Opini   
Selasa, 17 Oktober 2006

Indonesia Kian Bersaing, Rakyat Tetap Miskin

HS Dillon

Baru-baru ini ada berita gembira. Menurut Forum
Ekonomi Dunia, dalam satu tahun peringkat Indonesia
naik 19 peringkat.

Counter-intuitive, agak sulit diterima akal sehat,
karena sulit dibayangkan, daya saing negara bisa
mengalami perubahan besar dalam waktu singkat, kecuali
jika terjadi pergantian rezim.

Apalagi, China dicatat kian mundur dan India hanya
naik dua peringkat dalam waktu yang sama sehingga kini
kita dinilai lebih mampu bersaing daripada China,
Rusia, dan Brasil.

Dari dulu, indikator daya saing yang paling sering
dipakai adalah pangsa pasar, baik ekspor maupun
domestik. Mungkin dalam zaman globalisasi-liberalisasi
ini, laju PMA turut menjadi petunjuk. Produk China
membanjiri pasar domestik Indonesia, PMA
berbondong-bondong ke sana. Bagaimana kita bisa
dikatakan lebih mampu bersaing?

Forum Ekonomi Dunia (WEF) baru memutakhirkan
metodologinya tahun ini sehingga kini kelembagaan,
infrastruktur, ekonomi makro, kesehatan, pendidikan
dasar, pendidikan tinggi, dan pelatihan, efisiensi
pasar, kesiapan teknologi, kecanggihan berbisnis,
serta inovasi merupakan sembilan pilarnya.

Agak aneh peningkatan yang dilaporkan karena WEF
sendiri mengatakan, kualitas kelembagaan merupakan
salah satu kelemahan utama kita. Kualitas
infrastruktur, laju inflasi, pelayanan kesehatan,
serta jangkauan rakyat terhadap pendidikan disebut
sebagai faktor penghambat. Belum lagi KKN yang meluas.
Tetapi, tidak pada tempatnya di sini menggugat
metodologi WEF; mereka dapat membela diri dengan dalih
faktor-faktor yang mendorong produktivitas satu negara
berbeda dari faktor-faktor yang menentukan
produktivitas negara yang sudah lebih maju.

Bukan paradoks

Yang lebih penting adalah menyandingkan kabar gembira
ini dengan kabar duka, bahwa kemiskinan justru
meningkat selama dalam waktu yang sama. Apakah ini
bukan paradoks: negara maju, tetapi rakyat kian
menderita? Ternyata tidak, hal seperti ini juga
terungkap di China dan India, yang sedang berupaya
keras meraih manfaat globalisasi bagi rakyatnya.

Apa penyebabnya? Jika indeks yang menentukan kehebatan
kita diperhatikan, peringkat tinggi terlihat dalam
indikator yang terkait dunia usaha, sedangkan
indikator pelayanan masyarakat umumnya menempati
peringkat rendah. Dengan kata lain, prioritas
pemerintah diberikan kepada pengusaha, tak soal apakah
rakyat kian terpinggirkan.

Jadi, bukan paradoks karena ternyata komposisi
kemampuan bersaing kita justru mampu menerangkan
mengapa kemiskinan bertambah. Data terakhir ini
menambah keyakinan kita, pemilik modal—atau yang
mendapat kucuruan kredit pemerintah—yang akan paling
beruntung akibat globalisasi/liberalisasi;
syukur-syukur buruh dan karyawan tidak kehilangan
pekerjaan.

Pemerintah koalisi India menyadari hal ini sehingga
bulan lalu menjadikan pedesaan sebagai prioritas
pembangunan ke depan, setelah puluhan tahun
ditinggalkan. Infrastruktur, pertanian, kemiskinan,
dan keamanan diutamakan, semua dengan fokus pedesaan.
Sama halnya dengan India, China mengadakan investasi
publik besar-besaran di pedesaan setelah didadakkan
oleh kesenjangan yang kian menganga, sebaik mereka
merangkul globalisasi/liberalisasi.

Bagaimana dengan kita? Ketika Presiden Soeharto
menginstruksikan para ekonom senior untuk mengejar
swasembada beras at all costs, dalam satu dasawarsa
kita berbalik menjadi eksportir dari yang semula
importir terbesar di dunia. Malah, naiknya pendapatan
petani dan upah riel buruh tani meningkatkan
permintaan terhadap barang dan jasa di pedesaan.
Akibatnya, laju pertumbuhan perekonomian pedesaan
menciptakan kesempatan kerja dan berusaha yang amat
meluas. Belum pernah sejarah modern mencatat laju
penurunan kemiskinan di pedesaan demikian cepat.
Karena itu, Presiden Soeharto mendapat penghargaan
dari FAO.

Tak perlu mengemis

Hikmah apa yang perlu dipetik dari peringkat WEF dan
Nobel Perdamaian tahun ini?

Kita sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk
menanggulangi kemiskinan. Tidak perlu kita larut dalam
gegap gempita Millenium Development Goals, tidak perlu
mengemis kepada donor yang memaksakan kehendak. Kejar
pengutang kakap, sita harta keturunannya ala
Musharraf, rogoh kantong sendiri mengikuti tauladan
Muhammad Yunus.

Menurut estimasi, jika 10 persen orang terkaya
(termasuk koruptor) di Indonesia rela memberikan 20
persen penghasilannya setahun (bukan hartanya), tidak
ada lagi orang Indonesia yang dikategorikan miskin
pada tahun itu. Apalagi jika kita benar- benar mau
melaksanakan amanat Proklamasi dan menggantikan
paradigma globalisasi/liberalisasi yang ditiru dari
dunia Barat dengan paradigma Manusia Utama yang digali
dari bumi sendiri.

Jika semua kebijakan yang disusun, kelembagaan yang
dibangun, dan teknologi yang dirakit itu benar-benar
ditentukan oleh kebutuhan dan kemampuan rakyat,
niscaya dalam satu generasi kemiskinan dapat digusur
dari Tanah Air tercinta.

HS Dillon Pecinta Bangsa; Anggota MWA-Institut
Teknologi Bandung 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke