Rekan Hudoyo yang baik:
Terima kasih jawaban anda,sangat jelas dan saya terima dengan pas,jadi saya tidak melanjutkan lagi dengan topik ROH,selanjutnya saya ada sebuah pertanyaan lain,mudah2an anda bisa membantu memberi pandangan atau pencerahan.
Judul topiknya adalah:
Pendiri sebuah aliran disebut PAHLAWAN atau PEMBERONTAK?
Penjelasan dari pertanyaan tersebut adalah>
Dengan adanya beberapa aliran dalam satu agama,tentu ada sisi positif dan sisi negatifnya,tergantung dari sudut pandang masing2 individu,(hal ini bukan cuma terjadi di Buddha saja,agama lain juga sama),antara lain:
sisi pandangan positif>Dianggap sebagai kemajuan agama Buddha,lebih fleksibel dan kreatif sesuai kondisi zaman dan budaya setempat,atau sebagai pembaruan dari Buddha yang asli.
Sisi pandangan negatif>Rawan konflik antara aliran yang satu dengan yang lainnya,terutama bagi umat penganut pemula,dan juga menjadi membingungkan bagi umat AWAM,dan bagaimana kalau aliran baru muncul lagi dan lagi,kacau kan?
dan mungkin masih ada positif dan negatif yang lainnya.kalau lebih banyak positifnya tentu jawaban dari topik ini adalah pahlawan,dan sebaliknya bisa disebut sebagai pemberontak dari yang asli,bahkan lebih xtremnya bisa di sebut penghianat atau menyesatkan.
nah menurut anda bagaimana?
pertanyaan ini agak nyleneh,jadi kalau anda merasa tidak patut di bicarakan,yah lewatkan saja.
Sekian ,terima kasih atas perhatian anda,maaf kalau tulisan saya ada yang salah.
Salam dari Hadi
================================
HUDOYO:
Rekan Hadi yg baik,
Topik yang Anda tampilkan sangat menarik. Setiap agama dalam perkembangannya selalu bercabang-cabang. Percabangan selalu diawali dengan ketidakpuasan yang meluas terhadap kehidupan keagamaan di masyarakat dan terhadap lembaga-lembaga keagamaan yang mapan pada suatu masa. Lalu ada seseorang, yang biasanya memperoleh wahyu atau semacam kekuatan dari luar pribadinya sehingga memiliki kharisma yang lebih dari kebanyakan orang, kemudian menyatakan memisahkan diri dari 'mainstream' agama yang ada. Dan ia diikuti oleh umat lain yang sama-sama merasa tidak puas.
Bercabangnya Kristen Protestan dari 'mainstream' Katolik dimulai dengan ketidakpuasan terhadap praktek-praktek Gereja Katolik, terutama di puncak pimpinannya di Vatikan, yang sangat bersifat duniawi. Begitu pula ketika George Fox tidak puas dengan praktek-praktek Gereja Anglikan di Inggris pada masa itu, ia memisahkan diri dan membentuk The Society of Friends (Quakers).
Begitu pula dalam Islam: pecahnya aliran Syiah dari Sunni karena ketidakpuasan dengan pimpinan masyarakat Islam pada masa itu, terutama perlakuan yang dianggap tidak adil terhadap keturunan Nabi, Hasan dan Husin, yang tewas dalam perang saudara.
Dalam Agama Buddha pun begitu, pecahnya Mahayana dari Theravada disebabkan karena ketidakpuasan terhadap kehidupan para bikkhu Theravada yang dianggap terlalu elite menempatkan diri di atas umat awam; dan juga dipicu oleh ketidakpuasan dengan "melencengnya" interpretasi ajaran Sang Buddha dengan mengutamakan analisis tentang 'dhamma-dhamma' (unsur-unsur eksistensi) yang dianggap nyata/riil sebagaimana tercantum dalam Abhidhamma Pitaka. Seperti diketahui, Mahayana menekankan doktrin sunyata (kekosongan) yang merupakan hakekat dari semua dhamma (unsur eksistensi); sebaliknya, Theravada malah memasukkan 'nibbana' sebagai salah satu "unsur eksistensi" (dhamma). (Lihat: rujukan di bawah)
***
Menurut pemahaman saya, sekte-sekte dalam agama-agama muncul dari pengalaman pencerahan batin orang-orang tertentu yang menjadi pelopornya. Pemahaman (konseptualisasi) para pelopor itu terhadap pengalaman batin itu dikondisikan oleh pengetahuan, pemikiran, kepercayaan dan faktor-faktor sosial-psikologis lainnya, yang berbeda-beda dari satu orang ke lain orang, dari satu tempat ke lain tempat, dan dari satu zaman ke lain zaman, berbeda dari pemahaman orang-orang lain sebelumnya yang kebanyakan hanya memahami secara intelektual belaka warisan agama mereka. Oleh karena itu kita tidak bisa mengharapkan atau memaksakan kehomogenan di antara interpretasi-interpretasi keagamaan itu.
Bagaimana nasib sekte-sekte itu selanjutnya tergantung pada seberapa dalam pencerahan yang dialami oleh pendirinya. Ada yang bersumber pada pencerahan otentik dan mendalam, sehingga menjadi sekte yang luas dan terbuka, memenuhi hasrat religiius dari umat banyak, dan dengan demikian akan relatif bertahan dan lestari untuk waktu lama, seperti Theravada, Mahayana, Vajrayana, Zen. Tapi ada pula yang malah menjadi sempit dan eksklusif, karena lebih banyak didasari sikap memberontak daripada tercerahkan sejati, dan dengan demikian hanya menjadi penyaluran emosi religius yang bersifat dangkal dan terbatas, dan oleh karena itu tidak akan bertahan lama dalam jangka panjang atau tetap kecil dan terbatas.
Bagaimana saya pribadi melihat sekte-sekte yang banyak itu? Kalau saya masih mendambakan dan menuntut kesamaan dan kehomogenan di dalam interpretasi manusia terhadap pengalaman spiritual, itu tentu harus menurut pengalaman, pemahaman dan pengetahuan saya sendiri, bukan menurut pemahaman orang lain. Dengan demikian itu cuma menunjukkan masih kuatnya ego saya.
Salam,
Hudoyo
Rujukan mengenai perpecahan Theravada & Mahayana:
"When the Mahasangikas (School of the Great Assembly) seceded from the Elders (Theravadins) about 400 BC, the germs were laid for the rise of the Mahayna Buddhism. The Mahasangikas admitted non-arhat monks and worshippers (i.e., those who had not attained perfection), defied the Buddha, taught the doctrine of the emptiness of the elements of being, distinguished between the mundane and the supramundane reality, and considered consciousness (vijñana) to be intrinsically free from all impurities. These ideas found varied _expression_ among the various groups into which the Mahasangikas later divided (see also Buddhism).
Arising in India, the Mahayana version of Buddhism spread to Central Asia, China, Japan, mainland Southeast Asia, Java, Sumatra, and even Sri Lanka (Abhayagiri monastery). It became the Pan-Asiatic form of Buddhism and involved basic shifts in doctrine and approach for which, however, there were precedents in earlier schools. It taught that neither the self nor the dharmas exist. Moreover, for the elite arhat ideal, it substituted the bodhisattvai.e., the one who possesses the innate tendency to become a buddha, a disposition inherent in all persons. In Mahayana, love for creatures is exalted to the highest; a bodhisattva is encouraged to offer the merit he derives from good deeds for the good of others. The tension between morality and mysticism that agitated India also entered the Mahayana." [Encyclopaedia Britannica 2006 Ultimate Reference Suite DVD]
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
