Penuntun Jalan Kehidupan Bodhisatwa

Tib. J'ang-chub Sem-pa'i C'od-pa Nyid Jug-pa Zhug-so
Sanks. Bodhicharyavatara

Maha Guru India, Shantideva

Komentar oleh : Dzongsar Jamyang Kyentse Rinpoche

Transkriptor, Translator, & Penyelarasan Fonetik Bahasa Tibet : Junaidi
Naskah Bahasa Tibet berasal dari Sherig Parkhang, Library of Tibetan Works & Archives
Semua kesalahan adalah murni akibat ketidak-telitian transkriptor, translator, & penyelaras fonetik.


Sedikit kisah tentang Shantideva, Ia adalah pelajar di Universitas Nalanda, teman-temannya sangat meremehkannya, karena ia selalu menyebut Shantideva sebagai bhusuku, ini bahasa sansekerta yang yang artinya seseorang yang hanya makan, tidur, dan buang air besar! Yah kira-kira begitulah terjemahanya, tidak lebih dari itu, ia tampak seperti orang malas, tidak semangat, tapi sesungguhnya ia adalah seorang pangeran, ayahnya meninggal dan secara alami ia harus naik tahta menjadi raja, satu malam sebelum ia naik tahta, ibunya memandikannya dengan air panas, air itu sangat panas, jadi ia protes, ibunya yang merupakan seseorang praktisi atau penganut taat, seorang bodhisatwa, ibunya bilang, “jika engkau berpikir air ini panas, mulai besok setelah engkau menjadi raja, semua kemudahan duniawi yang disebut sebagai kenikmatan akan lebih menyakitkan, lebih panas daripada ini”; ini membuat Shantideva sangat shok. Malam itu ia tidur dan dalam mimpinya muncul Manjushri, Arya Manjushri duduk di tahta yang seharusnya ia duduki pada keesokan harinya, Arya Manjushri bilang, “Ini tahtaku, saya mendengar bahwa engkau ingin duduk di tahta ini besok, anda tidak boleh melakukannya,” Ia terbangun, dan seketika itu juga ia kabur dari istana, kemudian ia dikenal sebagai Shantideva.

Di universitas Nalanda, semua pelajar di sana menganggap dia adalah orang yang sangat tidak tahu malu, karena ia tidak melakukan terlalu banyak hal atau terlalu buruk, lantas para teman pelajar di Nalanda memikirkan cara untuk mengusirnya keluar dari Universitas, mereka sepakat untuk mempermalukannya, sebagaimana kebiasaan di Universitas Nalanda, setiap orang secara bergiliran memberikan upacara untuk Raja India, Ratu, para orang kaya, dan sebagainya, tiba-tiba mereka menunjuk Shantideva secara mendadak tanpa memberikan kesempatan untuk bersiap-siap, mereka bilang, “Sekarang giliranmu!” Semua orang sudah yakin Shantideva akan gagal, dia akan membuat dirinya malu dan kabur, tapi ternyata tidak! Keesokan harinya, ia disediakan sebuah tahta yang sangat tinggi, entah bagaimana ia bisa naik ke atas tahta dan melantunkan syair-syair ini, ketika masuk ke bab 9, tiba-tiba Shantideva telah menghilang, ia menunjukkan kekuatan batinya dengan cara membuat dirinya menghilang.

Di kemudian hari para terpelajar tinggi Nalanda menyadari bahwa ia bukan hanya seorang cendekiawan hebat, ia juga seorang yang telah mencapai tingkat kesucian tinggi, semua terpelajar ini memohonya untuk kembali ke Nalanda dan memberikan pelajaran Dharma, namun ia menolak, kemudian para terpelajar Nalanda bilang, kalau tidak bersedia pulang ke Nalanda, minimal; barangkali anda menulis buku, Shantideva bilang, “Sebetulnya saya tidak menulis apapun, tapi ketika saya di Sel Nalanda, banyak bolong-bolong, banyak angin yang berhembus masuk kamarku, untuk mengutupi lubang-lubang itu, saya mengulung kertas-kertas, dalam gulungan kertas penyumbat lubang itu, saya banyak menulis syair-syair itu, oyah, juga di dinding”, sebetulnya ini mirip sejenis karya 'grafiti' (lukisan yang sangat kasar pada tembok atau batu) atau 'scrabble' (oret-oretan tak jelas, sangking cepatnya melukis atau menulis, sehingga tidak banyak mencurahkan perhatian pada isinya), tahu tidak, ternyata itu semua merupakan koleksi-koleksi naskah-naskah sangat luar biasa, jika anda adalah seorang pegikut Buddhisme Mahayana, anda wajib membacanya!

Naskah ini terbagi atas sepuluh bab, tiga bab pertama didedikasikan untuk membangkitkan bodhicitta bagi mereka yang tidak memiliki bodhicitta, demi untuk membangkitkan bodhicitta ada tiga bab. Tiga bab selanjutnya, didedikasikan untuk melestarikan atau mempertahankan bodhicitta. Tiga bab selanjutnya didedikasikan untuk Melatih dan melipat-gandakan jalur latihan ini yakni Bodhicitta, dan Bab terakhir adalah Dedikasi, okeh!!

Jadi Bab Pertama disebut j'angchub sempa'i penyon, Manfaat Bodhicitta, Keunggulan Bodhicitta.

Hormat kepada semua Buddha dan Bodhisatwa, di sini ada dua kali penghormatan, naskah anda dengan saya sama atau tidak? Lihat, ada 2 kali penghormatan, Penghormatan pertama kepada semua Buddha dan Bodhisatwa, penghormatan ini tidak ditulis oleh Shantideva, ini bukan naskah asli, sesungguhnya penghormatan ini dibuat oleh penerjemah, bukan penerjemah inggris yah! Penerjemah Tibetan yang menerjemahkan naskah ini dari dari Sanskrit; pada saat itu Raja Tibet Trisong Dretsen meminta semua penerjemah untuk memisahkan hasil terjemahan dalam tiga kelompok agar mudah mengidentifikasi naskah buddhis, semua pelajaran dharma yang berkaitan dengan kebijaksanaan disatukan dalam kelompok Abidharma, pelajaran dharma yang berkaitan dengan meditasi disatukan dalam kelompok sutra, semua pelajaran dharma yang berkaitan dengan disiplin disatukan dalam kelompok Vinaya.

Titik berat naskah ini adalah pada latihan meditasi, dan sebagainya, sehingga naskah ini dikelompokkan dalam Sutra, tentu saja ini sebuah karya Sastra. Raja Tibet mengintruksikan semua penerjemah untuk mengidentifikasi setiap naskah dengan 3 jenis penghormatan yang berbeda-beda, untuk kategori sutra, Penerjemah harus memberi penghormatan kepada Buddha dan Bodhisatwa, untuk Abhidharma para penerjemah memberi penghormatan kepada Manjushri, dan untuk Vinaya para penerjemah memberi penghormatan kepada Buddha.

Stanza pertama:
de.sheg.choe.kyi.ku.ngaa.see.cee.dang | ch'ag.oe.kun.la'ang.gue.par.ch'ag.tshal.te |
de.sheg.see.kyi.dom.la.jug.pa.ni | lung.zhin.dor.due.ne.ni.jod.par.j'a |

Kemudian, penghormatan sesungguhnya oleh Shantideva, Hormat kepada mereka yang telah pergi dengan penuh suka cita, kepada mereka yang menemukan Dharma, kepada semua yang patut diberi penghormatan, Aku bersujud.

Ini bisa menjadi sangat panjang, bahkan berhari-hari, karena maha guru seperti Shantideva, dia cendekiawan hebat, tidak hanya dalam filosofi tapi juga dalam membuat karya, sebagaimana anda tahu bahwa para cendekiawan India memiliki kemahiran menulis sedemikian bagus, memberikan banyak efek, contoh saja, 'Hormat kepada mereka yang telah pergi dengan penuh suka cita', sebetulnya ia merujuk kepada Buddha, selain itu satu kalimat itu juga memiliki makna yang sangat luas sekali, bisa juga diartikan dalam bentuk sarkasme, sedikit sarkasme, siapa yang menjadi obyek sarkasme? Sarkasme terhadap mereka yang tidak mengikuti Buddhisme, jika agamamu atau jalur latihanmu tidak berorientasi pada kebenaran sejati, maksudnya, anda memiliki Tuhan (God) yang tinggal ditempat tertentu, Ia mendikte kehidupanmu, anda harus menyanjungnya, anda harus membuat Ia senang agar bisa pergi ke Surga, tentu saja itu bukan jalur suka cita, karena anda bertekuk lutut di bawah kakinya.

Jalur buddhisme merupakan jalur penuh suka cita karena diberikan oleh Buddha yang menjelaskan segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal, setelah anda menganalisanya anda akan menuai kesimpulan bahwa dengan merealisasikan segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal, tanpa harus mengorbankan apapun, tanpa harus secara terpaksa harus bertekuk lutut dihadapan seseorang, anda bisa mengaktualisasi kebenaran sejati seperti ini, dengan mengaktualisasi kebenaran sejati itu, sesungguhnya anda mengaktualisasikan suka cita.

Jadi seperti yang saya sebutkan tadi, setiap syair bisa dijelaskan dengan beribu-ribu cara, tapi bagi kita, pada kesempatan ini adalah mengerti tentang Bodhicitta, oleh karena itu kita akan mengkonsentrasikan pada tujuan itu. Jadi kita tidak akan memperdalam kata demi kata, saya cuman mau menunjukkan sedikit saja, ingat bukan ilmu saya yah, saya tidak punya apapun, saya cuman menunjukkan karya cendekiawan agung Mahayana, ya mereka sedikit mirip Shakespeare pada jaman itu, bahkan sampai saat ini, “Kepada mereka yang patut atau pantas di beri hormat”, sunguh luar biasa kata-kata seperti itu, syair itu seolah-olah bilang seperti ini, Buddha dan Sangha telah layak menerima penghormatan dari saya, bukan karena mereka adalah Yang Maha Kuasa, mengapa para Buddha dan Bodhisatwa selalu begitu agung dan kita selalu sebaliknya, kita buruk sekali, oleh karena itulah kita wajib memberi hormat kepada mereka, itulah sebabnya mereka layak mendapatkan penghormatan, kebajikan yang membuat mereka layak diberi penghormatan, lihatlah, setiap suka kata, setiap ungkapan adalah sanjungan, menunjukkan kepada kita kenyataan sesungguhnya, dan ada sedikit sarkasme terhadap mereka yang melalui jalur-jalur kecil, anda akan mendengarkan hal demikian sepanjang bab kesembilan.

Pada dasarnya, Ia memberikan penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, mengambil sumpah dan kemudian ia menjelaskan bagaimana masuk ke dalam disiplin bodhisatwa.

Stanza kedua:
ngon.chad.ma.j'ung.wa.yang.dir.jod.med | deb.j'or.khe.pa'ang.dag.la.yod.min.te |
de.ch'ir.zhun.don.sem.pa.dag.la.med | rang.gi.yid.la.gom.ch'ir.nge.di.tsam |

“Apa yang harus saya jelaskan sudah dijelaskan sebelumnya”, indah sekali, Shantideva sangat rendah hati, Shantideva bilang, lihatlah saya bukanlah sang orisinil yang menemukan ini, ia tidak mengklaim bahwa ini adalah ide murni darinya, tahukah anda praktik kerendahan hati Mahayana? Oleh sebab itu ia bilang, “Semuanya sudah dijelaskan sebelumnya”, “Saya tidak mahir dalam menggunakan kata-kata indah”, oleh karena ia tidak mau mengklaim diri sebagai Bodhisatwa agung yang semua tindakannya bisa memberi manfaat kepada semua makhluk, ia tidak mau mengklaim seperti itu, “Cara saya menulis ini hanya untuk memperpanjang pemahaman saya tentang jalur praktik bodhisatwa”, sangat rendah hati.

Stanza ketiga:
ge.wa.gom.ch'ir.dag.gi.ded.pai.shug | di.dag.gie.kyang.re.zhig.phel.gyur.la |
dag.dang.kul.wa.nyam.pa.zhun.gyie.kying | cin.te.di.dag.thong.na.don.yod.gyur |

“Saya tidak pintar, juga tidak mahir dalam memilih kata-kata indah, dan semua ini sudah pernah dijelaskan sebelumnya, jadi saya tidak punya harapan besar bahwa syair ini bisa membantu semua orang, namun saya menulis ini untuk diri saya sendiri untuk memperdalam pemahaman saya sendiri atas praktik di jalur bodhisatwa, namun mereka yang berpikir seperti apa yang saya pikirkan akan ikut menerima manfaatnya” mereka yang memiliki kapasitas sama dengan Shantideva, memiliki harapan, aspirasi sama, untuk mereka akan memberi manfaat. Jadi ini baru saja awal dari Penuntun Jalan Kehidupan Bodhisatwa.

Stanza keempat:
dal.j'or.di.ni.nyed.par.shin.tu.kaa | kyee.bui.don.drub.thob.par.gyur.pa.la|
gal.te.di.la.phen.pa|na.drub.na|ch'ie.di.yang.dag.j'or.par.ga.la.gyur |

“Sungguh sulit untuk menemukan kedamaian dan kediaman seperti ini”, banyak cara untuk mengerti syair ini, mari bicara tentang Shantideva, ingat tidak bahwa ia kabur diam-diam dari istana, padahal besok sudah harus dinobatkan menjadi seorang raja, ia bahkan tidak tertarik sama posisi raja, ia bilang kehidupan duniawi tidak damai, kedamaian tidak akan bisa anda peroleh dari kehidupan duniawi, oleh karena itu kekayaan dalam bentuk rasa puas, kekayaan dalam bentuk kesederhanaan, tidak ada disitu, ketika ia berada di Nalanda, ia rileks, bersentuhan dengan hal-hal seperti ini, meditasi, hidup total dalam bentuk kesederhanaan, sangat banyak sekali waktu demikian sampai orang lain juga tidak tahu, sehingga orang lain memberi ia julukan, walau demikian, ia sangat menikmati kehidupan seperti itu, barangkali inilah yang akan dikatakan Shantideva, “Sungguh sulit untuk menemukan kedamaian dan kediaman seperti ini, kelahiran sebagai manusia sangat sulit diperoleh, sekarang saya sudah memperolehnya dan saya tidak mau gagal untuk mengarahkan kehidupan ini menjadi kehidupan yang bermanfaat, bagaimana mungkin saya mengabaikan waktu seperti ini”

Kondisi kita bagaimana? Contoh saja tadi pagi, atau akhir minggu ini anda telah mengorbankan banyak hal, padahal anda banyak kerjaan yang harus dibereskan, terutama di vihara, semua hal-hal menakjubkan, tapi anda mengorbakan semua itu, anda datang ke sini dengan ambisi besar, kegelisahan, harapan, ketakutan karena harus berjuang dalam dunia yang serba manterialistik ini, bahkan hanya untuk satu kali akhir minggu saja, bahkan untuk satu kali pagi ini saja, atau satu jam saja, harapan anda, atau bahkan itu bukan harapan, atau hanya keingin-tahuan personal saja, apa itu bodhisatwa? Apa yang mereka lakukan? Apa itu bodhicitta? Keingin-tahuan itu membawa anda kemari, keinginan besar untuk belajar tentang apa sih yang dilakukan oleh para bodhisatwa agung itu, mungkin anda hanya tertarik sedikit saja, diantara anda barangkali ada yang tertarik dan ingin menjadi pejuang, sungguh itu adalah pikiran bajik, pikiran bajik seperti ini adalah sejenis kekayaan, dan anda memiliki itu, dari pukul 10 sampai 12, anda telah memberikan waktumu, inilah kemudahan. Jika saat ini juga kita gagal menjadikan kehidupan ini menjadi suatu kehidupan yang berdaya guna, mungkin kita akan sulit untuk mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.

Stanza selanjutnya (kelima):
ji.tar.tshen.mo.mun.nag.trin.rum.na | log.gyu.ked.cig.war.nang.ton.pa.tar |
da.zhin.sang.gye.thu.yie.gya.lam.na | jig.ten.sod.nam.lo.droe.thang.gaa.j'ung |

Syair ini sangat-sangat terkenal, banyak sekali dikutip oleh para buddhis, bahkan pemikiran jaman modern, saya lupa namanya, kayaknya antropologis dari Perancis, stanza ini sangat terkenal, juga sangat penting, karena seseorang bisa bertanya seperti ini, “Bagaimana mungkin saya bisa menjadi seorang Bodhisatwa? Bagaimana mungkin saya menjadi seorang pejuang? Saya pengecut, penuh dengan sikap negatif, penuh dengan emosi amarah, penuh dengan kesalahan, bagaimana mungkin saya yang sana sini serba kekurangan, dan tak memiliki kebajikan apapun, mana mungkin saya bisa jadi seorang pejuang? ” Bagi mereka yang memiliki cara berpikir demikian, maka stanza ini sangat sangat sempurna buat dia. Ia bilang, “Bagaikan kilat di langit yang menerangi malam, mengusir semua kegelapan, begitu juga melalui kebajikan Buddha, pikiran demikian timbul dan menerangi dunia.”

Betapapun buruknya anda, betapapun bodohnya engkau, kita bagaikan kilat di langit, memang malam selalu gelap, bahkan hanya sedetik saja kilat itu mampu menerangi semuanya, begitu juga walaupun kita bertindak sangat buruk, banyak sekali perbuatan negatif, anda tak mampu menyangkal atau anda sama sekali tidak mungkin bilang bahwa saya tidak pernah memiliki pikiran baik sama sekali selama hidup, bahkan itu hanya seper-sekian detik saja, saya yakin anda pernah, yakin sekali!

Okehlah, mungkin pikiran baik itu termotivasi secara egois, bahkan hanya menolong menjaga bayi orang lain, kesan yang muncul dalam memberi kasih sayang kepada bayi itu, memberi kasih sayang kepada orang lain selain diriku sendiri, bahkan itu anak anda sendiri, itu sudah bagus sekali, ini permulaan yang bagus.

Tahukah anda bahwa kita sangat-sangat mencintai diri kita sendiri? Oleh karena itu banyak kegelapan seperti ketidaktahuan, klesha, dan amarah, tapi dari waktu ke waktu kita masih punya waktu untuk memikirkan orang lain, bahkan anjing yang malang itu, atau makhluk malang mana lagi, saya tidak tahu, mungkin ketika kita melihat pengemis, orang yang sekarat di kursi roda, orang yang menderita penyakit akut, memunculkan perasaan sedih barangkali? Atau depresi? Kehilangan harapan hidup? Tidak masalah, inilah yang disebut oleh Shantideva sebagai kilat di langit di waktu malam gelap gulita, terang sesaat itu mengusir semua kegelapan, ini permulaan bagus sekali!

Ini kabar baik, saya yakin anda pasti pernah punya pikiran seperti ini, bahkan anda menyebut diri anda adalah emanasi dari semua kejahatan, anda tetap memiliki kemampuan untuk mengerti situasi yang sedang dialami orang lain, bahkan itu hanya sebentar saja, pikiran seperti ini bagaikan benih dari Bodhicitta, inilah yang harus kita bajak, inilah yang perlu kita pupuk, tanah, menyiramkan dengan air, dan bodhicitta akan tumbuh berkembang, kemudian daun, bunga bodhicitta akan tumbuh, dan benih ini akan menjadi sumber bagi benih lainnya, untuk membahagiakan semua makhluk.

Kita berbicara kebenaran, kita membicarakan sesuatu yang tidak mungkin, saya sudah bilang tadi, anda bisa melakukannya, dan yakin bahwa paling minimal satu kali dalam kehidupanmu pasti memiliki satu saja pikiran baik. Inilah yang kita butuhkan pada saat ini. Jika kita mampu menjaganya, jadi apa yang dikatakan oleh stanza itu? “Semua orang bisa menjadi bodhisatwa”, semua orang memiliki potensi untuk menjadi bodhisatwa, semua orang memiliki kualifikasi untuk menjadi pejuang, yang anda butuhkan adalah sebuah hati yang baik.



J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. J'ang.chub.sem-pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva


Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke