Hampir semua orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak ada orangtua yang menginginkan anak-anaknya bodoh.
Film karya sutradara asal Singapura Jack Neo berjudul I Not Stupid mengisahkan tentang perjuangan tiga sekawan, Kok Pin (Shawn Lee), Boon Hock (Josua Ang), dan Terry Khoo (Huang Po-Ju), yang menghadapi stigma sebagai anak-anak bodoh.
Pemutaran dan diskusi film I Not Stupid di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (30/6), mendapatkan sambutan hangat dari komunitas pendidikan di Jakarta, khususnya anak-anak SMA.
Sebagian dari mereka adalah anak-anak yang divonis sebagai anak-anak bodoh dan malas belajar karena tidak lulus ujian nasional. Bersama tiga sekawan dalam film I Not Stupid, mereka ingin menyatakan bahwa mereka bukanlah anak-anak bodoh.
Di Singapura, pada saat anak-anak usia 12 tahun, anak dikelompokkan dalam tiga kategori, yakni anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi (EM1), rata-rata (EM2), dan anak-anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata (EM3). Tiga sekawan, Kok Pin, Boon Hock, dan Terry Khoo masuk dalam kategori terakhir.
Gulfino Che Gevarra (15), lulusan SMP Daya Susila di Garut, mengungkapkan terkesan dengan tokoh Kok Pin dalam film ini. Meski Kok Pin dianggap bodoh karena kurang di matematika, bukan berarti ia tidak mempunyai kemampuan di bidang lain. Kok Pin ternyata adalah jago menggambar sampai ia memperoleh kesempatan bersekolah di Amerika Serikat.
"Kalau kemampuan anak yang digali, hasilnya bisa bagus. Anak tidak perlu dituntut harus bisa semua pelajaran," kata Che yang juga merasa tidak pandai matematika.
Fitri (14), siswi SMA Negeri 38 Jakarta Selatan, mengatakan, guru dan orangtua sering menekan anaknya agar menguasai pelajaran tertentu sehingga anak justru tertekan.
Akibat tekanan semacam itu, bakat awal anak justru kurang diperhatikan. Novi, siswi kelas I SMA Negeri 52 Jakarta, mengatakan, anak sering kali diberi label tidak bisa, malas, dan sebagainya sehingga akhirnya anak menjadi seperti itu.
"Apalagi kalau nilainya jelek, anak dipukuli. Orangtua mestinya omong baik-baik sama anaknya," kata Novi.
Setengah mati ibunda Kok Pin berusaha agar anaknya bisa matematika. Atas saran kawan-kawannya, Ny Liu pun tidak segan-segan memukuli Kok Pin agar bisa mengerjakan soal matematika. Hasilnya justru Kok Pin makin putus asa, sampai-sampai mencoba bunuh diri.
Semangat Kok Pin tumbuh kembali ketika kawan-kawannya yang diculik ditemukan akibat gambar sketsa wajah penjahat yang dibuatnya.
Film ini berakhir bahagia ketika Ny Liu berhasil diselamatkan dari maut karena donor sumsum dari kawannya, Terry. Peristiwa itu sekaligus membuat ayah mereka yang bermusuhan berdamai. Di tengah kegembiraan itu, gurunya memberi kabar Kok Pin mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat karena bakat menggambarnya.
Yanti, salah satu orangtua murid yang mengikuti pemutaran film tersebut mengatakan bahwa tidak dapat dihindari orangtua menginginkan yang terbaik buat anaknya.
Keinginan itu sering mengakibatkan orangtua ingin memiliki masa depan anaknya, sehingga memaksa anak harus bisa matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya.
"Orangtua sering lupa bahwa anak juga membutuhkan keterampilan, cinta, dan kebebasan," tutur Yanti.
Koordinator Kelompok Kajian Studi Kultural Universitas Negeri Jakarta, Lodi Paat, mengatakan, pendidikan di Indonesia tidak perlu memisah-misahkan anak berdasarkan kepandaian atau kekayaan orangtuanya.
Kok Pin, kata Lodi, dipukuli orangtuanya karena tekanan tes atau ujian matematika.
"Anak SMP dan SMA sudah bisa melawan, tetapi bayangkan bila ujian nasional SD dilaksanakan ," kata Lodi.
Film I Not Stupid mengingatkan kembali pada sekolah, orangtua murid, dan birokrasi pendidikan bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya sendiri.
Mereka tidak boleh dipinggirkan, apalagi dirampas hak pendidikannya, hanya karena gagal dalam ujian matematika atau salah satu mata pelajaran lainnya.
Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah sistem pendidikan yang bodoh.
________________________________________________________________________
"The first and the best victory is to conquer self."
- Plato -
ric £anvin
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
