Kompas - Sabtu, 07 Oktober 2006
Haji Bambang Berjumpa Tuhan
Gede Prama
Empat tahun yang lalu, persisnya 12 Oktober 2002, untuk pertama kalinya
bom meledak di Kuta, Bali, dengan korban ratusan nyawa. Sedih, berduka,
tersentuh, dan prihatin barangkali kata-kata yang tepat ketika itu.
Seperti dikomando oleh sebuah kekuatan yang tidak bisa dijelaskan,
berbagai pihak di dalam negeri dan luar negeri semuanya bergerak sebagai
tanda simpati dan empati. Uang, tenaga, obat-obatan, pemberitaan semuanya
mengalir deras sekali.
Namun, di atas semua itu, ada yang lebih menyentuh hati lagi. Masyarakat
Kuta yang tempat lahir sekaligus tempat hidupnya dihancurkan melalui
ledakan bom, dinodai darah manusia, digoyang masa depannya, digoda
kesabarannya, malah merespons secara menyentuh.
Soal cerita kemarahan dibalas kemarahan, darah dibayar darah, kebencian
diikuti kebencian, dan penghancuran tidak punya sahabat ikutan lain selain
penghancuran sudah terlalu sering kita dengar, baca, dan tonton. Namun,
penghancuran diikuti persahabatan, bencana darah manusia direspons dengan
ketenangan, kecurigaan terhadap pihak lain diganti empati-empati saling
berbagi, dan di atas semua itu, tidak ada satu pun tempat ibadah yang
terkena lemparan batu, apalagi dihancurkan. Bukankah ini sebuah peristiwa
kemanusiaan yang langka?
Lebih langka lagi, tatkala petaka darah manusia terjadi di tempat yang
bukan mayoritas beragama Islam, dan yang dicurigai ketika itu adalah
jaringan Al Qaeda, malah mengangkat nama Haji Bambang sebagai salah satu
pembawa suara hati. Ini tidak saja muncul dalam pemberitaan media massa,
tetapi juga penghargaan kemanusiaan yang mengalir deras buat Haji Bambang.
Bersama Nyoman Bagiana Karang serta masyarakat Kuta lainnya, mereka
langsung menyingsingkan lengan. Dari mengangkut korban mayat manusia yang
tercabik-cabik, menggendong yang berdarah-darah, menyelamatkan yang bisa
diselamatkan, sampai dengan bersama-sama meredam emosi massa
masing-masing. Hasilnya, setelah empat tahun kejadian ini berlalu, bahkan
lewat pengadilan telah ditetapkan terhukum serta hukumannya, wajah Kuta
tidak berubah: kebencian tidak harus diikuti kebencian, penghancuran tidak
mesti disertai dendam, darah manusia tidak harus dibayar dengan darah
manusia susulan, dan Haji Bambang masih menjadi salah satu warga Kuta yang
dihormati.
Bagi siapa saja yang punya kepekaan, mencatat kejadian ini di dalam
hatinya, mungkin akan membuka pintu-pintu renungan. Kebanyakan manusia
hormat dan cinta sekali dengan Tuhan yang ditemukan di masjid, gereja,
vihara, konco, dan pura. Sahabat Islam lima kali sehari shalat di masjid.
Sahabat Nasrani menyimpan tidak terhitung jumlah lagu-lagu pujian buat
Tuhan, sahabat Buddha bahkan bernamaskara kepada setiap patung Buddha.
Orang Hindu memiliki ratusan bahkan ribuan ritual untuk memuja Tuhan di
pura.
Pertanyaannya kemudian, apabila penghormatan terhadap Tuhan di tempat
ibadah demikian khusyuknya, adakah sahabat yang juga melakukan
penghormatan khusyuk kepada Tuhan yang ada pada suami/istri, orang tua,
putra/putri, tetangga, atasan/bawahan, pemerintah, manusia lain, binatang,
tetumbuhan serta wajah- wajah Tuhan lainnya?
Banyak agama sepakat, Tuhan ada di mana-mana. Dalam bahasa Buddha, semua
memiliki sifat-sifat ke-Buddha-an. Kita semua boleh berbangga dengan
banyaknya sumbangan untuk membangun tempat ibadah, frekuensi sembahyang
yang tinggi di tempat ibadah. Namun, menyisakan pertanyaan, apakah
penghormatan manusia terhadap Tuhan di luar tempat ibadah sama khusyuknya?
Meminjam pendapat Dalai Lama, Tuhan adalah cinta kasih yang tidak
terbatas. Kalau ini pengertiannya, Haji Bambang, Nyoman Bagiana Karang,
dkk telah berjumpa Tuhan (baca: cinta kasih tidak terbatas), sekaligus
menjadi bukti bahwa dengan cinta kasihlah kebencian, kemarahan, dendam,
ceceran darah manusia akibat perang dan perkelahian bisa dihentikan sampai
ke akar-akarnya yang paling dalam.
Sebagai bahan pembanding, serangan teroris terhadap gedung kembar World
Trade Center, New York, 11 September 2001, telah diikuti oleh penyerangan
terhadap Afganistan dan Irak. Berapa peluru telah ditembakkan, berapa bom
telah diluncurkan, berapa pesawat tempur sudah dikerahkan, berapa kapal
perang serta tank sudah berada di belakang dendam dan pembalasan.
Sebagaimana sudah dicatat sejarah, belum ada tanda-tanda teroris sudah
kapok, belum ada tanda-tanda bahwa AS bersama sekutu-sekutunya puas dengan
dendam dan serangan. Yang paling penting, ketakutan umat manusia di dunia
terhadap serangan baru teroris tidak menurun.
Kuta memang hanya sebuah desa. Kuta juga bukan negara adikuasa. Kuta kerap
dituduh menggadaikan budaya untuk pariwisata. Namun, kejadian 12 Oktober
2002, ditambah juga bom Bali kedua yang terjadi di desa yang sama, telah
menjadi monumen kehidupan bahwa Kuta sudah memberikan pembanding tentang
bagaimana persoalan- persoalan kemanusiaan sebaiknya diselesaikan.
Lebih dari selesai, ia juga membuat Haji Bambang, Nyoman Bagiana Karang,
dkk berjumpa Tuhan. Ini sebabnya ketika ada wacana apa sebaiknya nama
monumen bom Bali, seorang sahabat memberi saran: monumen kemenangan Dharma
(hukum alam). Seperti memegang air, basah; memegang api, terbakar. Siapa
yang mengisi hidupnya dengan cinta kasih, kebahagiaan adalah hasil
ikutannya. Apabila kehidupan diisi oleh kemarahan, penderitaanlah buahnya.
Haji Bambang tidak saja selamat dari bom Kuta, bahkan dihadiahi sejumlah
penghargaan internasional. Nyoman Bagiana Karang tidak saja dianggap
sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kuta yang berhasil, sekarang
malah sudah jadi anggota DPRD Badung. Adapun para teroris, yang tertangkap
serta telah diputuskan hukumannya oleh pengadilan, kita sudah tahu sendiri
nasibnya di Nusa Kambangan. Pemerintah AS dan sekutu-sekutunya juga sudah
kita ketahui kerepotannya.
Dari seluruh cerita ini, bom Bali memang sudah memakan ongkos mahal.
Bukankah sayang sekali kalau kejadian yang memakan ongkos demikian mahal
kemudian menghilang terbang bersama waktu? Adakah sahabat-sahabat yang
terketuk hatinya kemudian membaca kalau model penyelesaian Kuta juga model
penyelesaian kita?
Gede Prama Penulis 22 buku, Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun,
Bali Utara
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/