Dulu rumahku dekat dengan langgar (tpt ibadah umat muslim), ketika ada umat Buddha atau kristen yang pindah agama dan memilih islam sebagai agamanya, maka orang tersebut seperti selebritis. Ditanyai, dimintai pendapatnya : kenapa memilih islam, disuruh buat kesaksian, dielu elukan dan dijadikan sebagai contoh yang baik.
 
Hari ini, tepatnya saat ini saya melihat bahwa kehadiran Dewi dan Marcell yang mulai melirik Buddhism pun, maaf, digembar gemborkan banget. hebot gitu loh. bangga ya.
 
Di hati kecilku, jujur aku mengatakan bahwa pemandangan saat ini sama saja seperti pemandangan waktu aku melihat orang lain jadi mualaf. aku jadi bertanya tanya, Inikah umat Buddha? kok ternyata tidak beda ya dengan umat lain. Tidakkah kita memberi waktu untuk mereka mendalami lebih lanjut tentang Buddhism yang mungkin belum mereka pahami seluruhnya (konsep). Tidakkah kita berpikir untuk memberi ruang kepada mereka untuk bernafas. Tidakkah kita berpikir, apakah mereka sudah siap mental untuk dipublikasikan sedemikian rupa? Tidakkah kita berpikir bahwa semua ini adalah anicca, bagaimana jika bulan depan mereka mengatakan bahwa kami memilih menjadi katolik kembali karena ini panggilan jiwa.
 
Apakah kalian semua masih akan memujinya seperti kalian memuji mereka sewaktu mereka mengatakan mereka sedang mempelajari Buddhism.
 
Apakah kalian semua akan mengatakan ya kalian sudah ehipasiko dan ternyata katolik memang membuat kalian lebih tentram?
 
Tidak ada rasa cemburuku sedikitpun melihat mereka disambut begitu hangat oleh jutaan umat Buddha, hanya saja, aku ingin mengajak sdr/i semua untuk memahami bahwa semua adalah anicca.
 
Kalau memang ingin sharing, jika ada seminar, jika ada talk show, jika ada dhammadesana dari Bhante, ajaklah mereka (Dewi-Marcell), informasikan kepada mereka agar mereka tahu kegiatan Buddhism terutama yang berkualitas.
 
Mungkin di milis ini, aku satu satunya orang yang punya pemikiran yang bertolak belakang. so, sorry jika pendapatku membuat kalian kecewa.
 
 
 


purchase <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kamis, 23 Feb 2006,
Biasa Hidup dalam Perbedaan

Di balik sosoknya sebagai seorang penyanyi yang identik dengan keglamoran,
Marcell memendam banyak pertanyaan soal hidup dan kehidupan. Hal inilah yang
mendorongnya untuk mendalami ajaran agama Buddha. Meski menganggapnya sebagai
sesuatu yang paling pribadi, Marcell mau berbagi cerita tentang proses
pencarian itu. Berikut petikan wawancaranya:

Apa benar Marcell pindah agama?
Sebenarnya, itu masalah persepsi. Saya bilang bahwa saya dan Dewi
sedang mendalami agama Buddha secara serius. Mendalami itu sendiri
dalam artian yang luas. Kalau pindah agama, kan dalam konteks,
misalnya menjadi mualaf berarti saya sudah mengucapkan kalimat
syahadat. Kalau di agama Buddha, saya harus melakukan sebuah upacara
yang dinamakan upaseka serta sudah fasih membaca parita. Saya baru
mendalaminya saja.

Sejauh apa pendalaman yang sudah dilakukan?
Saya belajar juga bukan asal. Di Bandung, saya belajar Buddhisme
aliran yang paling tua, yaitu Terawadha. Saya banyak bertanya kepada
yang memang ahli dan tahu benar tentang hal itu, seperti kepada para
bikkhu.

Apa yang mendasari Marcell mendalami ajaran agama Buddha?
Sebenarnya, saya sejak kecil sudah sering memikirkan banyak hal. Termasuk,
pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup dan agama. Ketika saya dewasa,
pertanyaan itu semakin mendalam.

Bagaimana dengan keluarga?
Saya adalah Katolik yang taat. Namun, dalam keluarga saya, banyak yang
menjadi mualaf. Ayah saya seorang mualaf. Banyak saudara saya juga
yang beragama lain. Jadi sejak kecil, saya sudah terbiasa
mengapresiasi banyak agama. Dan, itu bukan menjadi masalah, saya bisa
menerima perbedaan-perbedaan tersebut.

Sejauh mana peranan Dewi pada pendalaman agama itu?
Dewi banyak membantu. Kebetulan, dia sudah sering mempertanyakan
banyak hal sama seperti saya. Saya bersyukur dapat bertemu dan menikah
dengan Dewi. Kami bayak melakukan diskusi tentang masalah tersebut.

Sejauh apa manfaat selama Marcell mendalami agama itu?
Saya merasa jauh lebih nyaman dan tenang. Mungkin seperti Anda bilang, saya
sekarang lebih sabar dan welcome, tidak seperti dulu. Itu juga salah satu
pengaruhnya. Saya lebih bisa mengerti orang lain dan lebih sabar. (nik)




Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke