| Kompas, Senin, 30 Oktober 2006 |
| SOSOK DAN BISNIS Muhammad Yunus, Pengemis pun Dipinjami Pengemis mendapat kucuran kredit dan bisa mengembalikannya. Bagaimana bisa? Mungkin begitulah pertanyaan banyak orang. Itu betul-betul nyata. Memang bukan di negeri kita ini yang kian banyak pengemisnya, tetapi di Bangladesh yang dilakukan oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus. "Kesalahan terbesar" yang dilakukan bank-bank selama ini karena mereka hanya mau meminjamkan uang atau membuka kran kredit kepada orang yang sudah punya "uang" dalam arti penghasilan dan aset. Coba kita datang ke bank meminjam uang, mana mereka mau tanpa jaminan. Entah berupa surat motor, surat mobil, surat rumah atau tanah, dan lainnya. Pendekanya kita harus punya penghasilan dulu baru bisa dipinjami uang. Artinya, hanya orang
yang punya uang bisa meminjam. Muncullah istilah "bankable", sebuah kata yang sangat menyesakkan bagi mereka yang tak punya uang, tak punya aset untuk dijadikan jaminan (kolateral) kepada bank agar bisa memiliki akses untuk meminjam. Pikiran bankir, pasti hanya orang yang sudah punya penghasilan yang bisa mengembalikan pinjamannya. Kalau pun ada penghasilan, tetapi pinjaman tak dikembalikan, bank bisa menyita aset jaminan kita. Lalu siapalah yang mau meminjamkan orang yang belum punya penghasilan, orang yang miskin, orang yang tak punya aset untuk dijaminkan? Kesalahan cara pandang dan pola berpikir itulah yang hendak "diputar" oleh Muhammad Yunus, yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Ia memang bukan bankir, tetapi seorang profesor ekonomi, yang sesak melihat kemiskinan di negerinya. Belajar dari pengalaman menyalurkan kredit kepada orang miskin melalui Grameen Bank yang dirintisnya sejak tahun 1976, dan telah terbukti mereka tidak mengemplang utang dengan ukuran hampir 99 persen peminjam, yakni golongan orang paling miskin, mengembalikan pinjamannya, maka mulai tahun 2003, Yunus memulai langkah berani, bahkan mungkin sebagian orang akan menyebutnya nekat, merintis penyaluran kredit kepada para genldangan pengemis di Bangladesh. "Pengangguran menjadio pilihan bagi banyak orang miskin di Bangladesh, akibat dampak bencana banjir, perceraian, kematian tulang punggung penghasilan keluarga, cacat dan sebaginya. Dan banyak yang menjadikannya pekerjaan seumur hidupnya," ujar Yunus. Pengemis yang memang banyak jumlahnya (sekitar 70 persen dari total 15... penduduk) di negara itu, tidak terjangkau dengan begitu banyak intervensi pengentasan kemiskinan.
Program yang dinamai The Struggling (Beggar) Members Program" merupakan inisiatif yang diambil Grameen Bank untuk kampanye berkelanjutan pengentasan kemiskinan, namun program yang sudah ada sebelumnya, yakni program kredit mikro kepada kebanyakan wanita, tidak bisa diterapkan kepada para pengemis itu. Tetapi prinsip Yunus dan Grameen Bank-nya, kredit seharusnya dipahami sebagai hak asasi manusia. Kuncinya, program ini memang unik, sebab bahkan "memangkas" kebiasaan dan "memotong" regulasi aturan yang telah berlaku untuk anggota reguler (regular members), sebutan bagi nasabah kredit mikro. Karena itu pula, para anggota pengemis tidak disyaratkan memenuhi aturan pemberian kredit mikro. Meski pengemis itu berapiliasi dengan grup anggota reguler, mereka tidak berkewajiban hadir setiap rapat yang diselenggarakan sekali seminggu oleh Grameen
Bank. Akan tetapi, anggota grup reguler, bertindak sebagai mentor bagi anggota pengemis, dengan menyediakan petunjuk pelaksanaan dan dukungan bagi mereka. "Bank memperlakukan angota pengemis dengan perlakuan dan perhatian yang sama dengan anggota reguler dan anggota reguler diwanti-wanti untuk tidak menggunakan istilah pengemis yang secara sosial berkonotasi kuarng baik," kata Yunus. Karena itulah, tipikal pinjaman yang diberikan memang "sungguh sangat kecil sekali", hanya Tk 500 (9 dollar). Pinjaman itu tidak memerlukan kolateral atau agunan, dan sama sekali tidak dikenakan suku bunga. Pembayaran kembali dari pengemis itu pun sangat fleksibel, yang diputuskan sendiri oleh penerimanya. Pembayaran pinjaman akan dibayar sesuai kemampuan meraih keuntungan mereka. Suatu hal
yang paling ditekankan, pinjaman itu tidak dibayar dari uang hasil mengemis. Artinya, dengan cara seperti itu, mereka memang harus berusaha lepas dari pekerjaan mengemis. Kalau begitu, pengemis berkurang? Ya.... "Tujuan program ini bukan hanya memberdayakan secara ekonomi, tetapi juga mengangkat moral dan harga diri para pengemis itu," ujar Yunus. Oleh karena itu, para pengemis penerima pinjaman dari Grameen Bank diberi identitas atau tanda pengenal yang berlogo Grameen Bank untuk menunjukkan bahwa dukungan Grameen Bank berada di belakang mereka. Bank membuat perjanjian dengan toko-toko lokal untuk memberi para pengemis itu saluran akses (credit line) sehingga para pengemis itu dapat mengambil barang senilai batas yang ditentukan untuk dijual di desanya. Dengan demikian, para pengemis tersebut dapat menjual berbagai macam barang, seperti
roti, permen, mainan, dan sebagainya. Sementara Grameen Bank menyediakan jaminan kepada toko-toko itu, untuk membayarnya sekiranya para pengemis itu gagal bayar. Sekiranya mereka mampu menabung, tentu saja lebih baik. Mereka pun dilindungi dengan skim arusansi kredit, yang akan dibayar sepenuhnya oleh Grameen Bank manakala si penerimakredit meninggal. Sekitar 500 taka akan disediakan Emergency Fund yang dibentuk Grameen Bank untuk biaya penguburan bagi mereka yang mengalami kematian keluarga. Menurut Yunus dalam salah satu makalahnya, para pengemis itu disediakan berbagai hadiah bagi mereka yang membayar kembali kreditnya. "Meskpiun tidak ada kewajiban (semacam aturan tertulis) untuk keluar dari pekerjaan mengemis, namun dalam banyak kasus di antara mereka yang justru
meraih peningkatan status, menjadi pengusaha," kata Yunus. |
Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
