdua, saya memahamkan bahwa teruraikannya
keberadaan kita menjadi 4 elemen dasar bahan pembentuknya tersebut
adalah tujuan akhir daripada meditasi vipassana yang adalah juga
tujuan akhir perjalanan spiritual yang diajarkan oleh Sang Buddha
[paling tidak, diawal pencerahan sempurnyaNya], benarkah pemahaman
saya tersebut?
Jadi semisal kita ini sebuah molekul air, demi terbebas dari dukha,
kita harus mengusahakan diri 'menghilangkan'/menguraikan eksistensi
kita untuk menjadi sekedar dua butir hidrogen dan sebutir oksigen.
Atau barangkali setelah menjadi hidrogen maupun oksigen.. kalau belum
puas maka juga harus mengusahakan diri menjadi proton, neutron dan
elektron. Dan proses ini dapat saja berproses terus..
Mungkin memang disinilah bedanya ajaran Sang Buddha dengan sistem
kepercayaan yang menganggap bahwa roh/jiwa adalah dicipta/dibuat..
dari 4 elemen tadi di-'lem' oleh Sang Maha Pencipta menjadi sebuah
kehidupan, dan lalu tujuan kultivasinya adalah bukan mengembalikan
yang dicipta tersebut menjadi terurai dan menjadi tiada tetapi hanya
; kembali ke kondisi pertama kali diciptakan.. kondisi enerji murni..
(mirip kondisi manusia Q dalam film startrek!).
Pertanyaan kedua,
Dikisahkan bahwa Sang Buddha sebelum pencerahan sempurnaNya sempat
'bersilaturahmi' dengan Buddha kuno.., lha apakah para Buddha
primitif tersebut belum berhasil menguraikan diri menjadi elektron
dan proton.. sehingga masih dapat dipersepsi oleh Sang Buddha sebagai
sebuah pribadi, bukankah mereka mestinya berada pada kondisi nirvana?
Pertanyaan-2 ini saya ajukan agar pemahaman saya tentang agama
Buddha, khususnya Theravada menjadi lebih baik.
Terima kasih sebelumnya atas penjelasannya.
Salam,
Sunar-i
=====================================
HUDOYO:
Mas Sunari yg baik,
Maaf, Anda keliru memahami "tujuan" meditasi vipassana. "Tujuan"
vipassana adalah menyadari apa yang mendorong makhluk-makhluk ini
terus eksis dan tumimbal lahir dalam roda kelahiran & kematian ini.
Yang mendorong itu adalah kehausan/keinginan (tanha) yang dilandasi
ketidaktahuan (avijja) menghasilkan kelekatan (upadana) yang
mendorong arus tumimbal lahir ini. Pada dasarnya arus tumimbal lahir
ini adalah 'dukkha' (penderitaan, tidak memuaskan).
Ketidaktahuan itu menciptakan si aku/ego/diri/atta. Dengan kata lain,
si aku/diri/ego inilah yang mendorong tumimbal lahir, karena tidak
menyadari bahwa semua itu 'dukkha'.
Berkaitan dengan itu, Sang Buddha mengajarkan pula bahwa bila si
aku/ego/diri ini disadari sedalam-dalamnya, ia akan berakhir,
berhenti, lenyap. Dengan kata lain, ketidaktahuan berakhir, dan
berganti dengan kearifan, pencerahan, dan pembebasan.
Peristiwa pencerahan/pembebasan itu terjadi dalam hidup ini juga,
bukan setelah mati. Orang yg tercerahkan/bebas itu tidak
mempunyai aku/diri/ego lagi. Itu adalah kehidupannya yang terakhir.
Setelah ia mati kelak, dan badan jasmaninya terurai kembali menjadi
unsur-unsur materi, maka tidak ada lagi entitas/individu yang bisa
disebut dia (si A).
Jadi secara singkat, "tujuan" meditasi vipassana hanyalah melihat
sedalam-dalamnya apa yang ada di dalam badan & batin ini, dan bebas
dari itu, tanpa pra-pengetahuan, pra-teori, pra-spekulasi, dan
pra-ajaran apa pun.
Tentang analogi dengan molekul air, saya sarankan janganlah
menggunakan peristiwa-peristiwa di alam materi sebagai analogi dari
alam batin. Anda akan tersesat memahaminya. Menurut jenjang
kerumitannya, alam batin (mind) jauh lebih rumit daripada alam materi
(matter), bahkan lebih rumit daripada alam hayati (life). Menggunakan
alam materi sebagai analogi alam batin (mind) hanya akan menyesatkan
pemahaman, karena alam yang amat rumit direduksikan menjadi seperti
alam yang relatif sangat sederhana.
Pemahaman tentang "Sang Mahapencipta" pada dasarnya merupakan
pandangan yang bersifat dualistik, yakni dualisme antara Pencipta
(Khalik) dan ciptaan (makhluk). Dualisme seperti itu adalah sifat
dasar dari pikiran manusia. Pembebasan dari pikiran berarti pembebasn
dari dualisme pikiran.
Secara POPULER, agama-agama monoteistik (Yahudi, Kristen, Islam)
menitikberatkan pada pandangan dualistik ini. Tetapi dalam kitab
suci-kitab suci agama-agama monoteistik itu saya lihat ada ayat-ayat
yang mentransendensikan dualisme pikiran. Dan ayat-ayat yang demikian
semuanya menafikan ego/aku/diri.
Contoh: dalam Islam ada dua ayat di dua surah yang hampir persis sama
bunyinya: "Qullu man alaiha faana, wa yabqo wajhu rabbika" --
artinya: "SEGALA SESUATU DI MUKA BUMI INI [termasuk aku/diri/ego yang
paling dalam dari manusia/hh] adalah FANA; yang tetap hanyalah Wajah
Tuhanmu." Ini adalah dua ayat Al-Qur'an yang mengatasi prinsip
dualitas, dan menampilkan prinsip monistik (nondualitas, advaita).
Dalam Alkitab Kristen ada ayat dalam kitab Galatia, di mana Rasul
Paulus berkata: "Kini aku telah disalibkan bersama Kristus, dan bukan
aku lagi, melainkan Kristus, yang hidup di dalam ini." Nas ini pun
saya pahami sebagai nas yang mengatasi dualitas antara makhluk dan khalik.
Tentang Sang Buddha Gotama "bersilaturahmi" dengan Buddha terdahulu,
baru kali ini saya mendengarnya setelah belajar agama Buddha selama
40 tahun. Bisa ditunjukkan referensi otentiknya?
Terakhir, mohon dipahami bahwa apa yang saya sampaikan di atas
dipahami dan diterima oleh semua sekte Agama Buddha, bukan hanya oleh
sekte Theravada saja. Semua sekte Agama Buddha menerima prinsip
'anatta' (tanpa aku/roh/diri). Yang berbeda di antara berbagai sekte
hanyalah detail dari 'JALAN' menuju pembebasan.
Salam,
Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/