At 09:28 PM 8/30/2006, you wrote:
>[...] Dogma disusun para petinggi gereja lewat wahyu yang mereka terima, yang
>sama artinya dengan osmosis ke kesadaran komunitas para penyusun dogma
>tersebut (magisterium). Logika bergerak menanjak secara piramidak dan itulah
>murni hasil karya manusia. Logika bergerak menurun ke bumi itulah wahyu yang
>memiliki dimensi logis juga.
---------------------
HUDOYO:
Sekalipun dogma disusun berdasarkan "wahyu" yang sama, tak urung dogma itu bisa
berbeda-beda: dogma Protestan berbeda deengan dogma Katolik, berbeda dengan
Dogma Kristen Ortodoks, berbeda pula dengan dogma Quakers, dst dst. Belum kalau
kita bicara tentang dogma Kristen vs dogma Islam vs dogma Buddhis vs dogma
Hindu dst dst. Sekalipun disusun berdasarkan apa yang diyakini sebagai
"wahyu", jelas dogma itu produk pikiran manusia, dan sebagai produk pikiran
manusia tidak lepas dari keterkondisian dan keparsialan (partiality). Jelas
dogma tidak niscaya identik dengan kebenaran.
***
> Ngomong soal wahyu mendingan kita stop wacananya di milis ini sampai di sini
> saja. Karena milis ini lebih bergerak/berwacana pada tataran psikologis (dan
> kompatiologis) dan bukan para tataran metafisis spiritual. Kompatilogi justru
> berusaha keras melakukan de-mistifikasi fenomen-fenomen yang selama ini
> dianggap sebagai metafisis oleh kebanyakan orang, termasuk oleh para
> intelektual dan akademisi juga. Nanti semuanya jadi ngaco belo dan
> salah-salah dianggap mau menciptakan agama baru pula.
>
>Mang Iyus
-----------------------
HUDOYO:
Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan "demistifikasi" fenomena-fenomena
yang tepatnya bersifat mistikal (bukan "metafisikal" dalam arti produk
pemikiran metafisika/filsafat).
Karena sifatnya yang secara epistemologis hakiki, setiap fenomena yang murni
mistikal (seperti wahyu, ilham, pencerahan mistikal, pembebasan mistikal dsb)
TIDAK MUNGKIN DIDEMISTIFIKASIKAN (yang saya raba tidak lebih daripada upaya
penghilangan sifatnya yang otentik mistikal).
Dan wacana mengenai fenomena-fenomena mistikal itu malah seyogyanya tidak boleh
distop di dalam lingkup paradigma mistikalnya sendiri yang sah, yang telah
berlangsung sepanjang sejarah manusia.
Dan saya memandang wacana seperti itu justru melengkapi disiplin psikologi
'mainstream' yang tidak menjangkau sampai kepada pengalaman mistikal, kecuali
yang telah dicoba dekati oleh psikologi transpersonal dan depth psychology.
Proses meditasi mengenal diri (MMD) jelas merupakan proses yang sepenuhnya
berada dalam lingkup disiplin psikologi, sekalipun pada puncaknya terjadilah
fenomena mistikal Pencerahan & Pembebasan tanpa disengaja, diharapkan, dan
diupayakan. (Lihat "Petunjuk Pelaksanaan MMD")
Salam,
Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/