LOJONG : Melatih PikiranH.H. Dalai Lama Diterjemahkan oleh : Hendy
Hanusin Promosi Nilai-Nilai KemanusiaanWalaupun kenyataannya pengalaman-pengalaman saya tidak ada yang sangat spesial, hanya seperti manusia biasa, saya pikir bahwa latihan Buddhis saya telah memberikan saya beberapa pengalaman yang sangat menolong untuk diingat dalam hidup sehari-hari. Saya bahagia untuk berkesempatan membagi beberapa darinya dengan anda. Saya percaya bahwa semua manusia adalah sama hakikatnya, secara mental dan emosional. Kita semua mempunyai potensi untuk menjadi orang-orang yang bahagia dan baik, dan kita juga mempunyai potensi untuk menjadi jahat dan mencelakakan. Saya percaya bahwa potensi untuk semua hal ini berada dalam diri kita. Hal penting adalah mencoba mempromosikan aspek-aspek positif dan berguna dalam setiap diri kita dan mencoba mengurangi hal-hal negatif. Walaupun aspek-aspek negatif mungkin kadang-kadang memberikan beberapa kepuasan jangka pendek, dalam jangka panjang mereka akan selalu memberi kita kesengsaraan. Hal-hal positif selalu memberi kita kekuatan batin. Dengan kekuatan batin kita mempunyai ketakutan yang berkurang dan percaya diri yang lebih besar, dan itu menjadi lebih mudah untuk memperluas rasa peduli kita pada makhluk hidup lain tanpa rintangan apapun, apakah agama, budaya, atau yang lain. Sangatlah penting untuk mengenali potensi ini baik untuk kebaikan dan keburukan, dan kemudian mengamati dan menganalisa dengan hati-hati. Inilah apa yang saya sebut promosi nilai-nilai kemanusiaan. Kepedulian utama saya adalah bagaimana mempromosikan sebuah pemahaman dari nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam. Nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam ini adalah welas asih, kepedulian, dan komitmen. Kualitas-kualitas dasar manusia ini sangat penting apakah anda seorang yang percaya atau bukan, dan tidak masalah apa agama anda. Tanpa mereka anda tidak dapat bahagia. Beberapa orang mempunyai pembawaan mental keyakinan religius. Memakai keyakinan religius untuk mempromosikan nilai-nilai dasar kemanusiaan ini adalah sesuatu yang sangat positif. Agama-agama utama dunia secara mendasar mempunyai pesan yang sama: cinta kasih, welas asih, dan memaafkan. Cara masing-masing tradisi religius mempromosikan hal ini berbeda. Tapi karena mereka mempunyai sedikit banyak tujuan yang samahidup lebih bahagia, menjadi orang yang lebih welas asih, dan menciptakan dunia yang lebih welas asihmetode-metode mereka tidak merupakan masalah. Pencapaian mutlak adalah yang penting. Semua agama-agama utama dunia mempunyai potensi yang sama untuk menolong manusia. Karena pembawaan mental yang bervariasi dari manusia, maka logis bila kita membutuhkan agama-agama yang berbeda. Keragaman itu bermanfaat. Keharmonisan di antara tradisi-tradisi religius yang berbeda adalah hal penting lainnya. Inilah mengapa saya selalu berusaha mempromosikan keharmonisan religius. Sekarang saya akan mendiskusikan Buddha Dharma, memfokuskan pada literatur Buddhis tertentu, Delapan Bait untuk Melatih Pikiran (Lojong Tsik Gyema). Ini tidak berarti bahwa saya mencoba untuk mempromosikan atau propaganda Agama Buddha. Motivasi saya jelas; bila anda memeriksa bertahun-tahun aktivitas kegiatan saya, anda dapat menilai apakah saya berbohong atau berkata kebenaran. Pertama kali, saya merasa bahwa belajar dari tradisi religius lain kadang-kadang sangat bermanfaat. Kecuali kita tahu nilai-nilai tradisi lain, sangat sulit untuk mengembangkan sikap hormat pada mereka. Saling menghormati adalah pondasi untuk keharmonisan sejati. Kita seharusnya berjuang untuk semangat keharmonisan, bukan untuk alasan politis atau ekonomis, tapi karena kita hanya menyadari nilai-nilai tradisi lain. Beberapa saudara laki-laki dan perempuan Kristen saya, baik itu biarawan dan umat awam, telah memberitahu saya bahwa mereka memakai teknik-teknik dan metode-metode Buddhis untuk mengembangkan welas asih mereka dan bahkan keyakinan mereka. Mereka telah mengadopsi beberapa teknik dan ide-ide Buddhis dalam praktek latihan mereka ketika saat bersamaan tetap memegang agama mereka sendiri. Saya selalu memberitahu teman-teman barat saya paling baik untuk memegang tradisi anda sendiri. Pindah agama tidak gampang dan kadang-kadang menimbulkan kebingungan. Namun demikian, saya ingin mengatakan sesuatu pada individu-individu yang benar-benar merasa pendekatan Buddhis lebih efektif dan lebih cocok untuk pembawaan mental mereka. Tolong berpikir dengan hati-hatisekali anda benar-benar yakin bahwa Agama Buddha adalah tepat untuk anda, maka itulah hak anda untuk mengikutinya. Hal penting untuk diingat adalah: kadang-kadang orang-orang bersikap kritis terhadap agama atau tradisi terdahulu mereka hanya untuk membenarkan kepindahan keyakinan mereka. Inilah yang harus anda hindari. Agama terdahulu anda mungkin tidak lagi efektif bagi anda, tapi itu tidak berarti tidak berguna bagi kemanusiaan. Dalam mengenali cara pandang dan hak-hak orang lain, dan nilai-nilai tradisi mereka, anda harus menghormati agama terdahulu anda. Saya pikir ini sangat penting. ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
- [Dharmajala] Melatih Pikiran (2) Ekayana
- Re: [Dharmajala] Melatih Pikiran (2) Cynthia Widjaja
