Tanya - Emansipasi Pria bag 2
 
4.Kenapa masih ada perceraian, masih ada homoseksualitas - dan juga lesbian
Soal perceraian itu tidak bisa dikaitkan dengan dalam dangkalnya nilai penelitian atas pemikiran pria - wanita ini. Masalah utama dari sebuah hubungan adalah sejauh mana individu-individu di dalam hubungan itu bisa meletakkan egonya pada porsinya, atau singkatnya sejauh mana semua pihak bisa saling toleransi dan saling mengisi satu sama lain. Di jaman yang canggih ini anda tentu heran, demikian terbukanya semua informasi, kok malah tingkat perceraian jadi tinggi. Dulu jaman siti nurbaya, pernikahan itu dijodohkan, kenapa lebih sedikit perceraian? Mungkin dalam pemikiran anda itu wanita di jaman itu bodoh dan lemah, mau dijajah para pria, hehehehehe. Dari sisi pengetahuan, mungkin para wanita di jaman siti nurbaya itu lemah, terbelakang, dari sisi toleransi, kesabaran dan sifat keibuannya, wanita di jaman itu justru musti diberkan nilai 100 plus plus plus, coba, seberapa banyak wanita di jaman sekarang bisa meneladani kesabaran para wanita di jaman itu? Tidak banyak bukan? Dan coba anda amati pernikahan-pernikahan yang sukses dan langgeng sampai kakek-nenek, apa tips dan teknik pasangan wanita dari pernikahan yang langgeng itu, apa bukan sabar dan tetap yakin kalau si bapak pulang utuh? Biar sedikit lecet asal pulang dan tidak neko-neko di rumah, ya , nggak pa pa lah, nah, loh! Apa anda mau mengikuti saran itu?
 
Tapi anda jangan salah sangka, loh. Saya bukan ingin menyarankan anda agar mau membiarkan suami anda itu selingkuh atau semacamnya tanpa anda protes, hmm tidak juga,  dan ibu-ibu bijak yang mengatakan asal pulang utuh itu, juga tidak lah setia dan diam saja kalau si suami itu badung, namun, mereka dengan bijak memahami bagaimana cara memberikan teguran kepada si suami tanpa membuat si suami itu malah jadi kalap dan lalu merusak semuanya. Memang katakanlah itu sebentuk upaya menjaga harga diri si pria agar tidak tersinggung, namun, itu dilakukan dengan pengertian yang mendalam bahwa kalau si wanita dalam pasangan itu tidak berupaya maksimal terlebih dahulu untuk memperbaiki hubungannya dengan cara sedikit mengalah untuk pada akhirnya menang dalam arti si suami sadar dan berhenti berselingkuh, maka pada akhirnya yang merasakan penderitaan adalah anak-anak dan si wanita juga, nah, ndak adilkan. Ya, sih, tapi sebetulnya si pria juga menderita juga dengan perceraian itu, namun seringkali pria bisa menyimpan rasa sakitnya dan mengalihkannya dalam bentuk lain.
 
Secara singkat mungkin saya ingin mengatakan bahwa urusan perceraian itu adalah urusan yang sangat kompleks, selain urusan perbedaan prinsip, soal kematangan kepribadian dan juga soal batas toleransi kedua belah pihak, jadi, masalah yang sangat tidak sederhana itu mestinya tidak semata-mata karena perbedaan pola pikir pria-wanita, tapi juga soal perilaku dan soal kepribadian di antara keduanya.
 
It takes two to tango, but if the tango is not a tango than you should stop the tango and take a look deeply... perhaps the music is not tango, or your hands and legs donot follow your mind, or your couple is not a tango dancer, it that is the case, why not take a break let him/her to learn tango, if not, than perhaps changing the couple is not really a bad idea....
 
Untuk wanita jaman dulu, mungkin mereka memilih tidak bertango atau tidak tango juga nggak pa pa demi anak-anak.... tapi jaman kan beda... jadi.. i dont know.
 
Soal homoseksualitas dan lesbian itu, satu lagi masalah yang sangat kompleks, jadi tidak lah dangkal dan sederhana. Itu umumnya menyangkut trauma masa kecil atau berhubungan dengan pelecehan seksual baik di masa kecil maupun sudah dewasa yang tentunya berhubungan dengan sex sejenis atau lain jenis - perkosaan misalnya- yang dialami oleh mereka-mereka yang terkait dengan itu. Pengaruh lingkungan juga ikut memberikan peran atas homo seksualitas/lesbian ini. Selain itu ada juga penelitian yang menunjukkan adanya kelainan DNA yang dimiliki oleh para pelaku homoseksualitas-lesbian ini, saya lupa itu ada di mana, tapi saya ingat pernah membacanya.
 
5."Seperti apakah wanita di mata pria, dan seperti apa pria di mata wanita. Apa manfaat wanita untuk pria dan apa manfaat pria untuk wanita".
 
Saya tidak tahu mesti menjawab apa atas pertanyaan ini, kenapa, karena jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi sebuah buku tebal yang kira-kira 1000 halaman, dan tentu saja saya tidak sanggup mengerjakannya, plus tidak minat juga. Kenapa? Ya, karena saya mesti masuk dalam setiap jenis pemikiran dari kedua jenis kelamin itu untuk tiap tingkatan pemikiran yang ada di jagad raya ini dan untuk itu saya tidak punya waktu, plus itu adalah pekerjaan yang membosankan, sia-sia dan hanya akan menjadikan saya lelah, sedih, marah, prihatin dan tertawa melihat dunia.
 
Tapi saya bisa memberikan suatu gambaran yang mungkin bisa dipergunakan, entah itu untuk menjadi suatu referensi untuk mengobservasi pemikiran di kedua gender itu atau juga sekedar sebuah wacana saja. Begini:
 
Persepsi atau pemikiran seseorang akan orang lain itu akan sangat bergantung pada kematangan pribadi yang bersangkutan, dan kematangan kepribadian seseorang itu tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti gentis, linkungan tumbuhnya, pendidikan dall. Untuk setiap tingkatan pemikiran atau tingkatan persepsi, setiap pria yang anda temukan berada di tingkatan itu, anda juga akan bisa menemukan wanita dengan tingkatan pemikiran yang sama, pola dan bentuk pemikiran di antara kedua jenis kelamin itu sangat mirip dan yang membedakannya hanya rasa ke pria annya atau rasa ke wanitaannya. Titik tolak dan bentuknya persis sama.
 
Masalahnya apakah anda bisa menemukannya apa tidak, tentu itu urusan anda, dong. Dan kalau anda bertanya, apa saya sudah membuktikannya? Hehehehe, ya, kalau anda menganggap saya itu asal ngomong, sih, ya boleh saja, tapi kalau anda percaya, itu juga urusan anda. Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan apa yang saya tahu, masalah kalau tahunya saya itu dari mana, tentu itu masalah lain, hehehe. Seingat saya itu ada dibuku mana yah....? hehehe, lupa.
 
Awalnya saya ingin mengambil contoh pola pikir abang tukang beca dengan mbok-mbok jamu atau para ibu-ibu pembantu, tapi saya lalu teringat bahwa di antara mereka itu, juga banyak yang pemikirannya itu luas dan bijak, bahkan bisa saja mereka jauh lebih bijak dari saya, dan anda, mungkin, jadi saya membatalkannya dan sekedar menuliskannya seperti bentukan di atas itu. Terlebih lagi sering saya menemukan bahwa seseorang yang parlente, berpendidikan tinggi, tapi tingkat kematangan pribadinya dan kematangan emosionalnya tidak lebih tinggi dari para tukang ojek atau abang beca di beberapa tempat yang pernah saya temui, apa lagi dengan abang beca yang saya katakan telah matang pribadinya dan bahkan menjadi guru salah satu cabang spiritual, hehehe, ya jauh lah.
 
Sebagai kesimpulan untuk pertanyaan seperti apakah wanita di mata pria dan sebaliknya, serta apa manfaat pria terhadap wanita dan sebaliknya, jawaban saya adalah "Itu tergantung kepada siapa si prianya dan siapa si wanitanya." :D
 
6.Sebagai pertanyaan akhir atau kesimpulan dari pertanyaannya, si sahabat ini mengatakan dia ingin meminta pendapat saya akan pemikiran pria terhadap wanita, segala jenis wanita. Dia bisa mengerti kalau saya tidak mau menjawab karena ini proyek pribadi, untuk memuaskan ego pribadinya.
 
Pertanyaan ini sudah saya jawab seperti di atas dan saran saya kepada si penanya ini, lebih rajinlah membaca dan lebih rajinlah mengamati, lalu belajarlah mengerti dan kemudian memahami apa yang anda baca dan amati. mengambil kesimpulannya, nanti saja, deh...
 
salam
sjw.


Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]


Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited Try it today. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke