At 05:20 PM 8/19/2006, Gunardi Wu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>Ada pertanyaan yang mungkin menarik untuk dibahas mengenai 
>ke-Maha-Tahu-an seorang Samma Sambuddha, begini:
>
>Andaikan terdapat sebuah mesin pemutar dadu, dengan beberapa biji dadu 
>didalamnya, diputar dalam jangka waktu tertentu dan akan berhenti 
>setelah waktunya berakhir.
>
>Jika seorang Buddha memang maha tahu, tentu saja Beliau akan dapat 
>menebak angka dadu yang keluar.
>
>Tapi kalau Beliau dapat menebaknya dengan 100% benar, bukankah ini 
>berarti bahwa kejadian-kejadian dimasa yang akan datang sudah 
>terdefinisi dari sekarang (jadi tidak berbeda dengan pernyataan bahwa 
>"segala sesuatu di alam semesta ini sudah diatur sedemikian rupa [oleh 
>sang pencipta]") ?
>
>Kalau Beliau tidak dapat menebaknya (atau tidak 100% benar), bukankah 
>ini berarti bahwa Beliau bukanlah seorang yang Maha Tahu?
>
>Mohon penjelasan dari rekan-rekan.
>
>Terima kasih
>
>-GWu
============================================
HUDOYO:

Paradoks ini muncul karena pengertian-pengertian transendental tumpang tindih, 
campur aduk dengan pengertian-pengertian duniawi (mundane).

"Kemahatahuan" adalah konsep transendental, diartikan secara duniawi sebagai 
"tahu apa yang terjadi di masa lampau, di masa kini dan di masa depan, dan tahu 
apa yang terjadi di mana saja (dalam ruang)." Definisi seperti ini adalah 
pemahaman pikiran manusia yang terkondisi dan terbatas atas suatu konsep yang 
sebetulnya mengatasi pikiran.

Sedangkan "masa lampau", "masa kini", "masa depan" dan "ruang (di sana, di 
sini)" adalah pengertian-pengertian yang bersifat duniawi, yakni 
pengertian-pengertian dari batin manusia yang terkondisi dan terbatas. 

Kerancuannya terletak dalam definisi "kemahatahuan" di atas. Bagi seorang yang 
'mahatahu'--atau bagi 'Tuhan yang Mahatahu' dalam agama-agama monoteis--atau 
bagi seorang yang telah bebas (arahat), adakah 'masa lampau', 'masa kini' dan 
'masa depan' seperti yang disadari oleh pikiran yang terkondisi dan terbatas? 
Adakah konsep 'ruang'? Ataukah pengalaman orang yang 'mahatahu' itu tentang 
"ruang" dan "waktu" lain sekali dengan pengalaman pikiran yang terkondisi dan 
terbatas?

Begitu pula pengertian-pengertian seperti 'determinisme' dan 'indeterminisme' 
sebagai konsekuensi dari paradoks ini adalah pengertian-pengertian yang berasal 
pikiran yang terkondisi dan terbatas. Bagi batin yang telah bebas, apa artinya 
'determinisme' dan 'indeterminisme'?

Kita sendiri, yang belum bebas sepenuhnya, di dalam meditasi vipassana bisa 
melihat untuk sesaat atau beberapa saat lamanya dan menyadari bahwa "ruang" dan 
"waktu" bukanlah kebenaran-kebenaran mutlak atau obyektif, bahwa "ruang" dan 
"waktu" tidak terlepas dari pikiran manusia yang terkondisi dan terbatas.

Salam,
Hudoyo





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke