Ronny:

Seorang umat Buddha yang wajib kita tauladani dan kita hormati bersama,
karena kepeduliannya terhadap bangsa dan Negara indonesia



Jawa Pos,Kamis, 05 Okt 2006,
Lima Tahun Setelah Stroke, Dr Ong Hok Ham Tetap Aktif Menulis
Kalau Ada Ilham, Langsung Diketik Tangan Satu
Lima tahun berjuang melawan stroke sehingga harus duduk di kursi roda tidak
membuat Ong Hok Ham, sejarawan terkemuka Indonesia, patah semangat. Dia
masih aktif menulis dan menjadi jujukan para peneliti dan sejarawan muda. 

RIDLWAN HABIB, Jakarta

Bertamu ke rumah Pak Ong, panggilan akrab Ong Hok Ham, seperti mengunjungi
sebuah padepokan. Rumah berbentuk joglo di kawasan Cipinang Muara, Jakarta
Timur, itu sangat artistik. Dinding di sekeliling dibiarkan seperti tembok
yang belum diplester. Demikian pula ruang tamu menyatu dengan halaman. Di
sebelah ada kolam dengan empat ekor ikan mas dan dua koi berenang ke sana
kemari.

Ada pohon kamboja yang mulai berbunga dan pohon kelapa yang membuat suasana
teduh. Sepasang patung dewa-dewi dipajang di samping kolam. Empat keramik
tanah liat yang menampilkan gambar kepala kuda tergantung di dinding.

Begitu masuk halaman, tamu pasti disambut dengan gonggong anjing-anjing Pak
Ong. "Diam sebentar Mas, biar dikenali dulu," ujar Hendri, laki-laki 20
tahun, yang sehari-hari merawat Pak Ong yang ikut menyambut kedatangan Jawa
Pos.

Benar saja, setelah menjilat-jilat kaki, tiga anjing jenis poodle itu lalu
diam. Seekor lagi, namanya Yuki, jenis basset hound yang telinganya panjang
sehingga hampir jatuh ke tanah, tampak dirantai di sudut halaman.

Menunggu sebentar, Pak Ong muncul didorong dengan kursi roda oleh Hendri.
Dia mengenakan kaus hijau dipadu sarung kotak-kotak warna merah. Pria
kelahiran Surabaya 73 tahun lalu itu memang penggemar sarung. Secara
berkelakar, dia senang sarung karena gampang dipakai dan selalu pas karena
mudah disetel. Tubuhnya terlihat kurus, tapi wajahnya segar bersemangat.

"Anda dari Surabaya, ya," sapanya. Rupanya Pak Ong sudah diberi tahu kalau
akan diwawancarai Jawa Pos.

Suaranya parau, tapi masih jelas dan mudah dipahami. Doktor sejarah lulusan
Yale University, Amerika, itu sesekali menyeka liur yang terus menetes
dengan handuk merah kecil yang dibawanya. Ong terserang stroke saat
berkunjung ke rumah sahabatnya, pembatik Ardianto, di Jogja, pertengahan
2001.

"Saya masih menulis, baca buku, baca koran, dan melayani wawancara," katanya
saat ditanya tentang aktivitasnya sekarang. Dosen ilmu sejarah Universitas
Indonesia yang pensiun pada 1989 itu seperti tak ingin dianggap sebagai
orang yang sedang sakit. "Mau saya antar keliling rumah?" ujarnya.

Saat memandu melihat sekeliling rumah, Ong menyampaikan alasan membiarkan
rumahnya terbuka. "Angin masuk lebih segar. Bukan AC sehingga lebih sehat,"
jelasnya. 

Siapa saja bebas berkunjung ke rumahnya. Setiap hari ada saja bekas
mahasiswa mulai angkatan 1978 hingga 1990 yang menjenguk.

Rumah Ong memang dibiarkan tanpa sekat. Ruang tengah digunakan untuk menulis
dan menyimpan puluhan piagam penghargaan, vandel, dan buku. Sebuah komputer
di atas meja. "Kalau ada ilham, saya ketik dengan tangan satu, atau dibantu
Hendri," ujar Pak Ong yang bagian kiri badannya, termasuk tangan kiri, kini
lumpuh.

Ruang tidur Ong bersebelahan dengan kamar mandi yang juga dibiarkan tanpa
pintu. "Sejak Pak Ong sakit, lantai kamar mandi ditinggikan," ujar Hendri.
Keterbukaan memang selalu jadi prinsip Pak Ong. Ini selaras dengan ajaran
agama Buddha yang dianutnya.

Puas berkeliling, kami kembali berbincang di ruang tamu. Penulis buku
Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa itu lantas mengkritik Undang-Undang
Kewarganegaraan yang baru saja disahkan. "Itu bukan sebuah terobosan baru,
seharusnya sejak dulu. Prinsipnya ius soli, berdasar tempat lahir. Bukan
darah, bukan keturunan," katanya.

Pak Ong tampaknya paham benar soal diskriminasi. Panjang jalan sudah dilalui
anak pertama Ny Tan Siang Tjia itu sebelum akhirnya tumbuh menjadi sejarawan
dengan spesialisasi sejarah Jawa sekitar abad ke-19.

Menyelesaikan pendidikan di HBS Surabaya, Ong melanjutkan ke SMA di Bandung.
Singgah sebentar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Ong muda
pindah ke Fakultas Sastra, masuk Jurusan Sejarah dan selesai pada 1968.
Gelar doktor diraihnya pada 1975 dengan disertasi berjudul The Residency of
Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century.

Pak Ong juga berbicara soal Pancasila dan Gerakan 30 September. Menurut dia,
peristiwa itu bisa saja terulang kembali. "Orang tiba-tiba mengaku dirinya
ratu adil, menggoyang pimpinan besar revolusi, itu karena merasa tersisih,
tidak ada harmoni lagi," ujarnya parau. 

Bagi Ong, keterlibatan PKI sebagai satu-satunya aktor sukar dibuktikan.
Justru, kata dia, kondisi sosial waktu itu yang terkotak-kotak dalam
golongan-golongan yang menjadi pemicu.

Pria yang memilih tetap membujang itu berpesan agar budaya menghargai
antargolongan disegarkan kembali. "SBY itu orangnya ganteng, jujur. Semuanya
OK. Tapi, kalau tidak ada harmoni, sukar dikatakan," katanya lalu
terbatuk-batuk.

Hendri datang membawa segelas air putih. "Bapak mau istirahat dulu?" tanya
Hendri. Ong menggeleng. Setelah minum, dia melanjutkan kritiknya.

"Orang muda lupa sejarah. Memang sejarah bukan bagian dari budaya orang
Indonesia. Itu sayang sekali," katanya terpatah-patah.

Sebenarnya tidak tega lama-lama berbincang dengan Pak Ong yang tubuhnya
selalu bergetar sebelum berbicara. Tapi, dia masih bersemangat untuk terus
bertutur.

"Berdialoglah dengan buku. Bacalah apa saja dan tanya buku itu anggap
seperti orang yang bicara," ujarnya. "Pengetahuan orang muda harus luas. Mau
jadi apa bangsa ini kalau orang muda sempit berpikir," lanjutnya.

Pak Ong juga bercerita soal penghargaan terhadap naskah sejarah. "Itu bukan
hanya lembar kuno yang tanpa makna. Itu resep, jangan disia-siakan," katanya
lalu terbatuk lagi.

Kali ini Hendri memaksa Pak Ong untuk beristirahat. Saat kursi rodanya
didorong menuju tempat tidur, pria berkacamata itu mengucapkan terima kasih.
"Kapan lagi berkunjung, jangan bosan-bosan kemari, ya," ujarnya.

Semangat Pak Ong diakui murid-muridnya. Salah satunya Andi Achdian. Kandidat
doktor di University of Nottingham itu mengaku salut dengan komitmen gurunya
dalam menjelaskan sejarah. "Kami berencana mendirikan Ong Hok Ham
Institute," katanya.

Kata Andi, Ong Hok Ham Institute itu diharapkan menjadi learning centre yang
terbuka bagi siapa saja. "Buku Bapak (Ong Hok Ham) kan banyak sekali, nanti
kita buat perpustakaan yang rapi di sana," ujarnya.

Andi dan kawan-kawan juga berencana mendokumentasikan karya-karya Ong dalam
bentuk jurnal elektronik. "Semacam virtual library agar lebih awet dan
dengan media internet bisa dibaca lebih banyak orang," jelasnya. Sebuah
majalah berkala bertemakan sejarah juga sedang dipersiapkan murid-murid Ong.


Andi juga punya kesan khusus terhadap metode pengajaran Ong Hok Ham. "Bapak
selalu memulai dengan bertanya apa amarahmu terhadap masalah ini," katanya.
Ong, kata Andi, juga kurang suka unggah-ungguh yang formal dan birokratis.
"Kami tidak pernah dianggap murid, tapi teman," tambahnya.

Menurut Andi, yang paling unik adalah keahlian Ong mengenal karakter orang.
"Bapak bisa mengenal watak orang dengan hanya melihat matanya. Tiba-tiba dia
sudah bilang orang ini pemberani atau pengecut, orang ini jujur atau tidak.
Ini bagi saya luar biasa," katanya.(*)








** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke