Rekan ISF yg baik,

Pepatah mengatakan "Tak dikenal, maka tak sayang." Tidak mungkin saya 
menghormati sesuatu kalau saya tidak mengenalnya. Tidak ada apa pun di dalam 
akidah Islam yang mengharamkan saya untuk mempelajari agama-agama lain, dengan 
tujuan agar saya dapat memahami apa yang dipahami saudara-saudara saya sesama 
manusia. Itulah landasan yang sejati bagi kehidupan pluralistik di zaman modern 
ini. 

Memisahkan hati dan pikiran adalah sikap artifisial yang membuat batin kita 
terpecah-belah. 

Mempelajari agama lain secara tulus bisa berakibat tiga kemungkinan: (1) pindah 
agama; (2) memperkuat agama sendiri: (3) melepaskan kelekatan dan 
ketergantungan pada setiap & semua agama. Tapi saya melihat, terlepas dari 
ketiga kemungkinan di atas, pada umumnya orang yang belajar berbagai agama 
bertambah luas wawasannya, kemanusiaannya, dan spiritualitasnya.

Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud dengan "di ujung ada perbedaan", yang 
menyebabkan Anda mengharamkan diri mempelajari agama lain. Apakah yang Anda 
maksud dengan di 'ujung'?

Salam,
Hudoyo

PS: Dalam Al-Qur'an ada juga ayat-ayat positif (bersifat pluralistik) yang 
kira-kira berbunyi (saya lupa Surah-nya): "Bagi setiap umat, Allah telah 
memberikan jalan yang terang; oleh karena itu, berlombalah dalam kebaikan." 
Cuma sayangnya, jarang saya mendengar ayat-ayat positif seperti ini 
dikhotbahkan dari mimbar-mimbar masjid. 

Yang sering dikumandangkan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras adalah 
justru "ayat-ayat perang". Padahal menurut asbabun-nuzulnya ayat-ayat itu turun 
dalam situasi yang khusus, sehingga timbul pertanyaan bisakah "ayat-ayat 
perang" itu di-universal-kan? Seperti misalnya, ayat-ayat yang mengatakan bahwa 
kaum Yahudi dan Kristen akan "selalu" memusuhi kaum Muslim.


At 03:48 PM 8/18/2006, you wrote:

Mas Hudoyo,
sikap saling menghormati kebenaran agama di mata masing-masing penganutnya 
memang merupakan hal yg essensi dalam islam, tetapi sayangnya sudah dari 
'sono'nya memang begitu, bukan kehendak manusia kalau dalam ajaran Islam 
mengharamkan intervensi utk menyakini ajaran agama lain, tetapi diwajibkan 
menghormati ajaran agama lain, begitulah yg saya tangkap, karena di 'ujung' 
terjadi perbedaan.
 
salam
isf 
 
   
----- Original Message ----- 
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio 
Rekan Isf yg baik, 
Menurut hemat saya, kalimat 'lakum dinukum waliyadin' tidak dapat ditafsirkan 
sebagai 'agamaku adalah satu-satunya agama yang benar'. 
Kalimat itu bisa saja berarti, "Bagiku, agamaku yang benar; bagimu, agamamu 
yang benar." 
Begitulah, menurut hemat saya, kalimat itu justru menekankan sikap saling 
menghormati kebenaran agama di mata masing-masing penganutnya. 
Salam, 
Hudoyo
At 11:49 AM 8/18/2006, you wrote:

>Maaf Mas Hudoyo, 
>  
>dalam ketentuan Islam (Qur'an) dijelaskan dg tegas ; "Bagimu agamamu, bagiku 
>agamaku", kisah yg timbul disaat Muhammad SAW berhadapan dengan pemuka2 agama 
>yg menghndaki ibadah secra sharing/ bergantian, maka Tuhannya Muhammad 
>menyampaikan hal tsb. 
>Hanya saja kalau melihat kenyataan yg ada, sulit sekali menemukan orang Islam 
>yg benar keislamannya, AA Gym salah satu orang yg memiliki keislaman secara 
>benar (mnt saya lho..) 
>  
>salam 
>isf 
>   
>----- Original Message ----- 
>From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio 
>Saya sependapat dengan Rekan Anwar. 
>Acuan-acuan yang ditafsirkan sebagai "Islam SATU-SATUNYA AGAMA yang benar" 
>masih bisa ditafsirkan secara lain, secara inklusif, tidak secara eksklusif. 
>Alm. Nurcholish Madjid pernah mengupas soal ini. Kata 'islam' berarti 
>'berserah diri [kepada Allah]'. Ada pengertian lain dari 'Islam' (sengaja 
>dibedakan dengan 'I' besar), yang mengacu pada nama salah satu agama. 
>Bisa saja orang yang 'islam' (berserah diri) secara spesifik menganut agama 
>Islam, Kristen, Buddha dsb. 
>Sebaliknya, bisa saja seorang beragama Islam, tapi tidak 'islam' (berserah 
>diri), karena hatinya penuh dengki, iri hati, serakah dsb. 
>Jadi, tergantung penafsiran kita masing-masinglah, mau inklusif atau 
>eksklusif. 
>Tapi rasanya sekarang sudah bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif, di 
>dalam agama mana pun juga. 
>Salam, 
>Hudoyo 





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke