Dari: "Sutarman" <[EMAIL PROTECTED]>
Rekan-rekan yth.,
Menurut hemat saya, dalam berdiskusi, sebaiknya disepakati dulu istilah-istilah
yang dipergunakan dalam diskusi, sehingga diskusi bisa berangkat dari persepsi
yang tidak jauh beda. Kalau menilik diskusi ini, paling tidak, ada satu kata
yang dipahami secara berbeda oleh pihak-pihak yang berdiskusi, yaitu kata
"agama" yang diterjemahkan dari kata "dien" dalam bahasa Al Qur'an. Saya ingin
urun rembug mengenai terminologi yang menurut saya banyak digunakan secara umum
padahal memiliki penggunaan kata yang belum tentu tepat (kalau di-rujuk dari
sumbernya), yaitu kata "dien" tersebut.
Menurut saya, kata dien bisa diterjemahkan sebagai "agama" atau "jalan", tapi
harap dibedakan dari "lembaga" atau "organisasi". Saya mengacu kepada beberapa
ayat dalam Al Qur'an yang menyebutkan bahwa rasul-rasul sebelum Muhammad adalah
juga "Islam" dan berada di "jalan yang benar". Dalam pengertian ini "Islam"
tidak diartikan sebagai sebuah "organisasi/lembaga" keagamaan, karena secara
organisasi, secara spesifik tatacara/tata tertib peribadatan umat Muhammad dan
rasul sebelumnya jelas tidak sama. Misalnya, sama-sama beribadah puasa, tapi
tatacara/tata tertib puasanya berbeda-beda. Sama-sama beribadah shalat
(sujud/ruku/dsb), tapi tata tertibnya berbeda-beda.
Menurut saya, ada 3 hal utama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai
penyampai ajaran ilahiah, yaitu:
1. Kesadaran untuk "menerima tanpa reserve" atau "dengan kesadaran penuh" akan
berlakunya hukum-hukum alam atau ayat-ayat Allah atau sunatullah, dalam
kehidupan ini. Penerimaan ini tidak dengan "indoktrinasi", atau "belenggu
kepercayaan" atau "dogma" melainkan dengan "realita apa adanya" tanpa pemaksaan
konsep. Misalnya, pengertian "Allah Yang Mahaesa" saya pahami (dalam pengalaman
meditasi) sebagai penerimaan (dengan kesadaran atau keikhlasan) akan realita
bahwa "Kehidupan" ini adalah kesatuan tunggal yang tidak terpisah-pisah
sendiri-sendiri, sehingga semua fenomena termasuk "daun yang jatuh" saja adalah
atas "ijin Allah". Penerimaan akan realita sejati inilah yang saya sebut
sebagai IMAN.
2. Jalan untuk mencapai kemenangan atau kebahagiaan sejati dalam kehidupan ini.
Dalam berbagai agama jalan ini ditempuh melalui: meditasi, pijat dan senam,
puasa, berbagi dengan sesama, dll. Secara sekilas saya uraikan sbb.:
- Saya menterjemahkan laku Syahadat (meng-esakan Allah) sebagai meditasi untuk
mencapai pembebasan dari belenggu si aku (sehingga hijab si aku lenyap dan
muncullah Allah yang Esa/Ahad/Tunggal/Satu-satunya). Seperti diketahui laku
meditasi ini juga ada dalam berbagai agama.
- Laku Shalat (termasuk ber-wudhlu sebagai prasyarat shalat) saya pahami
sebagai laku pijat dan senam. Salah satu fungsi shalat adalah untuk menghapus
dosa atau penderitaan atau memori yang tersimpan di dalam tubuh manusia melalui
jalan pijat dan senam. Seperti diketahui dalam agama-agama sebelum agama yang
dibawa Muhammad hal ini sudah diajarkan. Dalam agama Hindu ada Yoga. Dalam
agama Kristen ada "baptis", bahkan kalau diambil dari kata asalnya, Mesias
("masaha") artinya mengurut, memijat, meminyaki.
- Laku Shaum dan laku Zakat saya pahami sebagai laku puasa dan laku berbagi
terhadap sesama (charity). Dalam berbagai agama hal ini jelas diajarkan.
Laku-laku inilah yang saya sebut sebagai "agama Islam" atau "jalan berserah
diri" (Islam = berserah diri = jalan selamat). Dalam pengertian ini, bagi saya,
"agama Islam" atau "jalan berserah diri" adalah "satu-satunya jalan" untuk
mencapai kemenangan atau keselamatan atau kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
Bagi saya, "tidak ada jalan lain". Dan laku atau jalan atau agama ini berlaku
secara universal dalam banyak nama-nama yang berbeda-beda.
3. Organisasi atau lembaga yang dibentuk sebagai "wadah" atau "kemasan" untuk
menjalankan aktivitas nomor 2 di atas. Lembaga inilah yang sering menjadi
perdebatan dan sering disebut juga sebagai agama. Point no 1 dan 2 di atas
bersifat universal, tetapi point no 3 ini bersifat ekskusif dan terbatas, serta
memiliki aturan dan tata tertib tersendiri. Sebaiknya kita tidak berdiskusi
mengenai point no 3 ini, karena mungkin kurang tepat untuk di-diskusikan di
milis ini.
Salam,
Sutarman
Catatan: Mas H. Sutarman adalah pemeditasi MMD senior.
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio
Rekan ISF yg baik,
Pepatah mengatakan "Tak dikenal, maka tak sayang." Tidak mungkin saya
menghormati sesuatu kalau saya tidak mengenalnya. Tidak ada apa pun di dalam
akidah Islam yang mengharamkan saya untuk mempelajari agama-agama lain, dengan
tujuan agar saya dapat memahami apa yang dipahami saudara-saudara saya sesama
manusia. Itulah landasan yang sejati bagi kehidupan pluralistik di zaman modern
ini.
Memisahkan hati dan pikiran adalah sikap artifisial yang membuat batin kita
terpecah-belah.
Mempelajari agama lain secara tulus bisa berakibat tiga kemungkinan: (1) pindah
agama; (2) memperkuat agama sendiri: (3) melepaskan kelekatan dan
ketergantungan pada setiap & semua agama. Tapi saya melihat, terlepas dari
ketiga kemungkinan di atas, pada umumnya orang yang belajar berbagai agama
bertambah luas wawasannya, kemanusiaannya, dan spiritualitasnya.
Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud dengan "di ujung ada perbedaan", yang
menyebabkan Anda mengharamkan diri mempelajari agama lain. Apakah yang Anda
maksud dengan di 'ujung'?
Salam,
Hudoyo
PS: Dalam Al-Qur'an ada juga ayat-ayat positif (bersifat pluralistik) yang
kira-kira berbunyi (saya lupa Surah-nya): "Bagi setiap umat, Allah telah
memberikan jalan yang terang; oleh karena itu, berlombalah dalam kebaikan."
Cuma sayangnya, jarang saya mendengar ayat-ayat positif seperti ini
dikhotbahkan dari mimbar-mimbar masjid.
Yang sering dikumandangkan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras adalah
justru "ayat-ayat perang". Padahal menurut asbabun-nuzulnya ayat-ayat itu turun
dalam situasi yang khusus, sehingga timbul pertanyaan bisakah "ayat-ayat
perang" itu di-universal-kan? Seperti misalnya, ayat-ayat yang mengatakan bahwa
kaum Yahudi dan Kristen akan "selalu" memusuhi kaum Muslim.
At 03:48 PM 8/18/2006, you wrote:
Mas Hudoyo,
sikap saling menghormati kebenaran agama di mata masing-masing penganutnya
memang merupakan hal yg essensi dalam islam, tetapi sayangnya sudah dari
'sono'nya memang begitu, bukan kehendak manusia kalau dalam ajaran Islam
mengharamkan intervensi utk menyakini ajaran agama lain, tetapi diwajibkan
menghormati ajaran agama lain, begitulah yg saya tangkap, karena di 'ujung'
terjadi perbedaan.
salam
isf
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio
Rekan Isf yg baik,
Menurut hemat saya, kalimat 'lakum dinukum waliyadin' tidak dapat ditafsirkan
sebagai 'agamaku adalah satu-satunya agama yang benar'.
Kalimat itu bisa saja berarti, "Bagiku, agamaku yang benar; bagimu, agamamu
yang benar."
Begitulah, menurut hemat saya, kalimat itu justru menekankan sikap saling
menghormati kebenaran agama di mata masing-masing penganutnya.
Salam,
Hudoyo
At 11:49 AM 8/18/2006, you wrote:
>Maaf Mas Hudoyo,
>
>dalam ketentuan Islam (Qur'an) dijelaskan dg tegas ; "Bagimu agamamu, bagiku
>agamaku", kisah yg timbul disaat Muhammad SAW berhadapan dengan pemuka2 agama
>yg menghndaki ibadah secra sharing/ bergantian, maka Tuhannya Muhammad
>menyampaikan hal tsb.
>Hanya saja kalau melihat kenyataan yg ada, sulit sekali menemukan orang Islam
>yg benar keislamannya, AA Gym salah satu orang yg memiliki keislaman secara
>benar (mnt saya lho..)
>
>salam
>isf
>
>----- Original Message -----
>From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio
>Saya sependapat dengan Rekan Anwar.
>Acuan-acuan yang ditafsirkan sebagai "Islam SATU-SATUNYA AGAMA yang benar"
>masih bisa ditafsirkan secara lain, secara inklusif, tidak secara eksklusif.
>Alm. Nurcholish Madjid pernah mengupas soal ini. Kata 'islam' berarti
>'berserah diri [kepada Allah]'. Ada pengertian lain dari 'Islam' (sengaja
>dibedakan dengan 'I' besar), yang mengacu pada nama salah satu agama.
>Bisa saja orang yang 'islam' (berserah diri) secara spesifik menganut agama
>Islam, Kristen, Buddha dsb.
>Sebaliknya, bisa saja seorang beragama Islam, tapi tidak 'islam' (berserah
>diri), karena hatinya penuh dengki, iri hati, serakah dsb.
>Jadi, tergantung penafsiran kita masing-masinglah, mau inklusif atau
>eksklusif.
>Tapi rasanya sekarang sudah bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif, di
>dalam agama mana pun juga.
>Salam,
>Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/