Lepas dari benar atau salahnya tindakan, kata-kata atau perilaku kita dalam keseharian,
pasti kita akan selalu berusaha untuk membela diri, atau paling tidak mencoba membenarkan atau mencari pembenaran dari tindakan kita tersebut. Lalu, tentu saja akan terjadi gesekan dan pertentangan dengan orang-orang di sekitar kita yang belum tentu menganggap apa yang kita lakukan atau katakan itu benar. Dan itu sangat sering terjadi dalam hidup kita sehari-hari.
Kemenangan-kemenangan ini, kalau memang ybs itu mengemukakan sesuatu yang benar, dengan niat yang benar atau singkatnya didasari oleh kebenaran sejati dan dengan niat yang tulus bukan untuk sekedar menang atau keunggulan pribadi, tapi lebih pada upaya untuk mengarahkan orang lain pada kebenaran sejati, tentu merupakan suatu kebaikan sejati pula. Namun, kalau yang sebaliknya lah yang ada atau ybs itu sudah tidak lagi melihat dalam koridor kebenaran sejati, namun lebih pada kepentingan pribadinya, nama baiknya atau kehormatan alias gensinya tanpa perduli kebenaran sejati itu dan apa yang perlu disampaikan demi kebaikan orang banyak, tentu saja menjadi lain masalahnya.
Tanpa disadari oleh ybs, sebetulnya dia sedang membangun kemenangan-kemenangan semu yang sesungguhnya merusak kebersihan dirinya dengan cara merusak struktur berpikirnya dalam arti baginya yang paling benar dan paling penting itu adalah kemenangan dan harga diri, kehormatan dan gengsi bagi dirinya dan atau kelompoknya, cara apapun boleh, segala cara halal. Nah, ini menunjukkan bahwa ybs itu telah menaruh diri pada tataran naluriah hewani, menggunakan pendekatan membela diri, mempertahankan diri yang dalam hal ini adalah harga dirinya, hartanya, kehormatannya yang mesti tidak boleh terusik dan kalah sedikit pun
. Dan tentu akan sangat susah bagi kita untuk mencoba mengajaknya berdialog, yaa, karena itu tadi pola pikirnya sedikit demi sedikit mengarah pada pola pikir naluriah defensi, dan maaf jadi manusia yang berpola
pikir hewan, bertindak dengan naluri. Dan mereka-mereka inilah yang sering menjadi awal suatu pertentangan besar, sebuah peperangan yang mengerikan, yang memerahkan sungai dan laut dengan darah manusia. Sayangnya manusia-manusia semacam itu banyak sekali berkeliaran di bumi ini, semoga di forum ini tidak ada orang seperti itu.
Kalau lah anda menemukan orang-orang semacam itu di komunitas spiritual, sesungguhnya itu merupakan suatu keberkahan, kenapa?
Ya, diharapkan agar pola pikir yang bersangkutan itu bisa bergeser dari naluriah defensif menjadi
manusia yang sesungguhnya manusia. Kok!??
Ya, kita musti melihatnya dengan lebih jeli. Orang-orang yang memiliki naluri kuat semacam itu biasanya justru memiliki intelektual atau fisik yang kuat, ya, kalau fisiknya kuat, ybs itu bisalah dikatakan seperti Huang Fei Hung nya di daratan tiongkok sana atau di tanah Banten ini, sekuat si Pitung, lah. Bagi yang kuat secara intelektual, bisa saja mereka malah berpendidikan sangat tinggi, walaupun tentunya tidak lah pasti para doktor dan professor itu banyak yang termasuk di dalam kategori manusia naluriah ini, tidak, kenapa?
Seorang doktor, seorang professor itu umumnya memiliki pandangan yang menyeluruh, mendalam dan mendasar atas bidang ilmu yang ditekuninya dan untuk bisa memperoleh atau berada pada tataran pikiran seperti itu diperlukan proses yang mengarahkan mereka untuk selalu mencari dan merenungkan kebenaran yang menyeluruh dan lengkap atas apa yang mereka tekuni. Tentu bagi mereka, kebenaran sejati itu adalah sesuatu yang mutlak untuk ditemukan dan dipahami, tentunya atas bidang ilmu yang ditekuninya. Jadi, bagi mereka, kemenangan atau keberhasilan itu bukanlah dalam bentuk trophy atau piala atau gelar, namun, pemahaman sesungguhnya atas kehidupan dan bidang-bidang kehidupan yang mereka tekuni.
Kalau anda menemukan ada orang yang bergelar
doktor, professor namun mereka masih menunjukkan kondisi dan struktur berpikir hewani ini, bisa jadi mereka itu belum sepenuhnya memahami dan menemukan kebenaran sejati dari apa yang ditekuninya, karena memang dalam perjalanan menuju kepada pemahaman sejati itu biasanya para doktor dan professor yang sejati itu pun mengalami debat dan diskusi yang sedikit banyak menyentuh areal defensif dan adu debat ilmiah, namun tentu saja mereka itu mencoba melihat permasalahannya dengan lebih menyeluruh, bukan sepotong-sepotong, apa lagi sekedar untuk mencapai kemenangan-kemenangan semu.
Nah, lalu apa yang mesti kita lalukan kalau ternyata diri kita juga seperti itu, anda dan saya juga seperti itu. Seorang suheng saya di
perguruan saya di Ploso Jombang sana mengatakan kepada saya, mungkin sudah saatnya kita kembali mencoba memurnikan niat kita dalam keseharian dan dalam berdiskusi dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga dengan demikian kita bisa mempertahankan derajat kemanusiaan kita, sebagai manusia seutuhnya
.. ya, memang itulah baiatan atau pelajaran awal di perguruan kami itu
hehehehehe, memurnikan derajat sebagai manusia.
Baiklah kita akhiri saja tulisan saya ini dengan sama-sama mencoba memperbaiki diri sendiri untuk bisa beranjak dari manusia yang hidup dengan naluri hewan menjadi manusia yang isi nya manusia, yang hidup dalam tujuan untuk memahami makna kehidupan secara menyeluruh
"We are not human being experiencing spiritual life, but we are spiritual being experiencing human life."
Untuk itu, anda mesti menemukan sendiri kespiritualan anda itu sesungguhnya seperti apa
. Apa anda bukan sekedar manusia saja
.
i
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
