Dear all,
Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha.

Silakan menikmati sharing saya berikut ini...Semoga bisa memberikan inspirasi...
Terimakasih semua..

metta,
Julie
=======================================================
Sharing Daily INEB Training (7)

Tgl 27 Mei 2006
Kita pergi berkunjung ke sebuah desa Buddhis bernama Ratchatani Asoke. Pemimpin desa ini adalah Samana Bodhiraksa. Yang menyambut kita adalah seorang guru yang bernama Ming Mai dan sudah tinggal di desa ini selama 7 tahun. Dan satu lagi bernama Ying Don. Beliau tinggal di desa ini bersama semua keluarganya. Dulu dia adalah seorang pebisnis yang sukses, tapi dia merasa tinggal di desa ini lebih baik.

Desa ini didirikan sejak 13 tahun yang lalu, bermula dari seorang bhikshu yang bermeditasi di tepian sebuah sungai dan setelah dia menyelesaikan meditasinya, dia memberitahukan para penduduk desa bahwa itu adalah tempat yang indah. Selanjutnya penduduk mulai pergi dan menanam segala tanaman, dan lambat laun mereka mulai menjadikannya sebagai tempat tinggal. Setelah 10 tahun tinggal disini, penduduk mulai mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat untuk mulai memberikan pengakuan sehingga tempat ini bisa dikenal secara luas oleh masyarakat.
Karena berlokasi di tepian sungai, maka bencana banjir menjadi suatu hal yang tak terhindarkan. Tapi mereka malah berterimakasih dan mengadakan perayaan untuk menyambut banjir ini. Alasannya adalah mereka bertambah kuat ketika bencana ini datang.
Soal barang mewah: mereka hanya mempunyai satu televisi besar sekali yang berada di "alun-alun" desa. Tak satupun rumah yang memiliki satu pun barang mewah kecuali 4 kebutuhan pokok hidup.

Jika ada di antara kita yang berniat menjadi penduduk disana, maka ada 3 syarat yang harus dipenuhi:
a. Harus vegetarian
b. Minimal harus menjalankan 5 sila
c. Harus meninggalkan semua kebiasaan buruk (seperti mabuk,berjudi,dll)

Satu hal yang membuat desa ini sangat spesial dibanding semua desa lainnya adalah:
a. 3 syarat bagi para calon penduduk desa ini.
b. Mereka semua tidak menerima uang sebagai upah kerja. Jadi mereka menghasilkan sesuatu (membuat tahu, membuat juice buah, menanam sayuran, membuat pakaian,membuat obat,dll) untuk kemudian dijual ke desa lain / kota, kemudian hasil dari penjualan tsb menjadi milik desa Ratchatani, bukan milik perorangan. Dan Ratchatani Asoke juga membuka satu restoran vegetarian.Jadi ketika satu keluarga atau seseorang membutuhkan uang,mereka bisa mengajukan permohonan kepada Dewan yang berwenang dalam mengelola keuangan. Kemudian akan diadakan suatu rapat desa yang dihadiri oleh para pemuka desa, setelah mereka mendapat kesepakatan, maka uang bisa dicairkan. Yang tak kalah menarik adalah jika mereka ingin keluar desa untuk berbelanja atau apa pun, maka mereka harus menunggu satu bus (milik desa) yang akan membawa mereka kesana, tentu tanpa ongkos. JAdi di dekat jalan masuk desa ada sebuah pengeras suara (seperti di terminal) yang meneriakan tujuan dan jumlah orang yang akan berangkat kesana.

Sekarang kita akan melihat satu persatu 3 pusat kegiatan desa Ratchatani Asoke meliputi:
**SEKOLAH**
Sebutan untuk murid disini adalah "Samasikha" artinya pembelajaran yang benar / pendidikan yang benar.
Tentang sekolah, mereka punya 3 moto yaitu:
a. Sila yang sempurna (40 %) ---> paling diutamakan
b. Memiliki keahlian / skillfull (35 %)
c. Memiliki pengetahuan / Panna (25 %)
Sekolah juga berpendapat bahwa menjadi seorang murid harus mempunyai hati yang baik dulu, sebelum berotak cemerlang (good heart before good brain). Tentu saja pendidikan juga tidak membutuhkan biaya apa pun.

**KUIL/TEMPLE**
Sebutan untuk Bhikshu adalah SAMANA, dan bhikshuni=SIKAMA.
Dipimpin oleh Samana Bodhiraksa. Bagi siapa saja yang ingin menjadi Samana, harus setidaknya tinggal di desa ini selama 2 tahun. Dan mereka ditasbihkan untuk seumur hidup. Ketika ditasbihkan,mereka mesti meninggalkan semuanya: uang, harta, rumah pribadi, dan jika mereka masih berstatus menikah; mereka mesti menceraikan istrinya dan harus meninggalkan keluarganya. Untuk Sikama, mereka setidaknya harus mengikuti training selama 10 tahun baru bisa mendapat pengakuan sebagai Sikama.

**PENDUDUK**
Desa ini adalah satu dari sekian banyak desa yang dinilai miskin. Karena setiap penduduknya tidak menerima uang sepeser pun. Tapi jangan Anda kira bahwa mereka hidup sengsara. Tidak sama sekali. Malah mereka semua hidup sangat berkecukupan dan bahagia.
Tapi mereka tetap mengalami bencana alam dan kerusakan akibat ulah hewan liar. Hal yang paling berharga buat mereka adalah persahabatan dan dukungan dari semua pihak. Mereka harus bekerja dengan giat, menjaga sila, menjalankan Jalan Mulia Berunsur 8,meninggalkan semua kebiasaan buruk dan harta pribadi.
Satu hal yang paling berharga dari desa ini adalah SILA. Semua orang memakai baju yang sama, berwarna biru (merupakan warna dari kaum tani), untuk wanita mereka memakai sarong, dan untuk pria mereka memakai baju yang bergaya Thai. Tidak ada yang memakai sepatu dan aksesoris. Dan saya juga ikutan tidak pake sandal, mau ikut merasakan bagaimana sih rasanya kaki telanjang  gitu berjalan di tepian sungai, yg berbatu dan tajam sekali. Wah, lumayan loh rasanya cukup membangunkan. hehehee.....Bisa meditasi jalan...
Kegiatan mereka setiap harinya adalah pada pagi hari mereka melakukan olahraga, kemudian chanting, meditasi, dan mendengarkan Dharma talk. Setelah itu mereka pergi mengerjakan tugas masing-masing. Ketika mereka harus mengkritik temannya, mereka melakukannya dalam cara yang sangat bersahabat.
Mereka juga mempunyai pusat kesehatan dan pusat training yang diperuntukkan untuk semua orang.  
Seperti kita, mereka juga memiliki perayaan, antara lain:
a. Perayaan Tahun Baru
Pada hari terakhir mereka akan saling berlomba untuk menjual barang2 dengan harga paling MURAH!! Jadi mereka berlomba untuk mendapat keuntungan seminim mungkin.  
b. Perayaan Tahunan untuk Petani
Pada perayaan ini mereka mengadakan seminar mengenai "organic agriculture".
Ms. Pan (tour guide kami) mengatakan bahwa mungkin saja pihak lain melihat dan menilai mereka sebagai orang miskin, tapi jika dilihat dari sudut pandang Buddhis, mereka sebetulnya sangat kaya sekali. Mereka berbagi kebutuhan dalam hidup dan hidup bersama sebagai satu keluarga besar.
Selain di "alun-alun" sebagai tempat untuk menerima kunjungan / tamu / meeting, mereka juga biasa menjamu beberapa tamu kehormatan atau mengadakan meeting di sebuah kapal (yang bagus sekali....swear deh...). Dan biasanya sebagai pemimpin meeting adalah Samana Bodhiraksa.

Kemudian saya mengajukan beberapa pertanyaan seperti:
1. Apakah sebabnya mereka mendirikan desa ini? Ms. Pan (tour guide kami) menjelaskan agar umat awam mendapat kesempatan untuk menjalani hidup seperti bhikshu. Pada awalnya sebelum bisa berdiri sendiri, mereka bergabung dengan Pathom Asoke (desa Buddhis yg terbesar). Lambat laun mereka memiliki beberapa toko (bersama) lalu berkembang menjadi beberapa pabrik. Ada sekitar lebih dari 20 bhikshu yang tinggal disini.
2. Apa yang menginspirasi mereka untuk mendirikan desa ini? Adalah hanya DHARMA. Bisa menikmati buah kebajikan dari melaksanakan Dharma. Mereka sungguh percaya bahwa dengan banyak melakukan perbuatan bajik, di kehidupan berikutnya mereka bisa menjadi bhikshu atau bahkan menjadi Buddha.

Sebagaimana segala hal, pasti ada sisi positif dan negatif. Ada beberapa kelemahan dari desa Ratchatani Asoke ini, yaitu:
a. Pihak luar akan memandang mereka sebagai orang yang miskin
b. Punya begitu banyak penderitaan,
c. Pihak luar akan berpikir bahwa mereka tak bisa melakukan apa yang mereka suka.
d. Kami bertanya bagaimana anak2 kecil yg tinggal disini? Apakah tidak timbul suatu keinginan dalam diri mereka ketika melihat oragn luar desa mereka yang berpakaian begitu berbeda, dengan segala aksesoris yang mewah, games, dll. Apakah ini malah tidak memicu mereka menjadi penasaran dan ingin tahu atau malah merasa minder..?
e. Bagaimana mereka tahu apa yg baik dan apa yg buruk tanpa membuka diri? Hampir bisa dikatakan mereka speerti hidup di suatu lingkungan yang di design khusus. Apakah mereka benar-benar mampu untuk mempertahankan gaya hidup ini jika mereka tinggal di lingkungan seperti kita?

Tapi mereka juga memiliki beberapa kelebihan yaitu :
a. Punya kesempatan yang begitu berharga untuk berlatih menempatkan diri dalam penderitaan
b. Dengan hidup seperti ini, mereka juga mempunyai paham bahwa ajaran Buddha adalah untuk dimengerti, digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah.
c. Perekonomian mereka sangat aman, karena mereka menghemat begitu banyak sumber daya alam.
d. Ini salah satu bentuk komunitas yang baik, yang menerapkan sila, dan semuanya melatih diri. Seperti Buddha, Beliau selalu menciptakan Sangha dimana pun Beliau berada.
e. Salah satu cara efektif membendung akibat dari globalisasi.
f. Dapat melatih diri untuk menangani nafsu-nafsu keinginan (desire).
 
Aturan desa ini sangatlah ketat, bila ada yang hamil diluar nikah, maka mereka diharuskan pergi meninggalkan desa ini. Jika para murid ada yang melanggar sila, mereka juga dianggap gagal.Satu hal unik dari desa Ratchatani Asoke: hal penting buat mereka untuk bisa bertahan adalah lebih mengacu ke arah spiritual, daripada materialistis. Karena sesungguhnya materialisme tidak menyembuhkan masalah yang ada dalam pikiran kita.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mereka bisa mengetahui apakah para murid benar2 mejaga sila?
1. Mereka belajar mengenal ajaran Buddha, mereka akan mengadakan Dharma Class setiap minggu / setiap bulan untuk semua pelajar.
2. Mereka juga memeriksa sila dari para pelajar dengan menanyakan langsung pada siswa tsb. Dan masalah apakah murid tsb akan jujur, dia menjelaskan bahwa setiap orang di desa ini akan membantu untuk memantau hal tsb. Orang tua mereka juga melakukan hal yang sama. Bersama mereka akan berusaha untuk menjaga sila, menciptakan situasi yg mendukung siswa untuk belajar, dan menjaga lingkungan.

Slogan hidup mereka adalah: "Life simple, Eat simple, and Die Simple".

Demikianlah sharing kali ini tentang kunjungan kami ke desa Ratchatani Asoke ini. Sungguh sebuah desa Buddhis impian, just like dream come true...
Cukup panjang yah...Ini aja ga semuanya loh, hanya ambil bagian2 penting aja.Hehee....
Seperti biasa kita akan bertemu lagi di sharing saya selanjutnya...Semoga yah dengan sharing ini, mungkin bisa memberikan ide / inspirasi kepada kita, tentang bagaimana Buddhis di Indonesia, akan dibawa kemana....Semoga dengan ini, bisa memperkuat perkembangan Buddhis disini, dan makin membuat kita solid.

metta,
Julie


See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke