Rabu, 19 Juli 2006
Mengais Setetes Rezeki di Musim Kemarau
Kasim (46) tak lelah menyusuri jalan-jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Siang yang terik tak mengendurkan langkah kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit. Sambil mendorong gerobak yang mengangkut jeriken air, sesekali ia berhenti di warung tepi jalan, menawarkan air kepada pelanggannya.
Keseharian Kasim adalah berdagang air keliling. Bersama delapan pedagang, ia mengambil air di sebuah sumur di Jatibunder, Tanah Abang, kemudian mengantar air bersih itu ke pelanggannya seharga Rp 1.000 per jeriken. Sekali jalan, ia bisa mengangkut 16 jeriken dengan gerobak dorongnya.
Musim kemarau ini seakan memberi berkah bagi Kasim dan kawan-kawannya. Kalau orang lain mengeluh sulit mencari air akibat banyak sumber mengecil, Kasim malah mendapat tambahan penghasilan. ”Saat kemarau seperti ini, permintaan air semakin bertambah, tetapi saya tidak bisa melayani semuanya. Tidak kuat kalau harus bolak-balik mengangkut air karena jaraknya jauh,” katanya sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya dengan sobekan handuk yang menggantung di lehernya.
Biasanya Kasim hanya berkeliling tiga kali jalan setiap hari. Namun, saat musim kemarau, ia bisa keliling hingga lima kali setiap hari. Dengan sekali jalan mengangkut 16 jeriken, dalam sehari Kasim bisa mendapatkan penghasilan kotor Rp 80.000. Setelah dikurangi untuk uang makan serta setoran pengambilan air, Kasim membawa pulang sisanya untuk keluarga.
Cerita serupa dialami Doyok (50), pedagang air yang biasa menyuplai kebutuhan warung dan rumah di sekitar Pasar Tanah Abang. Meskipun ada permintaan lebih pada musim kemarau ini, ia tidak memaksakan diri untuk melayani semua permintaan air. Sehari, Doyok hanya empat kali jalan.
Ia menjual satu jeriken seharga Rp 1.500. Meski demikian, tambahan keuntungan yang ia peroleh masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. ”Kebutuhan keluarga selalu saja ada, padahal kerja kami hanya kuli begini,” ujarnya.
Ramalan musim kemarau yang bakal menyebabkan kekeringan hingga bulan depan bagi sebagian besar orang adalah belitan hidup karena mereka harus keluar ongkos baru untuk membeli atau mencari air. Tetapi, bagi Kasim dan Doyok, kekeringan meneteskan sedikit harapan sehingga tak perlu berpikir menjual gerobak untuk makan. (RIS)


Groups are talking. We’re listening. Check out the handy changes to Yahoo! Groups. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke