Saat seseorang dilahirkan, dia tidak akan memiliki kekuasaan
atau hak untuk menentukan ke mana arah hidupnya. Dia bagaikan
selembar kain putih yang siap diberikan warna. Dia akan ditata
sedemikian rupa sesuai dengan tradisi, agama, pendidikan dan budaya
di mana dia dilahirkan. Jika dia berada di lingkungan yang sangat
dominan peranan tradisinya, maka dia akan terbentuk menjadi manusia
yang memandang segala hal dari kacamata tradisi. Jika dia berada di
lingkungan yang sangat dominant peranan agamanya, maka dia akan
terbentuk menjadi manusia yagn memandang segala hal dari kacamata
agama. Pada era globalisasi ini, peranan agama dan tradisi sedikit
bergeser dalam membentuk karakter manusia. Dia secara perlahan-lahan
digantikan oleh peranan budaya global. Namun teori ini tidaklah
statis. Manusia memiliki sifat yang heterogen. Meskipun sama sama
terlahir dalam lingkungan yang sama, tidak ada manusia yang memiliki
kesamaan secara spesifik. Dalam homogenitasnya terdapat karakter
yang heterogenitas di dalam diri setiap manusia. Dengan demikian
maka ada beberapa jenis orang yang dibesarkan di dalam lingkungan
yang sangat dominant peranan agama atau budayanya bisa saja
menerobos keluar untuk mencari sesuatu yang baru. Inilah yang
disebut dengan pencarian jati diri yang sesungguhnya. Mengambil
contoh, beberapa puluh tahun yang lalu seseorang akan cenderung
menjadi Theravadin jika dia memiliki latar belakang pendidikan
barat. Faktor ini disebabkan oleh kitab suci Pali lebih banyak
tersedia dalam bahasa Inggris dan karena terbiasa dengan sistem
pendidikan barat, maka ada suatu kecocokan dalam mempelajarinya. Ini
disebut sebagai karakter yang didominasi oleh peranan bahasa.
Seseorang yang memahami bahasa mandarin dengan baik akan cenderung
menjadi seorang Mahayanis. Karena tersedia beribu-ribu buku ajaran
Mahayana yang berbahasa mandarin. Kemudian bisa juga seseorang
cenderung bersikap nonsectarian karena karakter dirinya sangat
didominasi oleh berbagai latar belakangnya, seperti dia menguasai
bahasa inggris dan mandarin, atau dia hidup dari lingkungan keluarga
Chinese tradition, sementara dia bersekolah di sekolah Buddhis
Theravada. Ini sekedar contoh contoh secara umum.
Bagi manusia manusia yang tidak pernah memiliki keinginan untuk
menerobos lapisan ini, maka setiap kajian atau teori yang gelutinya
hanya akan berjalan di atas jalur yang relative subjektif. Sebagai
contoh, seorang penganut Kristen akan selalu membenarkan ajaran nya
berdasarkan sudut pandang Kekristenan, karena sejak kecil karakter
dirinya sudah dibentuk sedemikian rupa untuk melihat hal dari
kacamata kekristenanan. Dia telah didominasi oleh peranan agamanya
secara tipikal. Tidak dipungkiri juga dengan penganut agama lain
seperti Hindu, Buddha, Islam, dll.
Dari hal ini, kita dapat mengatakan bahwa kajian terhadap ajaran
yang ditulis oleh seseorang beragama x akan selalu membenarkan agama
x, meskipun terus membandingkanya dengan berbagai agama lain. Sikap
objektifitasnya selalu gagal karena akan terus tersaring lewat
karakter yang membentuknya sejak kecil. Kecuali mereka yang mampu
menerobos. Dan jika seseorang berhasil menerobosnya maka dia akan
menjadi seseorang yang seperti baru dilahirkan kembali. Namun
manusia di masa sekarang ini sulit ditemukan seorang penerobos.
Siddharta Gotama adalah contoh orang yang berhasil menerobosnya
secara total. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa Yesus juga salah
satunya, namun Yesus tetap tidak memotong jalur lama, seperti tetap
berpegang pada perjanjian lama. Sedangkan Siddharta Gotama sama
sekali muncul sebagai seorang yang revolusioner. Dari seorang
pangeran menjadi seorang yang hidup berpindapata, dari seorang
kepala keluarga menjadi seorang selibat. Dari seorang pencari ajaran
menjadi seorang guru. Dari seorang yang dikuasai nafsu menjadi
seorang penakluk nafsu. Semua ini adalah terobosan revolusioner dari
seorang manusia yang awalnya didominasi oleh peranan agamanya
(Brahmanisme) dan tradisinya (sistem kasta).
Cg ik
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/