At 12:47 PM 8/24/2006, "Fatahillah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Namo Buddhaya,

Maaf, judulnya agak... agak... bingung soalnya tidak menemukan kata yang tepat
btw saya mo tanya..
Selama ini dalam pikiran saya bahwa meditasi yang lebih beresiko ( tanpa
pembimbing / guru )itu adalah meditasi Vippasana karena saya pernah dan sering
membaca bahwa seseorang yang melakukan meditasi vippasana tanpa bimbingan dari
seorang guru bisa mengakibatkan stress, dll. karena mengalami sensasi-sensasi
yang mungkin agak gimana ( saya sendiri juga tidak tahu ).

Tapi ketika kemarin saya ada diskusi dengan teman saya, dia bilang bahwa yang
lebih beresiko itu meditasi samatha terutama meditasi pernapasan ( anapasati ),
saya jadi agak bingung.. apalagi setelah saya membaca bahwa Sang Buddha mencapai
pencerahan sempurna karena melakukan meditasi pernapasan.

Mohon pencerahannya..

Salam Metta,

Erlin
=================================
HUDOYO:

Tampaknya teman Anda itu pun tidak punya pengalaman meditasi. 

Meditasi apa pun mengandung risiko kalau pemeditasi tidak memahami apa yang 
harus dilakukan dalam meditasi. Risikonya ialah kalau ia MEMILIKI KEINGINAN 
DUNIAWI KUAT YANG DIHARAPKANNYA DIPEROLEH DARI MEDITASINYA, seperti ingin 
sakti, ingin kebal, ingin melihat alam gaib, ingin bisa mempengaruhi orang 
lain, ingin cita-cita duniawinya tercapai dsb, dsb. Dalam hal itu ia akan 
mengalami konflik dalam meditasinya, dan kalau ini tidak disadarinya, bisa 
menimbulkan stres dan gangguan jiwa. 

Tapi soal ini tidak perlu dibesar-besarkan. Yang membesar-besarkan biasanya 
justru orang yang TIDAK PERNAH BERMEDITASI. Merekalah yang suka bergunjing 
tentang "bahaya meditasi".

Baik meditasi ketenangan (samatha-bhavana) maupun meditasi pencerahan 
(vipassana-bhavana) sama-sama TIDAK berisiko selama pemeditasi memahami APA 
TUJUANNYA dan BAGAIMANA CARANYA. Itu saja dipegang. Jangan takut bermeditasi. 

Memang, dalam meditasi pencerahan (vipassana-bhavana) bisa muncul keadaan batin 
tertentu yang membuat orang RAGU-RAGU (vicikiccha), dan/atau membuat orang 
MANDEK dalam meditasinya karena mengira telah "sampai". Untuk itu perlu seorang 
pembimbing/guru yang mampu mengingatkannya kembali. 

Jadi, tidak ada risiko GANGGUAN MENTAL sedikit pun dalam melakukan meditasi 
vipassana, sebagaimana sering digembar-gemborkan oleh orang yang tidak pernah 
bermeditasi.

Beberapa kasus gangguan jiwa yang terjadi dalam meditasi vipassana lagi-lagi 
disebabkan oleh karena pemeditasi TIDAK MEMAHAMI TUJUAN meditasi vipassana, dan 
TIDAK MENJALANKAN PETUNJUK yang diberikan pembimbing/guru. Kasus-kasus seperti 
ini JUSTRU terjadi dalam retret-retret yang dibimbing oleh seorang guru, baik 
di dalam maupun di luar negeri!

Orang-orang seperti ini biasanya SUDAH mempunyai stres atau konflik yang berat 
dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka mudah dikenali sebelum mulai meditasi 
dengan wawancara yang agak mendalam sedikit. -- Jadi, jika Anda yakin batin 
Anda tidak mempunyai stres atau konflik yang berat dalam kehidupan sehari-hari, 
Anda tidak perlu takut melakukan meditasi vipassana.  

Seorang guru vipassana, Bhante Gunaratana, menulis sebuah buku yang ditujukan 
bagi orang-orang yang tidak punya pembimbing/guru dan mau berlatih vipassana 
sendirian. ("Meditasi dalam Kehidupan Sehari-hari.")

Meditasi adalah intisari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha. "Umat Buddha" 
yang tidak pernah bermeditasi sebetulnya bukan siswa yang menjalankan ajaran 
Sang Guru. 

Sila, Samadhi (meditasi) dan Pannya harus dilaksanakan sejak AWAL Anda 
menjalankan ajaran Sang Buddha. Bukan sila dulu, lalu meditasi belakangan entah 
kapan. (Meditasi di sini bukan "meditasi" 1-2 menit dalam kebaktian yang tidak 
lebih dari seminggu sekali.) Banyak "umat Buddha" menunda-nunda atau tidak mau 
bermeditasi, karena mengira meditasi itu susah, buang waktu, dan tidak 
bermanfaat. Mereka sering berkilah, akan bermeditasi setelah tua atau setelah 
pensiun nanti.

Pesan saya: BERMEDITASILAH MULAI SEKARANG, SEBELUM MUSIBAH DATANG !  Dan 
percayalah, musibah cepat atau lambat pasti akan datang dalam hidup Anda.

Salam,
Hudoyo





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke