|
Sayangnya Negara dalam keadaan sakit Membentuk suatu kurikulum yang jelas untuk
pendidikan aja amburadul Memberi pendidikan gratis atau murah aja
amburadul, masalah BOS aja main sunat Lalu bagaimana bisa membentuk atau membangun
character building, yang harus mencirikan Koq yang dipentingkan malah masalah
‘moral’ sempit seperti memakai rok panjang sampai kemata kaki
terutama untuk wanita untuk menghindari tindakan mesum(yang jadi pertanyaan,
apakah dengan melihat betis aja kaum lelaki Dengan mengesampingkan masalah pola pikir
dan character building para siswanya Dengan mengesampingkan banyak anak putus
sekolah Dengan mengesampingkan biaya sekolah yang
terus naik Dengan mengesampingkan mental menerima
kegagalan dengan penuh tanggung jawab(kasus UAN) Dengan mengesampingkan prasarana dan
sarana pendidikan yang rusak Dengan mengesampingkan bahwa moral, budi
pekerti bukan berasal dari pakaian Apa jadinya pendidikan di Coba lihat di makasar, banyak mahasiswa
main tawuran, pake pistol rakitan, tawuran dengan sopir angkot hanya karena
masalah sepele Inikah hasil pendidikan sangat memalukan ronny From:
[email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Jeritan Bisu Kompas,
Rabu, 26 Juli 2006
Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak
bermakna. Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin organisasi
pendidikan, ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa. Ketika ungkapan ini diucapkan oleh Bung Karno dulu, oleh
Mohamad Said dari Taman Siswa, oleh St Takdir, oleh Soedjatmoko, ungkapan ini
meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya. Ungkapan ini menghidupkan
harapan besar dalam hati saya. Kini, kalau saya mendengar orang mengucapkan kata-kata ini,
ia berlalu begitu saja, tidak mampir di otak atau hati saya. Apakah character
building atau pembinaan watak kini sudah bukan masalah lagi di Ketika Bung Karno mengucapkan kata-kata ini, rasanya
diucapkan dalam konteks politik. Jadi yang dimaksud ialah watak bangsa harus
dibangun. Tetapi ketika kata-kata ini diungkapkan oleh para pendidik, dari Ki
Hajar Dewantara hingga Mohammad Said, konteksnya adalah pedagogik. Yang
dimaksudkan ialah pendidikan watak untuk para siswa, satu demi satu. Bagaimana
cara mendidik anak di sekolah agar selain menjadi pintar juga menjadi manusia
berwatak? Pendidikan watak Jika diuraikan seperti ini, masalah character building masih
merupakan suatu isu besar, bahkan amat b esar. Semua kebobrokan yang kita
rasakan kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada diri kita
bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah. Saya kira
jumlah orang yang jujur masih cukup banyak di Indonesia, tetapi mereka tidak
berdaya menghadapi kelompok kecil manusia Indonesia yang korup, yang mempunyai
kekuasaan atau membonceng pada kekuasaan. Jadi apa yang salah dengan pendidikan watak kita? Banyak
sekali! "Pendidikan watak" diformulasikan menjadi pelajaran agama,
pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran budi pekerti, yang program utamanya
ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif semata. Paling-paling mendalam
sedikit sampai ke penghayatan nilai secara afektif. Padahal, pendidikan watak seharusnya membawa anak ke
pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke
pengamalan nilai secara nyata. Dari gnosis sampai ke praksis, istilah
pedagogiknya. Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat
penting yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang
sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut conatio. Dan
langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini disebut langkah konatif. Jadi dalam pendidikan watak, urut-urutan langkah yang harus
terjadi ialah langkah pengena lan nilai secara kognitif, langkah memahami dan
menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara konatif.
Ini trilogi klasik pendidikan. Oleh Ki Hajar diterjemahkan dengan kata-kata
cipta, rasa, karsa. Berdasar analisis ini pendidikan watak pada dasarnya adalah
membimbing anak untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai. Rumusan
Profesor Phenix ialah "voluntary personal commitment to values".
Dilihat dari sudut ini tidak akan terlalu sukar untuk mengetahui
kesalahan-kesalahan kita dalam menyelenggarakan pendidikan watak. Pelaksanaan Kini, lih atlah cara kita melaksanakan pendidikan watak,
terutama dari segi evaluasi. Mengetahui kemajuan anak dalam aspek kognitif
relatif itu mudah. Nilai-nilai apa saja yang dikenal dan dipahami anak mengenai
berbagai hal dalam kehidupan? Nilai-nilai tentang pergaulan sosial, tentang
etos kerja, tentang kejujuran? Apa saja yang telah diketahui dan dipahami anak
tentang berbagai jenis nilai tadi? Bagaimana mengevaluasi keberhasilan anak
dalam mengenali dan memahami nilai-nilai ini? Jelas tidak dengan tes multiple choice (pilihan ganda)
semata. Bagaimana menilai kemajuan aspek afektif anak? Observasi dan catatan
hasil observasi adalah cara terbaik. Dan menilai kemajuan anak dalam aspek
praksis juga harus dilakukan dengan observasi yang sistematis. Dilihat dari segi in i, kita tidak dapat menghindari kesan,
pendidikan watak di sekolah kita benar-benar amburadul. Saya mendapat kesan,
kita tidak sungguh-sungguh berusaha melaksanakan pendidikan watak. Rupanya
tidak ada tempat dalam kurikulum sekolah Indonesia untuk melaksanakan pendidikan
watak yang sebenarnya. Para guru bertanya, untuk apa menghabiskan waktu dan
tenaga untuk pendidikan watak? "Soal watak Kesan ini diperkuat cara penyelenggaraan ujian nasional. Hanya
tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan
Matematika. Ketiga hal ini memang penting, tetapi siapa berani mengatakan
pendidikan watak tidak penting? Kiranya tidak ada! Namun, ketentuan atas ketiga
pelajaran menentukan lulus-tidaknya seorang siswa dari ujian nasional berarti
pemerintah memandang pendidikan watak sama sekali tidak penting. Ujian nasional
telah mengubur pendidikan watak. Mungkin ada yang mengatakan, mengevaluasi hasil pendidikan
watak dengan baik tidak mungkin dilakukan secara nasional, tetapi harus secara
lokal. Saya setuju! Tetapi kenyataannya, penilaian lokal tidak diperhitungkan
sama sekali. Kesimpulan saya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
menganggap pendidikan watak tidak penting. Itu hanya suatu komoditas politik
yang tidak perlu dianggap terlalu serius. Selain itu, Depdiknas menganggap para
guru yang tiap hari mendampingi anak tidak memiliki informasi yang sah tentang
perkembangan murid, termasuk perkembangan wataknya. Kini kita harus menentukan secara definitif, pendidikan
watak di sekolah itu penting atau tidak bagi masa depan bangsa dan negara?
Kalau penting, mari ditangani bersama dengan baik. Kalau kita menganggapnya
tidak penting lagi, karena sudah ada pelajaran agama, kewarganegaraan, dan budi
pekerti, ya sudah! Jangan ngomong lagi tentang pendidikan watak. Jangan ngomong
tentang nation and character building. Mochtar Buchori Pendidik ____________ ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
- [Dharmajala] "Character Building" dan Pendidikan Ki... Jeritan Bisu
- RE: [Dharmajala] "Character Building" dan Pend... RW
- RE: [Dharmajala] "Character Building" dan Pend... RW
