Opini   
Selasa, 17 Oktober 2006

Indonesia Pasien Tetap IMF?

A Prasetyantoko

Kita patut menyambut baik pelunasan seluruh utang
pemerintah kepada Dana Moneter Internasional. Babak
baru sedang dimasuki meski agenda baru telah menanti.

Indonesia melunasi seluruh utangnya kepada Dana
Moneter Internasional (IMF) setelah pembayaran tahap
kedua 3,2 miliar dollar AS, Kamis (5/10) (Kompas,
6/10/2006). Dengan demikian, berakhir pula post
program monitoring yang selama ini dicurigai sebagai
mekanisme intervensi IMF terhadap kebijakan ekonomi
Indonesia.

Apakah kepergian IMF akan membuat kebijakan ekonomi
kita independen? Sulit dijawab!

Memutus keterikatan "cara pandang" tentu lebih sulit
(dan rumit) ketimbang memutuskan hubungan politis,
apalagi jika dilakukan dengan basa-basi diplomatis.

Sektor finansial

Seperti sering diungkap, dengan pelunasan utang kepada
IMF, peringkat utang Indonesia meningkat. Hasilnya,
modal swasta akan mengalir ke pasar finansial
domestik. Seperti diharapkan, masuknya modal asing ke
pasar modal (BEJ) dan pasar utang (BES) akan memberi
"lubrikasi" ekonomi kita yang sedang macet.

Tampaknya pemerintah serius menurunkan rasio utang
terhadap PDB. Tahun 2000, rasio utang terhadap PDB 80
persen, 2004 menjadi 54,6 persen, tahun 2005 turun ke
46,8 persen, dan tahun 2006 dipatok 37,5 persen.
Bahkan, pemerintah berusaha menjadikan rasio utang
tidak melebihi 35 persen dari PDB.

Penurunan rasio utang menjadi bahan pertimbangan
penting bagi lembaga pemeringkat seperti Standard &
Poor’s (S&P) dalam menyusun peringkat, baik untuk
utang jangka panjang (berdenominasi lokal dan asing)
maupun utang jangka pendek. Diharapkan peringkat
investasi membaik karena biaya penerbitan surat utang
akan menurun. Demikian juga beban fiskal semakin
ringan.

Sejak krisis, ekonomi kita tampak bergantung pada
sektor finansial. Hal itu bisa dilihat dari tingginya
tingkat pertumbuhan saham dan obligasi. Dalam
penerbitan saham, statistik Bank Indonesia mencatat,
pada Januari 1997 baru mencapai Rp 51.175 miliar,
tetapi pada Juli 2006 mencapai Rp 280.356,3 miliar
(lebih dari lima kali lipat). Demikian pula dengan
penerbitan obligasi. Jika pada Januari 1997 baru
mencapai Rp 11.935,5 miliar, Juli 2006 berkembang
delapan kali lebih menjadi Rp 96.633 miliar.

Secara teoretis, perkembangan sektor finansial
mendorong pertumbuhan sektor riil. Sayang, hingga hari
ini, kita masih melihat buruknya kinerja sektor riil
sehingga janji untuk meningkatkan penyerapan tenaga
kerja dan pengurangan kemiskinan masih ilusi. Sektor
finansial memang berkembang, tetapi sektor riil masih
terpuruk. Jika dibiarkan, gejala ini bisa menjadi
sumber kerawanan (fragility) yang bisa mengantar kita
pada krisis ekonomi dalam mutasi yang lain lagi.

"Domestic original sin"

Para ahli ekonomi keuangan (financial economics)
mengingatkan, perkembangan pasar finansial domestik
yang tidak seimbang akan menimbulkan gejala domestic
original sin. Apa maksudnya?

Hausmann and Panizza (2003) membeberkan, rapuhnya
sistem finansial (financial vulnerability) bangsa
disebabkan ketidakmampuan mereka meminjam dalam mata
uang lokal. Karena sistem finansial kian bebas, kian
mudah pula sebuah bangsa terjerat "dosa asal" itu.

Menyangkut hebatnya krisis Asia, tesis ini cenderung
mendukung pendapat yang meyakini, penyebab utamanya
adalah perilaku panik para pemegang likuiditas (panic
view). Bukan sekadar alasan fundamental ekonomi
(fundamental view). Jika alasannya fundamental,
mengapa krisis di Thailand tidak sehebat dan selama
krisis di Indonesia? Apakah fundamental ekonomi
Thailand lebih baik dari Indonesia? Sistem finansial
global telah menyumbang peran amat besar terhadap
gonjang-ganjing krisis di negara berkembang. Jadi,
terlepas baik buruknya fundamental ekonomi domestik
sebuah bangsa, hubungan pasar finansial domestik
dengan sistem finansial global menjadi salah satu
faktor penentu kerawanan finansial bagi negara itu.

Kini, manakala krisis yang dipicu perilaku panik sudah
mereda, muncul gagasan mengenai dosa asal yang
berdimensi "domestik". Artinya, komposisi utang dalam
negeri sebuah bangsa bisa menimbulkan kerapuhan
finansial. Ketidakmampuan sebuah bangsa (sedang
berkembang) menerbitkan surat utang dalam negeri dalam
mata uang lokal, jangka panjang (long maturities), dan
pada suku bunga tetap (fixed interest rates) akan
menjadi sumber masalah serius.

Penerbitan surat utang dalam mata uang asing akan
menimbulkan ketimpangan mata uang (currency mismatch),
sementara beban pada utang jangka pendek akan
meningkatkan risiko ketimpangan pembayaran (maturity
mismatch). Dua risiko klasik ini rupanya tidak
serta-merta hilang meski emisi surat utang dilakukan
di pasar domestik.

Dari semua itu, ada dua inti cerita. Pertama, ekonomi
yang terlalu bertumpu pada sektor finansial, sementara
ekonomi riilnya mandek, apa pun alasannya akan
menimbulkan risiko serius.

Kedua, berakhirnya utang terhadap IMF bukan berarti
bahaya terhadap kerawanan finansial akan hilang. Jika
cara pandang para pengelola ekonomi negeri ini masih
seperti cara pandang (ideologi) lembaga multilateral
ini, bukan mustahil kita akan terjerembap dalam krisis
yang sama. Pasalnya, sistem finansial global tetap
menyimpan risiko bagi negara sedang berkembang.

Jika ini terjadi, bukan mustahil pula di masa depan
kita akan kembali menjadi pasien utama IMF. Jika
demikian, sementara banyak pihak mempersoalkan
eksistensi IMF, kita justru memperbesar legitimasinya
dengan tetap menjadi bangsa yang terbuka bagi
kerawanan yang muncul dari sistem finansial global
ini.

A Prasetyantoko Mahasiswa Doktoral di Ecole Normale
Supérieure (ENS)-Lsh, Lyon, Perancis 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke