|
Namo Buddhaya,
Saya pernah mengikuti Kegiatan
Serangan Fajar sperti yg Bro Dayapala ikuti bbrp waktu lalu. Memang miris
melihat kehidupan seperti itu. mereka yg tidur hanya beralaskan kardus/koran
dialam terbuka, ada bayi yg baru lahir dan demam 39 drajat lebih...ada yg
paginya habis tertabrak mobil dan banyak lagi. Mereka yg hidup menggelandang itu
ada yg pekerjaannya sebagai pengemis, pengamen, tukang minuman, pemulung, tukang
parkir dll. ketika saya berbicara dg mereka ada yg sebenarnya punya rumah di
bandung tp krn dia malu dgn keluarganya tidak punya pekerjaan maka dia pilih ke
jakarta dan jadi pemulung, ada juga yg ternyata dia habis kecopetan tidak punya
uang utk balik ke daerahnya sehingga mencari uang dulu utk beli tiket pulang ke
daerahnya, dll.
Kemaring Minngu (17 Sept'06) di
kolong jembt. Grogol (yg biasa dibuat parkir mahasiswa trisakti) diadakan Ultha
bersama anak jalanan, acara ini dipelopori oleh P' Asmoro dkk serta Budi dkk dan
dibuat 3/4 bln sekali. Acara ultah ini dihadiri oleh anak-anak jalanan yang
sudah dibimbing se-jabotabek. Acaranya ada nyanyi,operet, badut, akrobat, tiup
lilin dan pembagian hadiah, serta makanan dan ice cream. para relawan yang
hadir menyebar ke seluruh anak-anak untuk mendampinginya, mengajak berbicara.
Tampak sekali kebahagiaan di wajah mereka saat menikmati acara2 yg disuguhkan.
Saya mau berbagi pengalaman waktu
di acara tsb sy mendampingi anak-anak dari daerah bekasi. sy ada berbicara dgn
slaah satu anak, dia menceritakan tiap hari mengamen dari satu bis kota ke bis
kota lainnya, pernah sampai tersasar ke daerah grogol-slipi, dia juga mencerikan
pernah di palak oleh preman. walaupun dia mengamen anak tsb tidak melupakan utk
sekolah (skr dia duduk di kelas 5 SD). Ketika saya menayakan mengapa ia mengamen
dan dimana orang tuanya, dia berkata "orang tua saya ada kak, tapi ayah sya
pengangguran dan hanya mabuk2 an saja, ibu saya hanya di rumah sj kalau sy tidak
ngamen bgmn sy membiayai sekolah sy?? mendengar penuturannya hati sy terharu,
sedih "kok anak sekecil ini menanggung beban hidup yg berat?" ketika dia
mengomentari pertunjukan akrobat yang sedang berlangsung dia menggelayut manja
di bahu saya lalu ada bbrp ada anak lain mengikuti. saya membiarkan saja dan ada
kalanya saya rangkul mereka, mungkin mereka mau juga bersandar karena lelahnya
melewati dan menanggung beratnya beban kehidupan serta kejamnya kehidupan di
jalan. saat menjelang berpisah saya memberikan sedikit motivasi kepada mereka "
kamu nga papa tetap mengamen sperti ini yg penting cari uang yg halal tapi
jangan lupakn sekolah, agar kelak kamu bisa lepas dari kehidupan di jalan yang
melelahkan, jangan mudah putus asa karena dgn tekad yg kuat pasti bisa" mereka
menjawan "iya kak, aku sudah cape hidup seperti ini aku mau bisa kerja di
kantoran dan cari uang yg penting jujur dan halal.
Mendengar cerita dari mereka,
salahkah mereka mengamen atau lainnnya di jalan???? memang dilematis,
kalau dibilang salah ya salah tapi kalau memang salah tapi adakah sesuatu yang
di lakukan utk membuat mereka tidak kembali dijalan. salah satu yg telah
dilakukan oleh P' Asmoro dkk hanya untuk membantu mereka untuk menggapai impian
mereka dan menyemangati mereka untuk terus belajar. FYI P'Asmoro dkk juga
mengadakan belajar tiap minggu di bbrp tempat, di kemanggisan mereka mempunyai
rumah singgah utk anak jalanan diasana ada kegiatan belajar setiap
hari.
Demikian sharing dari saya, mari
kita membantu mereka tanpa menyalahkan siapa yg salah, semoga impian mereka
untuk bangkit dari kehidupan seperti ini tercapai.
Salam Metta
Dee
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, September 19, 2006 3:52
PM
Subject: [samaggiphala] Kesaksian Pribadi
(4) (Hidup Susah Mati pun Segan)
Sungguh sulit terlahir menjadi manusia, lebih sulit lagi terlahir
dan menjadi gelandangan.
Bagaimanakah hidup para gelandangan?
Bagaimana mereka tidur? Bagaimana mereka makan? Apa kegiatan
mereka sehari-hari? Andaikan mereka sakit atau sudah tua dan membutuhkan
bantuan, siapakah yang akan menolong? Bagaimana masa depan
mereka? Dapatkah anda memahami pertanyaan-pertanyaan ini?
Yah
memang mungkin sehari-hari kita pernah bertatap muka dengan para pengemis,
para pengamen, para pemulung sampah. Kemungkinan mereka juga para
gelandangan yang ketika malam hanya bisa berbaring di lantai stasiun
kereta, di kolong jembatan, ataupun di pinggir jalan beratapkan langit,
beralaskan kardus atau plastik seadanya. SADARKAH KITA AKAN KEHADIRAN
MEREKA??? Atau kita hanya melihat mereka sekilas saja tanpa berusaha
memahami bahwa kehidupan kita sangatlah jauh lebih baik dibandingkan
mereka.
Pada hari jumat tanggal 15 september 2006, saya diajak untuk
mengikuti sebuah kegiatan yang dinamakan "Serangan Fajar". Saya cukup
terkesan dengan namanya serta penasaran akan kegiatan yang dilakukan,
sehingga saya menerima ajakan itu.
Kita mengadakan janji berkumpul
di apartemen Mediterania pada pukul 21.30. Kelompok yang berkumpul di
mediterania berjumlah 11 orang yang datang dari latar belakang berbeda
ras, suku, dan juga agama. Kelompok ini dipimpin oleh Budi. Ternyata hari
itu terdapat tiga peserta lainnya yang sama-sama baru pertama kali ikut
kegiatan ini seperti saya. Kamipun berbincang-bincang dan diberikan
sedikit briefing di café ss lobby c. Ternyata ada kelompok satunya lagi
yang dipimpin oleh dokter Asmoro dan kita akan bertemu di stasiun
Gambir.
Perjalanan pun dimulai dengan dua buah mobil menuju
stasiun gambir,disana kami bergabung dengan kelompok dokter Asmoro.
Di pelataran parkir terdapat sekelompok gelandangan sekitar 30
orang, sungguh sedih melihat mereka tidur beralaskan kardus atau plastik
dan beratapkan langit. Sebagian dari kami ada yang membagikan snack
dan susu untuk anak-anak serta mengajak bicara mereka, sebagian ada
yang berbincang-bincang dengan yang dewasa dan tua, dan sebagin
sisanya membantu pengobatan dengan dokter Asmoro. Di sini saya
hanya memperhatikan dan sedikit bertanya pada seorang ibu karena
masih canggung. Akhirnya saya diminta membantu mengukur tekanan darah
para gelandangan yang akan diperiksa oleh dokter. Mereka memiliki
berbagai macam penyakit, dari seorang bayi yang sedang demam tinggi
sampai bapak-bapak yang diduga mengidap Lepra. Dokter pun memeriksa
mereka satu persatu dengan penuh perhatian dan memberikan nasehat serta
obat seadanya.
Dari satasiun Gambir kami menuju tempat kedua yaitu
stasiun Juanda. Di sini terdapat sekitar 60 gelandangan. Pada saat kami
datang sekitar pukul 23.00 mereka sudah tertidur. Mungkin karena telah
lelah mencari sekeping uang untuk makan sejak pagi. Kamipun membangunkan
mereka satu persatu, membagikan snack dan bertanya "apakah anda
sehat-sehat saja?". Yang sakit akan diperiksa oleh dokter. Di sinilah
saya mengerti mengapa dinamakan "Serangan Fajar". Saya pun
berkeliling untuk melihat dengan lebih jelas lingkungan tidur mereka
sungguh sangat menyentuh hati saya ada yang sendiri, ada yang
keluarga kumpul di satu tempat, ada yang beramai-ramai dari bayi, anak
kecil hingga orang yang sudah sangat tua.
Saya pun menggunakan
kesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa dari mereka. Ada
seorang yang sehari-harinya menjadi pemulung sampah. Ia mengatakan bahwa
bukanlah kemauan dia untuk hidup seperti itu. Ia sudah putus asa mencari
kerja. Ia sudah mencoba berkali-kali mencari kesempatan kerja,tetapi tidak
satupun yang ia dapatkan. Ia mengatakan dengan kondisinya yang kurang
pendidikan serta tanpa kemampuan apa-apa membuatnya menjadi seperti saat
ini. Hal ini mengartikan bukan berarti ia tidak mau menjadi lebih baik,
hanya kondisi yang keras terhadapnya.
Ada juga seorang anak kecil
berumur kira-kira sepuluh tahun yang kabur dari orangtua-nya. Ia tidak
dapat menerima ibunya yang suka memarahinya, sehingga ia terdampar sebagai
pengamen dan pengemis di kereta atau bis kota. Saya melihat keputusasaan
dalam hidupnya yang masih muda itu. Andai ia mendapat pendidikan, andai ia
mendapat kondisi yang lebih baik.
Di tempat berikutnya yaitu
stasiun mangga besar, sebagian dari kami mencoba menggerebek anak-anak yang
suka NGELEM (menghirup lem sebagai narkotik), cukup sulit menemukan mereka.
Dengan sedikit usaha dan informasi kami menemukan dua anak. Mereka kemudian
diberikan susu serta beberapa nasehat dari dokter. Sungguh masa kecil yang
suram, dengan lem ditangan dan hidup yang tidak menentu di jalanan,
apa jadinya mereka dewasa nanti?
Berikutnya kami menuju ke daerah
terakhir yaitu kota atau glodok, karena waktu itu telah menunjukkan pukul
02.00 pagi para gelandangan telah tertidur pulas, jadi mereka hanya
dibangunkan untuk ditanya apakah sehat-sehat saja? Jika sakit akan
diperikasa oleh dokter, saya mendapatkan seorang diantara mereka yang
menceritakan sebagian kisah perjalanannya dalam mencari pekerjaan yang
sangat sulit ia dapatkan sehingga akhirnya menjadi pemulung. Bahkan ia pun
meminta kepada saya pekerjaan, ini menunjukkan mereka memiliki keinginan
untuk mendapatkan pekerjaan untuk memperbaiki kondisi hidupnya, sungguh
memilukan saya belum dapat membantu mereka, bagaimana dengan
anda?
Ini hanya beberapa contoh kecil dari sekian banyak gelandangan
yang setiap harinya semakin bertambah. Sungguh memilukan nasib mereka.
Akan tetapi siapa yang akan menolong mereka, Bersama-sama saling
berbagi untuk membawa mereka ke hidup yang lebih baik, siapakah pahlawan
yang akan menolong mereka, mungkinkah saya, MUNGKINKAH ANDA
???
Setelah lelah kami berkeliling dan bersentuhan dengan kehidupan
para gelandangan, dengan tubuh yang sudah lelah, ngantuk dan lapar,
kami menuju daerah kota untuk menikmati "bubur hostes". Nama yang
unik untuk sebuah makanan. Tetapi sanagatlah lezat dan membantu
sedikit menyegarkan tubuh kami masing-masing. Kemudian kami pun pulang
dan menikmati tidur yang nyenyak, tidur yang bahagia karena hari itu
kami telah melakukan aksi kepedulian walaupun hanya sedikit. Mungkin
suatu hari, entah kapan anda juga dapat, bahkan jika bisa suatu hal
yang lebih berarti untuk perubahan hidup para gelandangan. BERSEDIAKAH
ANDA???
Salam penuh kasih,
Dayapala
__________ NOD32 1.1361 (20060111)
Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus
system. http://www.eset.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
__,_._,___
|