At 06:51 PM 8/14/2006, <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Banyak banget kalimatnya, boro-boro mencoba menemukan TUHAN, 
nemuiin kesalahan kita tadi selama 60 menit, susah!!! apalagi 
nemuiin TUHAN, jangan coba-coba, deh!!!

========================
HUDOYO:

Di balik ungkapan "Banyak banget kalimatnya ..." ini tersirat adanya sedikit 
perasaan kesal, tidak sabar, menganggap terlalu bertele-tele, ingin ringkas 
saja, ingin langsung pada intisarinya, dsb, dsb.

Di sini perlu dijelaskan, bahwa hampir semua buku-buku J Krishnamurti merupakan 
TRANSKRIP dari ceramah atau dialog yang diadakan dengan berbagai kelompok atau 
perorangan.

Di situ K berbicara sangat lambat, kata demi kata, sehingga orang harus 
menyimak dengan menghentikan segala aktivitas pikiran yang lain. Dengan kata 
lain, K perlu dipahami dengan sikap meditatif. Ini dapat kita lihat/alami 
sendiri bila mendengarkan kasetnya atau menonton VCD atau DVD-nya.

Tetapi setelah ditranskripkan ke dalam bentuk tulisan dan disajikan sebagai 
produk jadi, maka orang cenderung membacanya cepat-cepat seperti ia membaca 
buku-buku yang lain. Apalagi kalau orang terbiasa dengan speed-reading. Maka 
tulisan-tulisan JK terasa bertele-tele, berputar-putar, tidak langsung to the 
point. Maka informasi yang diperoleh dengan membaca cepat-cepat seperti itu 
sangat minim. Lalu orang cenderung memahami K secara keliru, atau mengatakan 
bahwa K "sulit dipahami", bahwa buku-bukunya sama sekali "tidak mencerahkan" 
(tentunya secara intelektual).

Saran saya: bacalah setiap buku K sebagai suatu live event, sebagai suatu 
proses yang tidak dapat Anda lompati sampai ke akhirnya. Bayangkan Anda tengah 
hadir dalam ceramahnya yang tengah Anda simak. 

Konkritnya, bacalah "tulisan-tulisan" K dengan sangat lambat, kalimat demi 
kalimat, dengan jeda yang cukup panjang di antara dua kalimat untuk  diresapkan 
(bukan direnungkan dengan pikiran).

Kalau orang bisa melakukan itu, maka pasti ia akan memperoleh pengalaman yang 
lain sekali dibandingkan dengan membaca K cepat-cepat. Ia akan melihat bahwa 
setiap kata K sangat berarti. Tiba-tiba ia akan menyadari bahwa apa yang 
dikatakan K itu sesungguhnya adalah kondisi batin kita sendiri. Bahwa kata-kata 
K itu ibarat cermin kosong yang polos dan tidak ada warnanya, yang di situ kita 
bisa melihat diri kita sendiri. Di situ kita akan memperoleh pencerahan, 
mengenal diri sendiri.

Salam,
Hudoyo

PS: Sebagai latihan, cobalah membaca "tulisan" K di bawah ini sebagaimana 
disarankan. :-) (Kutipan ini saya terjemahkan ulang, dan paragrafnya saya susun 
kembali untuk membantu jeda dalam membacanya.)

Kalau ada kesempatan, cobalah menonton K berceramah. Saya punya DVD-nya dengan 
subtitie bahasa Indonesia, yang kini tengah saya terjemahkan dari bahasa 
Inggris.


=====================================
JANGAN MENCOBA MENEMUKAN TUHAN!
 
Melihatkah Anda bagaimana batin mengecoh dirinya sendiri? Bisakah Anda membawa 
apa yang tak dikenal, apa yang tak bisa dialami, ke dalam apa yang terkondisi, 
ke dalam alam yang dikenal? Tentu saja tidak. 

Jadi jangan mencobanya. Jangan mencoba untuk menemukan Tuhan, kebenaran, oleh 
karena hal itu tidak punya arti. 

Yang bisa Anda lakukan hanyalah  mengamati kerja batin Anda sendiri, yang 
adalah wilayah konflik, kesengsaraan, derita, ambisi, pemenuhan, frustrasi. Itu 
bisa Anda pahami, dan batas-batasnya yang sempit bisa diruntuhkan.

Namun Anda tidak berminat dengan itu. Anda ingin menangkap Tuhan dan menaruh 
dia di dalam sangkar apa yang Anda ketahui, sangkar yang Anda namakan tempat 
ibadah, kitab, guru, sistem. Dan Anda merasa puas dengan itu. 

Dengan berbuat demikian, Anda mengira Anda menjadi sangat religius. Bukan! Anda 
cuma munafik, merampok, menipu, berdusta di dalam sangkar itu.
 
Jadi, manusia yang sadar/eling akan semua ini tidak berkepentingan dengan 
realitas, dengan apa yang tak terukur, yang tak bisa dikenal; ia berkepentingan 
dengan pengakhiran iri hati, dengan pengakhiran kesedihan, dengan pengakhiran 
dari seluruh proses menjadi (becoming). 

Itulah yang bisa Anda perbuat —Anda bisa melakukannya setiap hari dengan cara 
waspada terhadap keirihatian Anda, mengawasi cara Anda bicara, cara Anda 
menunjukkan respek yang [sesungguhnya] bukan respek, cara Anda meraih, 
mengumpulkan. 
 
Melalui pemahaman-diri, batin bisa membebaskan diri dari 
keterbatasan-keterbatasannya, dari keterkondisiannya. Dan pembebasan diri 
keterkondisian inilah meditasi. 

Jangan mencoba bermeditasi terhadap realitas, karena Anda tidak bisa; itu suatu 
kemustahilan. 

Meditasi terhadap Tuhan tidak punya arti. Bagaimana batin yang terkondisi, 
kerdil, remeh, iri hati, bermeditasi terhadap sesuatu yang tak bisa dikenal? 

Yang bisa dilakukan oleh batin hanyalah membebaskan diri dari yang dikenal 
—dari segala sesuatu yang telah Anda pelajari, dari ambisi-ambisi Anda, 
pengakraban-pengakraban (identifications) Anda, keserakahan Anda.

Membebaskan batin dari kenangan akan semua ini itulah meditasi. Dan bila batin 
bebas, maka Anda akan menemukan munculnya suatu keheningan luar biasa. Suatu 
keheningan di mana tidak ada [subyek] yang mengalami, yang selalu mengukur, 
mengingat, menghitung-hitung, menginginkan. 

Maka batin menyadari sesuatu yang sama sekali lain, suatu keadaan yang dalam 
dirinya adalah berkah, yang di dalamnya ada suatu gerak yang tak punya pusat, 
dan dengan demikian tanpa awal dan tapa akhir. 

Batin yang mampu memberikan perhatian total, tanpa entitas yang mengalami apa 
yang tengah terjadi, akan menemukan ada suatu realitas, kebaikan, keindahan, 
yang bukan reaksi, bukan lawan, tanpa sebab, dan dengan demikian sesuatu di 
dalam dirinya sendiri. 

Tetapi realisasi dari kemahaluasan itu tidak bisa muncul kalau batin tidak 
sepenuhnya kosong dari yang dikenal.
 
Dari: BOMBAY, 6TH PUBLIC TALK, 3RD MARCH 1957.




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke