Regards,
V e r a
Be Happy, Be Mindfull
----- Forwarded Message ----
From: Lenny Hidayat <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 21, 2006 7:27:30 AM
Subject: Tulisanku bagi para aktivis di NTT dan everywhere (Kompas/POS KUPANG)
Artikel ini untuk khusus untuk NTT karena disana begitu banyak masalah dan
korup. masih banyak daerah lainnya. tulisan ini dimuat di POS KUPANG (Anak
KOMPAS). silakan diforward jika berkenan.
Tips:Dan bagi yang mau nulis lagi di media massa, ingat bahwa setiap daerah
berbeda medianya. (kompas di jakarta, kedaulatan rakyat/jawa pos di jawa,
serambi di aceh , kupang pos kupang, banjar ada banjar pos, dst) jadi jangan
pukul rata.
http://www.indomedi a.com/poskup/ 2006/10/21/ edisi21/opini. htm
O P I N I Sabtu : 21 Okt
2006 02:01
Masa jeruk minum jeruk?
(Refleksi untuk para aktivis)
Oleh Lenny Hidayat *
EVALUASI terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla yang mendapatkan rapor merah dalam
area prioritas pengurangan kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan kesehatan,
penciptaan lapangan kerja, perlindungan pekerja migran, serta kesetaraan
jender dan pemberdayaan perempuan (Kompas, ‘Pemerintah Belum Memenuhi
Janjinya’, 18 Oktober
2006) menguak sebuah kenyataan yang memang tidak menggembirakan. Namun perlu
disadari, bahwa perjuangan mengentaskan semua permasalahan tidak hanya berasal
dari pemerintah, tetapi dari lembaga non-pemerintah, donor dan yang terpenting,
setiap individu bangsa Indonesia.
Propinsi Nusa Tenggara Timur juga menjadi sorotan dalam pengentasan
kemiskinan, kesehatan, dan kesetaraan peran perempuan. Sudah banyak lembaga
non-pemerintah yang berdiri guna membantu proses perbaikan sektor-sektor
krusial tadi. Tidak ketinggalan peran dari donor internasional yang berusaha
membantu percepatan proses tersebut. Namun, keberhasilan program-program
bantuan masih jauh dari harapan bahkan perlu perbaikan.
Refleksi terhadap
pendekatan, strategi dan program lembaga non-pemerintah pun yang sudah
mendaulat sebagai katalisator pembangunan dan pemantauan kinerja pemerintah,
perlu dilakukan segera. Bahkan, evaluasi dan monitoring tersebut harus kita
bawa masuk ke dalam institusi dan diri kita sebagai ‘pejuang’ kemanusiaan,
pembangunan, kaum perempuan dan anak, pendidikan, kesehatan, sosial, anti
korupsi, reformasi hukum, desentralisasi dan sebagainya.
Karena itu, perlu diambil tindakan yang seksama dan tindakan nyata
terhadap segala permasalahan yang ada sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Di dalam setiap program perbaikan bangsa perlu diperhatikan langkah-langkah
strategis sebagai hasil pembelajaran kita bersama.
Ubah paradigma orientasi
Sudah tak terhitung
banyaknya program pembangunan dan kemanusiaan yang terus bergulir selama
beberapa dekade. Dulu, mungkin keberadaan lembaga swadaya masyarakat kurang
dikenal dan tidak diakui sebagai sebuah æprofesiö namun sekarang bisa kita
lihat banyaknya iklan pekerjaan ataupun iklan layanan masyarakat yang berasal
dari inisiatif lembaga non-pemerintah. Hal ini menjadi indikator perkembangan
lembaga non-pemerintahù dengan bantuan lembaga donor internasionalù yang
semakin menjamur. Namun, yang perlu diwaspadai adalah pergeseran dari
perjuangan untuk rakyat menjadi perjuangan untuk proyek ataupun untuk donor.
Donor dan proyek adalah saluran kita untuk menyentuh masyarakatbawah yang
membutuhkan. Seharusnya tidak ada satu pun bantuan yang bisa membeli semangat
perjuangan kita untuk berbuat lebih demi rakyat Indonesia. Prinsip ini tentunya
berlaku bagi pemerintah, non-pemerintah, donor, dan rakyat Indonesia untuk
menghindari dikesampingkannya kepentingan rakyat demi uang.
Perkuat monitoring dan evaluasi
Istilah Monev (Monitoring dan Evaluasi) telah menjadi salah satu istilah
yang dikenal di kalangan aktivis dan lembaga non-pemerintah. Sayangnya, metode
Monev tidak memiliki standar baku dan strategis dalam pengimplementasiann ya.
Setiap lembaga non-pemerintah, lembaga swadaya masyarakat lokal, asing, dan
internasional memiliki cara-cara masing-masing guna
memonitor program yang dijalankan atau hibah yang diberikan kepada penerima
hibahùbiasanya LSM lokal.
Adapun cara yang bisa kita pertimbangkan adalah pembuatan alat ukur baik
kuantitatif maupun kualitatif disertai dengan monitor kelembagaan dan lapangan
yang intensif. Misalnya, dengan melakukan monitoring berkala, membuat jaringan
pemantau, melakukan monitoring feedback respons yaitu selama hasil pemantauan
belum memuaskan, program bisa ditunda atau penundaan pencairan dana,
mengalokasikan dari awal anggaran khusus untuk monitoring, atau dengan
penyesuaian jangka waktu program dan tujuan menjadi serealistis mungkin namun
efektif dan efisien. Begitu pula dengan lembaga donor, untuk lebih
memerhatikan volume proyek yang dikerjakan sehingga monitoring bisa terbagi
rata ke semua proyek. Jangan menjadi tukang mikrolet yang cenderung mengejar
setoran, dengan tergesa-gesa sehingga tidak ada pengawasan
yang memadai. Antisipasi ini harus diambil guna mencegah penyelewengan dan
juga penyalahgunaan dana hibah yang didapat dari keringat setiap pembayar
pajak baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah juga harus lebih
terbuka dan responsif terhadap program-program reformasi dengan menunjukkan
kesungguhan dan tindakan nyata bukan sebatas kebijakan dan citra baik di mata
publik tetapi ada yang benar-benar bisa diberikan sebagai pelayanan publik
kepada rakyat.
Sederhanakan bahasa
Banyak program penyadaran publik yang menjadi sia-sia karena penggunaan
bahasa para birokrat dan aktivis sekarang menjadi setinggi langit dan bintang.
Penggunaan jargon dan istilah-istilah asing menjadi begitu marak di kalangan
aktivis, seolah-olah menjadi ajang pamer pengetahuan istilah yang sebenarnya
telah menjadi bumerang
dalam pergerakan untuk mengubah perilaku masyarakat. Masyarakat memerlukan
program penyadaran yang membumi, dengan saluran yang membumi, dan bahasa yang
membumi. Bukan dengan penayangan iklan layanan masyarakat yang salah tempat,
salah konteks, dan salah pesan. Hal-hal seperti ini harus kita perhatikan demi
perkembangan program penyadaran publik yang lebih efektif dan efisien.
Penggunaan bahasa dan istilah harus lebih disesuaikan dengan konteks dan
sasaran.
Sinergi antar pemangku kepentingan
Sudah merupakan rahasia umum, jika ada pengumuman tentang kinerja
pemerintah atau kritisi aktivis terhadap kebijakan pemerintah. Pemerintah
cenderung mundur ataupun bersikap apatis. Hal ini keliru. Seharusnya dilihat
sebagai sebuah masukan yang konstruktif dan strategis untuk ruang perbaikan.
Begitu pula dengan
aktivis, jika ada ketimpangan ataupun pelanggaran, maka seharusnya kita tetap
berjuang untuk memperbaikinya bukan malah berseberangan dengan pemerintah.
Perubahan hanya bisa dilakukan bersama, tidak sendirian. Pemikiran yang
memisahkan cenderung kuno, sempit, dan tidak laku di pasaran alias jadul
(jaman dulu).
Akan menjadi ironi jika kita menyebut diri kita sebagai aktivis jika
kita berkhianat dari jiwa perjuangan yang kita usung yaitu kebenaran. Akan
terasa lucu jika kita mengkritisi orang lain tidak profesional dan tidak
menghasilkan program dengan kualitas bagus, padahal yang kita pikirkan
hanyalah sebatas nilai proyek yang didapat. Akan lebih lucu lagi, jika kita
ingin menghapus korupsi tetapi ternyata diri kita sendiri adalah koruptor.
Yang paling tidak lucu adalah pada saat kita menyatakan diri kita sebagai
pekerja kemanusiaan tetapi yang terjadi di lapangan adalah penindasan dan
pemerkosaan
terhadap korban terutama kaum perempuan, anak dan kelompok marginal.
Perubahan paradigma akan semua lini harus diubah menjadi berorientasi
kepada rakyat. Karena misalnya saja jika para ‘pejuang’ anti korupsi saja jadi
koruptor maka istilah yang digunakan Joshua sangat relevan di sini. Masa jeruk
minum jeruk? Benar-benar memalukan!
*) Penulis adalah Asisten Pelaporan Proyek
Unit Monitoring dan Evaluasi
Partnership for Governance Reform
Alumni Komunikasi Massa
FISIP UI
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail. yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/