Selasa, 16 Mei 2006 

Umat Buddha Kehilangan Buddhanya 

Gunung Api akan meluapkan baranya. Lima ratus tahun dari sekarang. Ajaran 
Buddha akan kembali. Kemudian sang hulubalang menghilang dari depan seterunya, 
setelah memilih untuk tetap mempertahankan apa yang diyakininya, dengan 
meninggalkan beberapa baris ramalan. Tahun 1478, kejayaan Kerajaan Majapahit 
berakhir. Kala itu turut runtuh pula pilar-pilar kejayaan Buddha Dharma di 
Nusantara. Lima ratus tahun berselang, pada tengah hari, tepat 12 siang bulan 
purnama Waisak, 22 mei 1953, di Candi Agung simbol pusaka ajaran Buddha 
bernapas kembali. Lebih dari tiga ribu pasang mata menjadi saksi. Itulah 
secuplik kisah Upacara Waisak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Candi 
Agung setelah sekian lama Buddha Dharma tertidur lelap di bumi Nusantara. 
Adalah jasa besar Bhiksu Ashin Jinarakkhita yang kala itu masih menjadi 
Anagarika yang bergagas ide dan menjadi penggerak utama kebangkitan Buddha 
Dharma. Mengingat Waisak, membuat kita melihat Borobudur, dan melihat Borobudur 
membuat kita mengingat Buddha Gotama yang selama empat puluh lima tahun 
menunjukkan pada umat manusia jalan untuk mencapai atau Nirwana. Jalan dan 
kesadaran akan Nirwana bisa diraih dengan memeras intisari kehidupan manusia 
yang unggul. 
Waisak adalah hari besar agama Buddha guna memperingati tiga peristiwa agung 
yang terjadi pada kehidupan Pangeran Siddharta: lahir, penerangan sempurna, dan 
meninggalnya beliau. Namun, sebagian besar dari kita melihat kisah itu sebagai 
sebuah perjalanan orang lain yang bernama Siddharta yang pada akhirnya menjadi 
Buddha. Melihat sebuah riwayat "orang lain" yang menjalani sekian episode 
kehidupan. Kita tidak pernah melihat "kisah Waisak" sebagai sebuah proses dari 
perjalanan seorang manusia yang berjuang menuju pencerahan yang menjadi 
inspirasi kita semua dalam menjalani hidup kita, sekarang atau kelak suatu 
waktu nanti. 
Menyelaminya, dan mengerti bahwa tubuh seorang Buddha adalah hasil yang 
diperoleh melalui proses panjang dari memeras intisari kehidupan manusia yang 
berharga. Meskipun kita telah memahami semua itu, ada pertanyaan yang 
mengganjal, yaitu di manakah Buddha sebenarnya? Jawaban pada umumnya adalah 
sudah meninggal atau telah diperabukan. Kita tidak menyadari bahwa kita telah 
kehilangan Buddha sejak kita dilahirkan. Bila orang Jawa bilang "orang Jawa 
hilang jawanya", kita menjadi "umat Buddha hilang Buddhanya". Kita telah 
kehilangan seseorang yang menunjukkan betapa besarnya arti sebuah nilai dari 
tubuh mulia manusia yang penuh arti. Akhirnya kita hanya menggunakannya untuk 
mengumpulkan ketidakbajikan dan menyia-nyiakan tanpa berbuat sesuatu yang 
berarti. Kita membuat sebab-sebab yang akhirnya mendatangkan kesedihan dalam 
kehidupan kita. Pohon tak berisi
Guru besar Bhawawiwveka berkata, "Tubuh yang kita miliki sekarang ini adalah 
sama seperti pohon pisang yang tak berisi. Ia kekurangan inti seperti gelembung 
di atas permukaan air. Tetapi, marilah kita gunakan tubuh ini untuk mencapai 
hal-hal yang besar, sebesar Gunung Meru, untuk kebaikan semua makhluk hidup". 
Walaupun kita memiliki sebuah tubuh, kita tidak dapat membawanya ke kehidupan 
yang akan datang. Tubuh ini dikatakan tidak mempunyai inti sejati. Dalam 
pengertian ini Bhawawiweka berkata, "Orang-orang bijak menggunakan tubuhnya 
(yang mana setiap saat merupakan sumber penyakit, penuaan, dan kematian) bukan 
sebagai sebuah wahana untuk mencapai kesejahteraannya sendiri. 
Mereka mentransformasikannya menjadi suatu sumber kebahagiaan bagi semua 
makhluk". Arya Nagarjuna berkata dalam hal yang sama, "Bayangkan seseorang 
mempunyai mangkuk emas yang dihiasi dengan permata berharga, tetapi ia tidak 
tahu nilai dari mangkuk itu. Malah ia menggunakan mangkuk itu untuk tempat 
kotoran. Setiap orang akan setuju bahwa orang itu benar-benar bodoh karena ia 
tidak menyadari bahwa ia memiliki sesuatu yang sangat berharga di tangannya. 
Walaupun setiap orang menganggap dia tidak waras, Nagarjuna berkata bahwa 
kebodohan dirinya tidak berarti bila dibandingkan dengan kebodohan seseorang 
yang menggunakan bentuk kehidupan manusia yang berharga untuk menghimpun besar 
perbuatan tidak bajik. Raden Ngabehi Ranggawarsita mengatakan, "Amenang jaman 
edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan milu anglakoni, boya 
kaduman melik, kaliren wekasnipun, ndilalah karas Gusti, begja- begjane kang 
lali, luwih begja kang eling lan waspada". (Hidup di zaman yang gila, sungguh 
hati betapa repotnya, ikut gila tidak tahan, namun jika tidak ikut-ikutan, 
tidak akan meraih kehidupan, dan akhirnya kelaparan. 
Atas kehendak dan anugerah Yang Kuasa, seberuntung-beruntungnya, yang lebih 
beruntung adalah orang yang sadar dan waspada.) Membohongi diri Pada umumnya 
sebagian besar orang melihat praktik spiritual adalah satu hal, sedangkan 
kehidupan duniawi adalah hal yang lain. Layaknya seperti minyak dan air yang 
memiliki batas yang jelas. Saat hari biasa adalah seorang manusia biasa yang 
membutuhkan duniawi. Sedangkan saat berada di tempat spritual adalah seorang 
baik, layaknya seorang dermawan agung yang penuh dengan kebajikan besar. 
Tindakan ini tidak lebih dari membohongi diri sendiri dan pada akhirnya kita 
semua kehilangan Buddha dan melihat Buddha sebagai orang lain, bernama 
Siddharta, yang tidak lagi berada dalam hati kita dan tidak dekat lagi dengan 
kita. 
Saat ini adalah momen yang paling tepat untuk merenungkan apakah kita masing 
masing memiliki Buddha di dalam hati kita. Andai semua orang di Nusantara ini 
memiliki Buddha masing-masing di dalam dirinya, negeri ini akan lebih tenteram, 
lebih makmur. Dengan sendirinya semua hal akan menjadi lebih baik, tidak ada 
lagi korupsi karena semua orang akan jujur dan tidak akan mengambil apa yang 
tidak diberikan. Orang tidak serakah melihat segalanya adalah rezeki yang tidak 
boleh ditolak. Pemerintah akan berpikir sebesar-besarnya untuk rakyat tercinta. 
Buruh tidak lagi perlu lagi berunjuk rasa karena hak dan kewajiban adalah 
hubungan timbal-balik yang saling bergantungan. Pengusaha menjadi kaya karena 
harus bergantung dari kebaikan hati para buruh dan buruh bisa mengepulkan asap 
dapur mereka karena ada rasa aman dari majikan yang berhati murah. Kita tidak 
perlu takut dan bertanggung jawab karena salah memilih wakil rakyat yang tidak 
mempunyai nurani dan tidak cakap. Kita juga tidak perlu dipusingkan dengan 
berbagai macam undang-undang yang membuat kita susah. Kita tidak lagi 
membedakan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki. Anak-anak mendapatkan 
pendidikan yang memadai dan tumbuh menjadi manusia yang berguna dan bijaksana. 
Pengangguran, kelaparan, wabah penyakit, konflik sosial dapat teratasi dan 
tidak ada lagi orang yang memperlakukan manusia bak barang dagangan seperti 
yang sering kita lihat, baca, atau dengar di media massa. Tentu kita masih 
ingat dalam sejarah, mengapa masa lalu Indonesia pernah makmur, tenteram, dan 
damai ketika Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kalingga masih berjaya. Karena itu, 
Waisak bukanlah peringatan yang semata menjadi milik umat Buddha. Namun, Waisak 
adalah peringatan bagi seluruh rakyat Indonesia, rakyat Indonesia yang masih 
memiliki hati dan jiwa untuk berjuang bagi sesama manusia dan seluruh makhluk. 
Selamat Hari Suci Waisak 2550/2006. 
BHIKSU BHADRA RUCI Anggota Sangha Agung Indonesia 

Sumber:
http://kompas.com/kompas-cetak/0605/16/Jabar/2107.htm




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke