Humaniora
Jumat, 20 Oktober 2006
Bencana Alam
Ketika Jawa Kekurangan dan Kelebihan Air
Restu Gunawan
Hampir setiap tahun, khususnya Pulau Jawa, selalu dihadapkan dengan kenyataan datangnya musim kering yang mengakibatkan kerugian yang sangat besar, terutama sektor pertanian. Sebaliknya, pada bulan Januari-Februari selalu dihadapkan pada banjir.
Peristiwa semacam itu kita hadapi setiap tahun, dan anehnya kita seperti tidak pernah memikirkan penanggulangan yang efektif. Kita cuma ribut mengeluarkan pendapat ketika banjir atau kekeringan melanda, dan ribut-ribut ini akan berakhir, lalu perhatian akan ikut hilang begitu saja, sampai kita terkejut lagi oleh banjir atau kekeringan musim berikutnya.
Fenomena alam yang sudah menjadi semacam rutinitas itu sesungguhnya sudah menjadi catatan sejarah.
Berdasarkan data curah hujan yang dibuat oleh Berlage di hutan-hutan jati di Jawa Timur—yang menyediakan data curah hujan selama empat abad antara 1514 hingga 1929—di Jawa telah terjadi musim kering beberapa kali. Musim kering pertama adalah masa 1605-1616.
Setiap tahun curah hujan sangat rendah. Titik puncak yang paling kering dalam periode 400 tahunan adalah tahun 1673-1676 sehingga Mataram menderita paceklik dan penyakit sepanjang tahun.
Selain itu, di daerah lain juga mengalami kekeringan yang luar biasa. Di Jambi, Sumbawa, dan Sulawesi Selatan gagal panen. Bahkan, Sungai Musi di Palembang pada tahun 1675 tidak bisa dilayari karena pendangkalan.
Kekeringan ini disebabkan berkurangnya suhu udara secara berangsur-angsur selama abad XVII yang disebabkan aktivitas maunder yang minim pada matahari.
Sebaliknya, menurut berita Pandji Pustaka edisi bulan Januari 1932, dikatakan di hampir seluruh wilayah Nusantara telah terjadi banjir hebat.
"Di Medan, Palembang, Betawi, Semarang, Surabaya, Bali, Borneo, air sungai dan selokan naik oleh karena hujan tak berhenti-henti. Di beberapa tempat bukan sedikit kerugian yang disebabkan oleh air bah itu, baik tentang ternak maupun tentang harta benda. Bahkan di Bali dan Sumba serta Sumatera Timur kabarnya, konon banjir itu mengorbankan beberapa jiwa manusia. Tentang jalan yang rusak atau tertutup tak usahlah kami katakan lagi, hal yang serupa itu sekarang ini boleh kita katakan umum di seluruh Hindia ini. Dibeberapa kota jalan besar bukan serupa jalan besar lagi, tetapi tak ada bedanya dengan sungai yang lebar."
Fernand Braudel mengembangkan tiga kerangka waktu perubahan yang bersusun tiga. Pertama, struktur, sejarah tentang pengulangan-pengulangan yang konstan, siklus yang selalu muncul kembali. Gejala-gejala yang rentang waktunya mencakup ribuan, bahkan jutaan tahun, seperti unit geografi, iklim, dan sebagainya yang disebutnya sebagai histoire structurale.
Kedua, konjungtur, gejala-gejala yang jangkauan waktunya mencakup ratusan tahun yang menyangkut sistem-sistem ekonomi, negara, masyarakat, dan peradaban dengan irama-irama yang lamban tetapi perseptibel yang disebutnya histoire conjuncturelle.
Ketiga, peristiwa yang bergerak dengan cepat menyangkut peristiwa-peristiwa dan individu-individu, subyek (fokus) sejarah naratif tradisional atau histoire evenementielle.
Jika mengacu pada pendapat Fernand Braudel tersebut, akibat perubahan iklim dalam siklus ribuan tahun bisa saja kemiskinan yang pernah terjadi di Jawa akan terulang kembali; akibat krisis air karena kekeringan atau kelebihan air.
Masalah ini sebenarnya sudah di depan mata, tetapi kita belum berbuat apa-apa untuk mengantisipasinya.
Membangun kanal Jawa
Melihat kondisi geografis Pulau Jawa yang merupakan daerah tropis, di mana fluktuasi antara musim hujan dan kering yang cukup tinggi, maka sebelum mengalami kerusakan yang cukup hebat kita dapat mengkaji kembali gagasan Blommenstein tentang penanganan tata air di Pulau Jawa.
Pada tahun 1949, Blommenstein pernah mengeluarkan gagasannya tentang tata air Pulau Jawa. Gagasannya sangat sederhana, yaitu alternatif pertama, adanya satu kanal yang membelah Pulau Jawa dari Waduk Jatiluhur ke timur sampai Tuban (Jawa Timur) di mana air dapat mengalir secara gravitasi.
Alternatif kedua, masih seperti gagasan pertama, tetapi kanal dibuat dari Waduk Jatiluhur sampai Sungai Garang di Semarang Barat. Karena air sebagian tidak bisa mengalir secara gravitasi, maka air dari ketinggian 15 meter dipompa sampai ketinggian 75 meter. Melalui suatu saluran buatan, air itu kemudian dialirkan ke Sungai Serang, Sungai Uter, dan Sungai Kedungdowo. Dicurahkan sampai Bengawan Solo, kemudian di selatan Kota Tuban (Glonggong) dibuat terusan lagi ke selatan Kota Surabaya, dan air dialirkan ke Pulau Madura melalui polder yang dibangun di Selat Madura.
Dengan membuat saluran-saluran utama dari sistem pengairan ini akan diperoleh sarana transportasi sepanjang 385 kilometer. Seluruh wilayah dari Serang ke Pemalang akan menjadi suatu wilayah pengairan, sambung-menyambung, seluas 517.240 kilometer persegi.
Untuk mendapatkan air, wilayah dari Serang sampai Pemalang akan dipasok dari 15 sungai yang ada dari Kali Ciujung di barat hingga Kali Rambut di ujung timur di Kota Pemalang.
Untuk memasok air, perlu dibangun waduk-waduk besar sebagai tempat menyimpan air, yaitu tiga waduk di sepanjang aliran Kali Citarum, yaitu Jatiluhur, Waduk Saguling, dan Waduk Cirata. Di Kali Cisanggarang dibuat Waduk Darma dan Waduk Malahayu di Kali Kabuyutan.
Dengan gagasan itu, antara Cirebon dan Batavia (baca: Jakarta) sepanjang 250 kilometer dapat dilayari oleh kapal-kapal bermuatan mulai dari 300 ton hingga 500 ton.
Wujud kapal yang di Belanda dikenal dengan nama Kempenaar dengan ukuran 55 x 6,6 x 2,35 meter kubik (550 ton) ditetapkan sebagai ukuran kapal terbesar. Pintu-pintu kapal akan berukuran lebar 7 meter, panjang 55 meter, dan memerlukan kedalaman air pada keadaan rendah sedalam 2,50 meter.
Waktu Blommenstein memberikan uraiannya pada tahun 1949, Waduk Cacaban di selatan Tegal belum dibangun.
Gagasan Blommenstein, ahli hidrologi kelahiran Hindia Belanda (Indonesia) dan lulusan Technische Hooge School (ITB), ini patut diberikan apresiasi. Jika gagasan ini bisa diterapkan—tentu dengan beberapa modifikasi—maka akan dapat diperoleh beberapa manfaat.
Pada musim kemarau, kondisi kekeringan yang selalu melanda Pulau Jawa akan dapat dikurangi dengan tersedianya pasokan air yang cukup.
Selain itu, dengan adanya kanal-kanal ini, maka dapat memaksimalkan keberadaan Kali Serayu, Kali Progo, Bengawan Solo, dan Kali Berantas yang selama ini peranannya untuk pertanian masih sangat sedikit.
Pada musim hujan, banjir yang selalu melanda Pulau Jawa dapat dikurangi karena air dapat ditampung melalui waduk-waduk yang ada, kemudian pengaliran diatur melalui kanal-kanal buatan dan sungai alam sehingga debit air dapat diatur. Hal ini juga dapat mengamankan abrasi di pantai utara Jawa.
Keuntungan ketiga, jika selama ini orientasi pembangunan selalu tercurah pada pembangunan angkutan darat dengan membangun jalan tol yang telah mengubah tata guna tanah menjadi tidak produktif bagi sektor pertanian, maka adanya pembangunan kanal dapat digunakan sebagai sarana transportasi air yang murah.
Keempat, kalau di Bangkok dapat dikembangkan wisata air di tengah kota, dengan adanya kanal ini dapat dikembangkan wisata air di tengah pulau.
Gagasan Blommenstein ini merupakan gagasan yang sangat menarik untuk dikaji.
Kita menunggu gagasan dan karya ahli hidrologi Indonesia untuk membangun sistem tata air yang komprehensif sehingga manfaatnya dapat digunakan secara maksimal oleh rakyat.
Restu Gunawan Pegawai Departemen Budpar; Mahasiswa S-3 Sejarah Universitas Indonesia


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke