| |
| Redaksi YTH |
Kita yang Tentukan Ekonomi
Kesan yang disampaikan Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada Pertemuan IMF dan Bank Dunia sangat tegas. Lembaga keuangan dunia itu jangan terus mendikte.
Pernyataan yang sangat terang benderang itu sangat dinantikan banyak pihak, terutama negara-negara berkembang. Sejauh ini tidak ada pejabat resmi yang mau berterus terang seperti itu. Bahasa
yang dipakai terlalu bersayap sehingga tidak cukup dimengerti apalagi oleh lembaga seperti IMF dan Bank Dunia yang tidak mau peduli terhadap berbagai kritikan yang disampaikan.
Peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz, yang pernah bekerja pada lembaga itu, sudah menuliskan dalam banyak bukunya tentang kekeliruan yang dilakukan IMF. Betapa peran yang seharusnya dijalankan untuk menjaga kestabilan ekonomi dunia ditumpangi oleh berbagai kepentingan. Yang paling menonjol dan terus didengungkan adalah soal demokratisasi.
Kita tidak menentang atau tidak mendukung demokrasi. Hanya saja harus diingat bahwa demokrasi bukanlah sebuah sistem yang sempurna. Ia hanyalah yang terburuk kedua, second worst, dari sistem lain yang ada. Karena bukan sistem yang sempurna, janganlah hal itu dilakukan secara cepat dan seketika.
Pengalaman di banyak negara menunjukkan, karena kepentingan politik lebih besar daripada penataan ekonominya, kondisi ekonomi dari negara yang dibantu justru semakin buruk setelah didatangi orang-orang IMF. Itulah yang juga dirasakan oleh kita sekarang ini, yakni ekonomi tidak pernah bisa pulih, malah angka kemiskinan dan pengangguran meningkat.
Penjelasan Menkeu semakin menegaskan bahwa pada akhirnya kita sendirilah yang harus menata ekonomi. Karena itu, janganlah kita hanya manggut-manggut ketika tim ekonomi dari luar negeri itu datang ke sini. Selain kualifikasinya yang tidak lebih hebat daripada ahli ekonomi kita, bagaimana dalam waktu satu-dua minggu mereka memahami akar persoalan ekonomi kita.
Sekarang ini saatnya bagi kita untuk menentukan sendiri arah pembangunan perekonomian kita.
Bukan berarti kita menutup diri dan tidak mau mendengar masukan dari orang lain, apalagi dikatakan xenophobia, tetapi kitalah yang harus mengambil keputusan terhadap nasib diri kita. Orang asing boleh memberikan pandangan, tetapi keputusan akhir harus ada pada kita.
Tentang arah pembangunan ekonomi negara ini, banyak ahli sebenarnya sudah menetapkannya. Terakhir, misalnya, rumusan itu dibuat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia setelah mereka berkongres di Manado. Persoalannya, kita sering kali lebih kagum kepada orang-orang asing daripada bangsa sendiri. Akibatnya, rumusan sebaik apa pun akhirnya hanya disimpan di dalam laci.
Sekarang beranikah kita tidak hanya berbicara, tetapi menetapkan arah pembangunan ekonomi itu berdasarkan apa yang memang hendak kita kerjakan. Tugas Menkeu Sri Mulyani untuk menyampaikan ke dalam, menyampaikan kepada
kabinet bahwa cukuplah sudah kita mendengar konsep-konsep dari luar. Sekarang saatnya bagi kita untuk menentukan nasib kita sendiri dalam membenahi berbagai persoalan ekonomi.
J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Study & Research
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva
Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
